Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL FLYWHEEL

STUDY EKSPERIMENTAL PEMANFAATAN SERAT RAMI (BOEMERIA NIVEA) SEBAGAI BAHAN PENGUAT KOMPOSIT POLIMER MATRIK POLISTIREN Rahardjo, Teguh
JURNAL FLYWHEEL Vol 1 No 1 (2008): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v1i1.81

Abstract

Masih dieperlukan material yang mempunyai sifat tertentu dalam aplikasi di industri maka dikembangkan material non logam khususnya dengan penguat serat alam yang bersifat lebih ringan, mudah dibentuk, tahan korosi, harga murah dan memiliki kekuatan yang sama dengan material logam. Salah satu jenis serat alam yang dapat dimanfaatkan sebagai pengisi dalam material komposit adalah rami ( Boemeria Nivea). Serat rami sendiri memiiki karateristik sifat yang sangat baik. Untuk mendapatkan nilai ai lebih, jika serat tersebut digunakan sebagai serat pengisi dalam material komposit.. Spesies rami yang terdapat di Indonesia ada dua, yaitu Boehmeria nivea yang permukaan daunnya berwarna perak, dikenal dengan nama china grass, dan Boehmeria tenacissma dengan permukaan bawah daunnya berwarna hijau dan lebih sempit, dikenal dengan nama rhea. Dari hasil pengujian sifat mekanik maka pada komposit dengan variasi jumlah layer serat diperoleh hasil peningkatan yang optimum pada setiap penambahan jumlah layer serat sampai dengan 3 layer serat, terjadi peningkatan kekuatan tarik sebesar 24,14 % dan peningkatan ketahanan impak sebesar 31,25 %.
PROSES NITRIDING UNTUK PENINGKATAN SIFAT MEKANIK PERMUKAAN MATERIALDIES Rahardjo , Teguh
JURNAL FLYWHEEL Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v1i2.114

Abstract

Suatu material atau logam yang diaplikasikan untuk cetakan lampu dimana pada saat pengecoran mengalami perubahan bentuk seperti melengkung, aus dan mudah korosi sebagai akibat panas (berkisar 1000 – 1300 0C), selain itu juga menyebabkan waktu penggunaan cetakan menjadi singkat (1000 Jam). Salah satu teknik yang digunakan untuk mengatasi hal tersebut diatas maka dilakukan proses nitriding yang bertujuan untuk mengetahui perilaku dan dampak dari material Dies Lampu setelah proses Nitriding terhadap kekerasan, untuk mengetahui karakteristik permukaan dari Dies Lampu setelah proses Nitriding dan untuk mengetahui perbedaan antara material dies lampu sebelum dan setelah diproses nitriding ditinjau dari segi sifat mekanik. Metode nitriding yang dilakukan adalah gas nitriding dalam Fluidised bed dengan media gas oksigen (O2), Nitrogen (N2) dan Amonia (NH3) dengan perbandingan 86 % N2 dan 14 % NH3. dengan variasi waktu proses nitriding yaitu 8 Jam, 10 Jam, dan 12 Jam. Dampak dari proses nitriding yang dilakukan pada material cetakan lampu yang dibentuk berupa spesimen adalah dapat meningkatkan kekerasan permukaan. Karakteristik permukaan setelah proses nitriding adalah terbentuknya kulit atau lapisan nitrida sifat tahan korosi, ketahanan lelah, ketahanan aus abrasive dan adhesive, kekuatan menahan beban, kekerasan yang tinggi dan aplikasi temperatur tinggi yang baik.Kualitas dari material cetakan lampu yang diproses nitriding lebih baik jika dibandingkan dengan sebelum proses nitriding apabila dilihat dari sifat meknik yang dimiliki. Material cetakan lampu dapat diproses nitriding karena mengandung element / unsur paduan yaitu: C=0,24 (%), Mn=0,61%, P=0,011%, Al=0,018%, V=0,01%, Cr=3,44% , dan Mo=0,49%.
PENGARUH PERBANDINGAN GAS NITROGEN DAN LPG PADA PROSES NITROKARBURISING DALAM REAKTOR FLUIDIZED BED TERHADAP SIFAT MEKANIS BAJA KARBON RENDAH Rahardjo, Teguh
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.527

Abstract

Reaktor Fluidized Bed merupakan tungku untuk proses perlakuan panas yang mempunyai fungsi ganda, bisa untuk proses perlakuan panas biasa dan proses perlakuan panas nitrokarburisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik, kekerasan lapisan permukaan, komposisi kimia dan uji/foto makro dari baja karbon rendah setelah dilakukan nitrokarburisasi. Pada proses ini, dalam melakukan pengujian dengan memberikan gas doping yaitu gas Nitrogen dan gas LPG, yang masuk ke dalam tabung reaktor fluidized bed pada temperatur kerja 723 oC. Terdapat 4 perbandingan aliran gas masuk ke dalam reaktor, perbadingan pertama aliran gas Nitrogen 85% dan gas LPG 15%, pada perbadingan kedua aliran gas Nitrogen 80% dan aliran gas LPG 20%, untuk perbadingan ketiga aliran gas Nitrogen 75% dan gas LPG 25%, sedangkan perbandingan keempat aliran gas Nitrogen 70% dan gas LPG 30%. Untuk mengetahui sifat mekanis baja karbon rendah setelah dilakukan proses nitrokarburisasi yaitu dengan melakukan pengujian mekanis, diantaranya pengujian tarik, uji kekerasan mikro (vickers), uji komposisi, dan uji/foto makro. Dari hasil pengujian, hasil uji tarik sebelum perlakuan 57,54 (Kgf/mm2) setelah perlakuan nilai rata-rata 68,20 (Kgf/mm2), untuk hasil pengujian kekerasan sebelum perlakuan 275 (HRV) dan setelah perlakuan nilai rata-rata 353,33 (HRV). Sedangkan pada pengujian komposisi unsur C pada baja karbon rendah sebelum perlakuan 0,235 (%wt) setelah perlakuan nilai rata-ratanya 0,329 (%wt).
ANALISA PENGARUH KROM BAJA ASSAB DF 3 TERHADAP BENTUK KOROSI PADA TEGANGAN LISTRIK DAN WAKTU ELEKTROLAPTING Astana Widi, Komang; Edi Susanto, Eko; Rahardjo, Teguh; Dwi Wahyudi, Nanang
JURNAL FLYWHEEL Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v6i1.596

Abstract

Proses pelapisan nikel-krom terhadap baja sebagai logam yang dilapis adalah satu cara untuk melindungi logam terhadap serangan korosi dan untuk mendapatkan sifat dekoratif. Cara pelapisan krom dengan metode elektroplating adalah sebagai berikut, pelapisan menggunakan arus searah (DC). Cara kerjanya mirip dengan elektrolisa, dimana logam pelapis bertindak sebagai anoda, sedangkan logam dasarnya sebagai katoda. Cara yang terakhir ini yang disertai dengan perlakuan awal terhadap benda kerja yang baik mempunyai berbagai keuntungan dibandingkan dengan cara-cara yang lain. Pada penelitian ini parameter yang digunakan adalah variasi tegangan dan waktu pencelupan pelapisan krom dengan variasi tegangan, 20A dan 26A sedangkan waktu pencelupan selama 10, 20, 30 menit. Pelapisan terbaik adalah pelapisan dengan tegangan 26A dengan lama waktu 20 menit , dikarenakan besar dimensi spesimen dan rapat arus yang tersedia sangat tepat. Dari hasil penelitian juga dapat disimpulkan bahwa untuk specimen dengan dimensi 50 mm x 25 mm x 15 mm tepat untuk diberikan tegangan sebesar 26A.Lama waktu proses electroplating juga berpengaruh terhadap ketebalan hasil pelapisan, dari data diperoleh bahwa semakin lama waktu proses elektroplating maka semakin tebal lapisan yang terjadi.oleh karena semakin lama waktu yang di berikan maka akan memberi kesempatan kepada material pelapis mengendap pada katoda.
Peningkatan Kinerja Turbin Angin Vertikal Tipe Darrieus dengan menggunakan Wind Gate Anam, Asroful; Asroni, Mochtar; Rahardjo, Teguh
JURNAL FLYWHEEL Vol 11 No 1 (2020): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v11i1.2505

Abstract

Salah satu upaya meningkatkan kinerja turbin angin adalah merekayasa kecepatan angin agar dapat dimanfaatkan secara optimal karena kecepatan angin yang tinggi lebih dapat meningkatkan putaran rotor dibandingkan kecepatan yang rendah. Tetapi hal tersebut memerlukan suatu kajian teori dan eksperimen untuk menjawab pernyataan tersebut, sehingga dilakukanlah penelitian dengan judul “Peningkatan Kinerja Turbin Angin Vertikal Tipe Darrieus dengan Menggunakan Wind Gate”. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan jenis Naca 4309 dan variasi jumlah blade 1, 2, 3, dan 4. Pemilihan turbin angin tipe vertikal jenis darrieus didasarkan atas beberapa hal, diantaranya adalah turbin angin vertikal dengan tipe darrieus sangat cocok di gunakan pada daerah yang kecepatan anginnya tidak terlalu tinggi dan tidak membutuhkan tower serta investasi awal pada pembangkit tersebut tidak semahal tipe horisontal. Kemudian penggunaan wind gate dimaksudkan agar hembusan angin menumbuk sudu-sudu turbin dapat lebih terarah dengan berbagai fluktuasi kecepatan angin yang bervariasi. Lokasi penelitian adalah di pantai Sendiki Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Dari data hasil penelitian pada kecepatan 3,7 m/s; 5,5 m/s, 5,6 m/s 7,2 m/s; dan 7,8 m/s menunjukkan bahwa kinerja turbin paling tinggi pada kecepatan angin 5.6 m/s dengan efisiensi 39.84% dan daya 39.45 watt pada putaran poros 111 rpm.
Studi Nitridisasi Besi Tuang Kelabu pada Temperatur 650 0C (1,2,3 Jam) Sujana, Wayan; Widi, I Komang Astana; Rahardjo, Teguh; Darmaputra, Sussetyo
JURNAL FLYWHEEL Vol 11 No 1 (2020): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v11i1.2509

Abstract

Besi cor kelabu, jenis cor ini sering dipakai karena memiliki banyak kelebihan. Kelebihan tersebut adalah mudah dituang atau dicor menjadi bentuk yang rumit, mudah dilakukan proses permesinan, tahan aus karena grafit dapat berfungsi sebagai pelumas, mempunyai kemampuan meredam getaran yang tinggi, mempunyai kekuatan tekan tinggi, sifat ketahan korosinya baik dibandingkan dengan baja konstruksi biasa, Spesimen yang sebelum proses diperoleh kekerasan tertiinggi yaitu 284,4 HV dengan kedalaman 30 μm, setelah diproses nitridisasi dengan temperature 6500C dengan holding 1,2, dan 3 jam, maka didapat kekerasan tertinggi sebesar 277,2 HV, 261,1 HV, 273,4 HV kekerasan naik pada holding 1 jam itu disebabkan karena reaksi kimia antara nitrogen dengan spesimen sehingga konsentrasi nitrogen pada permukaan spesimen yang berasal dari difusi nitrogen akan lebih banyak membentuk lapisan nitride. Pada pengujian spesimen dengan holding 1 jam didapat ketebalan lapisan 10, 20, 30, 40 μm dan permukaan tepi dari inti tidak merata sehingga lapisan menjadi tidak merata atau bergelombang, sedangkan pada temperatur 6500C dengan waktu 2 jam ketebalan ditunjukan hanya sampai pada 30 μm dan 40 μm, garis grafik mengalami kenaikan dikarenakan lapisan nitride dan permukaan tepi dari inti tidak merata sehingga lapisan menjadi bergelombang. Struktur mikro diperoleh dari hasil metalografi row material dan spesimen yang sesudah mengalami proses nitridisasi. Hasil dari struktur mikro sudah terlihat grafit berbentuk serpih keabu-abu an dan terlihat adanya sedikit korosi dikarenakan spesimen belum dilakukan proses