Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS KESESUAIAN EKOWISATA MANCING DAN BERENANG DI BENDUNGAN SEMTU DISTRIK AYAMARU TENGAH KABUPATEN MAYBRAT NAA, APOLOS; Marasabessy, Ilham; Badarudin, M. Iksan; Hitalessy, Reiner B.
INTEGRATED OF FISHERIES SCIENCE Vol 3 No 1 (2024): JANUARI-JUNI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian, Universitas Kristen Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56942/ifs.v3i1.302

Abstract

Indonesia memiliki lebih dari 500 danau dengan luas keseluruhan lebih dari 5.000km atau sekitar 0,25% dari luasan daratan Indonesia. Salah satu dari 500 danau tersebut yaitu Danau Ayamaru yang sudah di buat menjadi Bendungan Semtu yang terletak di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat dan menjadi aset masyarakat dan sumberdaya alam serta berpendapat bagi nelayan, pencegahan banjir dan objek wisata. Untuk mengetahui potensi dan permasalahan di Kawasan wisata Bendungan Semtu, Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat. Untuk mengetahui kesesuaian Kawasan wisata Bendungan Semtu, Distrik Ayamru Tengah, Kabupaten Maybrat. Penelitian dilaksanakan pada bulan November–Desember 2021. Penelitian di laksanakan di Bendungan Semtu, Distrik Ayamaru Tengah Kabupaten Maybrat. Penelitian di bagi menjadi 2 stasiun stasiun 1 di bagian utara Bendungan Semtu dan stasiun 2 di bagian selatan Bendungan Semtu sehinga ke 2 stasiun ini digunakan sebagai tempat penelitian. Kegiatan wisata yang akan dikembangkan hendak di sesuaikan dengan potensi sumberdaya dan peruntukannya. Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai objek wisata yang akan dikembangkan berdasarkan tabel kesesuaian untuk berkemah, mancing dan berenang. Berdasarakan perhitungan kesesuaian ekowisata danau kategori berenang pada stasiun 1 dan 2 di Bendungan Semtu di ketahui masuk dalam nilai sangat sesuai dengan persentase sebesar 83,33%. Sedangkan perhitungan kesesuaian untuk ekowisata mancing di peroleh perbedaan nilai pada ke 2 stasiun yaitu pada stasiun 1 memiliki persentase 60% dan stasiun 2 53,3% berdasarkan data ini dapat di ketahui bahwa peruntukan ekowisata mancing di Bendungan Semtu berada dalam kategori sesuai.
Indeks Sentralitas Masyarakat Pesisir pada Gugus Kepulauan dengan Pusat Layanan Wilayah di Pulau Induk (Studi Kepulauan Arar Kabupaten Sorong Papua Barat Daya) Marasabessy, Ilham; Basri, La; Badarudin, Mohammad Iksan; Bahalwan, Fahriya
Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Vol 7 No 4 (2023): November
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46252/jsai-fpik-unipa.2023.Vol.7.No.4.360

Abstract

The diversity of coastal and marine resources on archipelago can have a significant economic impact if effective regional connectivity is established. The Arar archipelago as a hinterland area integrated with centralland, has high dynamics related to the characteristics and interactions of communities in managing and utilizing natural resources. The research aims to determine the centrality index of the Arar Islands community with regional service centers on the main island using quantitative descriptive methods. Determining the hierarchy of regions and service centers was carried out in situ and elaborated on Sorong Regency and City BPS data, considering the number and type of facilities in the Arar region and surrounding areas to determine the hierarchy of regional centrality. Centrality analysis using the guttmen scale. The area that has the highest interaction with the people of the Arar Islands is Aimas District at 12.26, while Manyamuk District is an area with a productive orientation trend with an index of 6.05, even though it has a relatively low centrality index than Sorong Manoi District at 9.89. This happens because the interactions carried out tend to be related to the distribution of goods and services, work and the process of fulfilling daily life, rather than institutional entertainment and social activities. On the other hand, the employment opportunities provided in the Aimas and Mayamuk areas are in adequate condition and able to support the lives of the community. in the Arar Islands.
ASPEK BIOLOGI DAN STATUS PEMANFAATAN LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU, MALUKU Pane, Andina Ramadhani; Alnanda, Reza; Marasabessy, Ilham; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.85-96

Abstract

Lobster adalah komoditas bernilai tinggi yang di perdagangkan hingga ke mancanegara, bahkan dalam kondisi puerulus. Tingginya permintaan ini memacu peningkatan pemanfaatan sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian populasinya. Kajian ini membahas tentang aspek biologi dan status pemanfaatan yang diharapkan menjadi dasar dalam pengelolaan lobster bambu (Panulirus versicolor) sehingga kelestarian dapat berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan Maret sampai dengan Desember 2020, diperoleh sampel sebanyak 2.040 ekor melalui sentra pendaratan ikan di Dobo, Kepulauan Aru. Penghitungan parameter populasi dilakukan melalui analisis secara analitik. Hasil penelitian diperoleh kisaran panjang karapas antara 45-120 mm, sebanyak 40% diantaranya mempunyai ukuran kurang dari 80 mm. Panjang karapas pertama kali lobster tertangkap (CLc) adalah 85,4 mm dengan panjang asimptotiknya (CL∞) adalah 130,85 mm dan laju pertumbuhan (K) = 0,45 per tahun. Tingkat pemanfaatan lobster sudah mencapai E=0,5, artinya sudah dalam status pemanfaatan penuh (fully exploited). Hal ini menyebabkan pemanfaatan lobster harus dilakukan dengan kehati-hatian dan perlu upaya dalam menjaga kelestariannya. Upaya-upaya yang dapat dilakukan mengendalikan penangkapan baik dari segi alat tangkap, waktu dan lokasi penangkapan. Upaya tersebut diharapkan akan memberikan kesempatan bagi lobster untuk mempertahankan kelestarian populasinya. Lobster is a high-value commodity traded to foreign countries, even their puerile. As the high demand for lobsters increases their exploitation, special measures are imperative to preserve their populations. This study discussed the biological aspects and exploitation status, which are expected to be the basis for managing painted spiny lobster (Panulirus versicolor). Data collection was carried out from March to December 2020, which is 2,040 lobsters collected at the landing center at Dobo, Aru Islands. Analytical methods were used to analyze population parameters. The results showed that the carapace length of lobsters landed was between 45–120 mm, where 40% of them were under 80 mm. Their size at first capture (CLc) was 85.4 mmCL, with asymptotic length (CL∞) was 130.85 mmCL and growth rate (K) was 0.45 per year. Their exploitation rate was E was 0.5 (fully exploited exploitation). Therefore, its exploitation has to be carried out with caution, and special measures are required to maintain its sustainability, i.e., by controlling lobster fishing efforts, including fishing gear, time, and location. Such actions are expected to allow lobsters to preserve the sustainability of their populations.
PARAMETER POPULASI DAN SPAWNING POTENTIAL RATIO (SPR) KEPITING MERAH (Scylla olivacea) DI PERAIRAN ASAHAN DAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Pane, Andina Ramadhani Putri; Kembaren, Duranta Diandria; Marasabessy, Ilham; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.33-43

Abstract

Kepiting bakau merupakan komoditas ekspor yang penangkapannya dilakukan dengan intensif, salah satunya adalah jenis kepiting merah (Scylla olivacea). Pengelolaan dalam pengendalian memerlukan analisa kajian ilmiah tentang ukuran layak tangkap dan spawning potential ratio (SPR) kepiting merah. Kajian ilmiah ini dilakukan terhadap 1.105 ekor kepiting merah di pusat pendaratan kepiting di Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan, Sumatera Utara selama 28 bulan (April-Oktober 2018, Februari- Desember 2019 dan Maret-Desember 2020). Kepiting yang tertangkap memiliki ukuran 65-170 mm dengan 72,2% sudah dewasa dan telah melakukan pemijahan sebelum tertangkap (CWc< CWm). Hasil penelitian diperoleh bahwa kematian akibat penangkapan (F) lebih tinggi dibandingkan kematian alamiah (M), hal ini menunjukkan tingginya tekanan pemanfaatan (E = 0,54%). Nilai spawning potential ratio (SPR) mengalami peningkatan dari tahun 2018 ke tahun 2020 yaitu 11-17% namun masih dibawah nilai minimal 20%, artinya penambahan individu kepiting merah di perairan Asahan setelah ekspolitasi sudah mengalami penurunan sehingga diperlukan upaya dalam pengelolaan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan ukuran mesh size jaring dan bubu serta rehabilitasi hutan mangrove.Mud crabs are export commodities that have been harvested intensively; one of which is the red mud crab (Scylla olivacea). Management in controlling its exploitation requires scientific studies on the analysis of the legal size and the potential spawning ratio (SPR) of the crab. In this scientific study, a total of 1,105 red mud crabs were analyzed at the crab landing center in Silo Baru Village, Silau Laut District, Asahan Regency, North Sumatra for 28 months (April–October 2018, February–December 2019, and March–December 2020). The crabs caught were 65–170 mm in size, where 72.2% of which were already adults and had spawned before being caught (CWc < CWm). The results of this study suggested that the fishing mortality (F) was higher than the natural mortality (M), indicating a high exploitation (E = 0.54%). On the other hand, the potential spawning ratio (SPR) from 2018 to 2020 kept increasing, i.e. 11–17% (below the minimum SPR 20%), indicating that the addition of the individual red mud crabs in Asahan waters after exploitation had decreased. Therefore, several efforts are necessary in its management, among others by increasing the mesh size of the nets and the size of the traps as well as rehabilitating mangrove forests.