Thariq, Muhammad Aqwam
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hak Ex Officio Hakim: Pertimbangan Hukum Hakim terhadap Pembebanan Nafkah Iddah dan Mut’ah dalam Perkara Cerai Talak Verstek Perspektif Maqashid Syariah (Kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Malang) Thariq, Muhammad Aqwam
Sakina: Journal of Family Studies Vol 3 No 2 (2019): Sakina: Journal of Family Studies
Publisher : Islamic Family Law Study Program, Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.289 KB)

Abstract

Dalam pengajuan permohonan cerai talak di Pengadilan Agama Kabupaten Malang banyak dalam petitum permohonan yang diajukan oleh suami hanya sebatas untuk memutuskan perkawinannya tanpa disertai kewajibannya berupa pemberian nafkah terhadap istri. Hak ex officio adalah hak hakim karena jabatannya untuk memutus perkara lebih dari yang dituntut, hal ini sebagai upaya untuk memberikan rasa keadilan dan perlindungan terhadap hak-hak istri pasca perceraian. Rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menerapkan hak ex officio dalam putusan cerai talak verstek? 2) Bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menerapkan hak ex officio dalam putusan cerai talak verstek perspektif Maqashid Syariah?. Jenis penelitian adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi, proses pengolahan data menggunakan teknik edit, klasifikasi, analisis, dan kesimpulan. Pertimbangan hakim dalam menerapkan hak ex officio dalam putusan cerai talak verstek, diantaranya: 1) istri tergolong nusyuz atau tidak, 2) suami wajib memberikan iddah, 3) memberi mut'ah untuk memberikan rasa bahagia, 4) lamanya masa perkawinan. Dari perspektif Maqashid Syariah dapat disimpulkan bahwa pembebanan kewajiban bagi suami untuk membayar nafkah iddah dan mut’ah sudah sesuai tujuan syariat yaitu mendatangkan manfaat (jalbu manfa’atin) dan termasuk dalam tingkatan al-Dharuriyat, lebih tepatnya pada aspek Perlindungan terhadap Jiwa (Hifdz An-Nafs).
PROTECTION OF LINEAGE (HIFZ AL-NASL) IN DETERMINING THE LEGAL PARENTAGE OF CHILDREN BORN OUT OF WEDLOCK: A NORMATIVE ANALYSIS AND JUDICIAL PRACTICE OF THE PRINGSEWU RELIGIOUS COURT Thariq, Muhammad Aqwam; Muhibbin, Moh.; Utami, Nofi Sri
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 1 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i1.7329

Abstract

Focused on the Islamic principle of hifz al-nasl, this study has a dual aim: first, to analyze the framework for establishing the legal parentage of children born out of wedlock, and second, to scrutinize related judicial practices at the Pringsewu Religious Court. The research applies a normative juridical method, utilizing statutory, conceptual, and case study approaches to examine laws, the Compilation of Islamic Law, and court decisions. Analysis is conducted through grammatical and systematic interpretation. According to the study, judicial practice at the Pringsewu Religious Court involves two distinct methods for establishing parental lineage. The first, a normative-preventive method, ties the child's legal status directly to the lawful nature of the parents' marriage, effectively preventing children born from invalid unions from being recognized as legitimate. In contrast, the normative–progressive approach grants legal protection by affirming the child’s biological parentage, ensuring legal certainty, identity, and safeguarding the child’s rights. This practice is concretely reflected in Case Number 57/Pdt.P/2024/PA.Prw and Case Number 28/Pdt.P/2025/PA.Prw, and demonstrates the court's effort to balance the enforcement of Islamic family law norms with child protection in accordance with the principles of maqasid shariah, specifically ḥifẓ al-nasl.