Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN DISFUNGSI OTONOM DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PENDERITA PARKINSONISME Imelda Floransia; Corry N. Mahama; Herlyani Khosama
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 12 (2019): Journal of The Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volu
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v69i12.166

Abstract

Pendahuluan: Disfungsi otonom merupakan salah satu gejala non-motorik parkinsonisme namun belum menjadi perhatian klinis. Tujuan penelitian ini adalah menilai hubungan disfungsi otonom dengan derajat keparahan penderita parkinsonisme.Metode: Sebanyak 121 subyek rawat jalan di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, diikutsertakan secara konsekutif pada studi potong lintang analitik. Dilakukan pencatatan karakteristik penderita, gejala dan pemeriksaan disfungsi otonom. Data dianalisis menggunakan Chi Square, Mann Whitney U, Kruskal-Wallis dan regresi logistik.Hasil: Hampir seluruh variabel pengukur fungsi otonom cenderung menunjukkan derajat keparahan parkinsonisme lebih tinggi (p<0,001). Setiap kenaikan nilai SCOPA-AUT INA cenderung meningkatkan odds stadium Hoehn and Yahr (OR >1) juga pada perbedaan tekanan darah tes ortostatik yang semakin besar, usia lebih tua, masa sakit yang lama, periode terapi lebih panjang, dan penggunaan kombinasi obat antiparkinson. Kesimpulan: Disfungsi otonom berhubungan bermakna dengan derajat keparahan parkinsonisme.
GAMBARAN BANGKITAN DAN POLA ELEKTROENSEFALOGRAFI (EEG) PADA SUBJEK DENGAN EPILEPSI ROLANDIK (ER) DI RUMAH SAKIT PROF. DR. R. D. KANDOU Milani Suryakanto; Herlyani Khosama; Seilly Jehosua
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.575 KB)

Abstract

ER merupakan epilepsi fokal dengan EEG berupa gelombang paku ombak sentrotemporal yang paling sering terjadi pada anak-anak setelah kejang demam. ER adalah gangguan bangkitan fokal berfrekuensi jarang dengan gejala sensorimotorik hemifasial, orofaringolaringeal, speech arrest, hipersalivasi. Bangkitan dapat berevolusi menjadi bangkitan atipikal dengan gambaran EEG berupa electrical status in slow-wave sleep (ESES). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran bangkitan dan pola EEG pada subjek ER di RS Prof. Dr. R D. Kandou, Manado. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien pada subjek ER di RS Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2018-Desember 2019. Terdapat 28 subjek dengan EEG yang dilaporkan sebagai epilepsi rolandik, dengan subjek pria sebanyak 16 subjek (57,1%) dan subjek perempuan 12 subjek (42,9%). Hanya 1 subjek yang dilaporkan bangkitan ER atipikal di poli EEG RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Bangkitan orofasial ditemukan pada 16 subjek (57,1%), automatisme 6 subjek (21,4%), bangkitan tonik atau tonik klonik pada keseluruhan subjek. Pada pemeriksaan EEG didapatkan 27 subjek (96,4%) dengan gambaran interiktal berupa gambaran paku ombak unilateral pada 20 subjek (71,4%) dan bilateral pada 7 subjek (28,6%). 1 subjek (3,6%) memberikan gambaran interiktal berupa ESES. Gambaran paku ombak unilateral ; Kata Kunci: EEG, ER, bangkitan