Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Stability Analysis of the Nanjung Water Diversion Twin Tunnels based on Convergence Measurement Simon Heru Prassetyo; Ganda Marihot Simangunsong; Ridho Kresna Wattimena; Made Astawa Rai; Irwandy Arif; Nuhindro Priagung Widodo; Dhika Noor Pradhana; Dimas Agung Saputra
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 1, No 1 (2019): NOVEMBER
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v1i1.11

Abstract

This paper focuses on the stability analysis of the Nanjung Water Diversion Twin Tunnels using convergence measurement. The Nanjung Tunnel is horseshoe-shaped in cross-section, 10.2 m x 9.2 m in dimension, and 230 m in length. The location of the tunnel is in Curug Jompong, Margaasih Subdistrict, Bandung. Convergence monitoring was done for 144 days between February 18 and July 11, 2019. The results of the convergence measurement were recorded and plotted into the curves of convergence vs. day and convergence vs. distance from tunnel face. From these plots, the continuity of the convergence and the convergence rate in the tunnel roof and wall were then analyzed. The convergence rates from each tunnel were also compared to empirical values to determine the level of tunnel stability. In general, the trend of convergence rate shows that the Nanjung Tunnel is stable without any indication of instability. Although there was a spike in the convergence rate at several STA in the measured span, that spike was not replicated by the convergence rate in the other measured spans and it was not continuous. The stability of the Nanjung Tunnel is also confirmed from the critical strain analysis, in which most of the STA measured have strain magnitudes located below the critical strain line and are less than 1%.
Analisis Kemampugalian dan Kemampugaruan Material Pit B Tambang Emas Kabupaten Aceh Tengah Alio jasipto; Simon Heru Prassetyo; Muhammad Zaini Arief; Damar Kusumanto; Ali Rahman; Nursetyo C
Journal of Science, Technology, and Visual Culture Vol 1 No 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberaian massa batuan untuk keperluan penambangan dapat dilakukan dengan metode penggalian mekanis maupun peledakan. Untuk menentukan metode yang paling sesuai, analisis kemampugalian dan kemampugaruan dapat dilakukan terhadap material yang akan diberaikan tersebut. Studi ini menggunakan kriteria Franklin (1971) dan kriteria Pettifer dan Fookes (1994) untuk menentukan metode pemberaian massa batuan pit B pada sebuah tambang emas yang berada di Kabupaten Aceh Tengah. Kedua kriteria ini membutuhkan nilai Point Load Index (PLI) dan fracture spacing dari massa batuan yang dianalisis. Berdasarkan hasil analisis kemampugalian dan kemampugaruan dengan menggunakan kedua kriteria tersebut, pemberaian massa batuan pada Pit B masuk pada kriteria easy digging, hard digging, hard ripping dan blast to losen.
SIMULASI DINAMIK PELEDAKAN TEROWONGAN SECARA 3 DIMENSI MENGGUNAKAN BLAST LOAD Muhajir, Afdhal; Simangunsong, Ganda Marihot; Prassetyo, Simon Heru
Geosapta Vol 8, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v8i1.11489

Abstract

Metode peledakan merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk memberaikan batuan keras pada operasi penggalian, khususnya pada penggalian bawah tanah. Metode ini menghasilkan energi dari bahan peledak yang ditransmisikan kedalam masa batuan sehingga batuan tersebut terberaikan. Namun, selain memberikan efek hancuran pada batuan, energi ini juga menimbulkan efek yang kurang menguntungkan. Salah satu diantaranya adalah dihasilkannya getaran tanah. Getaran tanah merupakan salah satu efek peledakan yang harus diperhatikan yang dapat menimbulkan dampak ke masyarakat serta infrastruktur di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gelombang getaran yang dihasilkan dari peledakan pada jarak tertentu. Pengukuran getaran menggunakan alat ukur Minimate Plus yang akan diletakan di sekitar peledakan. Simulasi tiga dimensi dengan software Rocscience 3 dilakukan dengan memberikan blast load pada perimeter terowongan sesuai dengan jumlah bahan peledak yang digunakan per satuan waktu untuk mendapatkan gelombang dari segala arah.
Dampak Model Tanah Pada Analisis Metode Elemen Hingga 2 Dimensi Terowongan NATM : Studi Kasus Terowongan Manikin Hanif, Muhammad; Lim, Aswin; Wijaya, Martin; Prassetyo, Simon Heru
Siklus : Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 2 (2023): Siklus: Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/siklus.v9i2.15936

Abstract

Konstruksi terowongan melalui tanah lempung sensitif terhadap air dapat menyebabkan deformasi berlebihan pada dinding terowongan. Untuk dapat memprediksi deformasi yang terjadi pada terowongan melalui tanah lempung ekspansif, model konstitutif tanah yang sesuai dibutuhkan agar pemodelan memberikan hasil analisis yang memuaskan. Makalah ini berisi mengenai fenomena swelling tanah pada Terowongan Manikin di Kupang. Analisis deformasi terowongan menggunakan metode elemen hingga 2D dengan bantuan program Plaxis2D dilakukan untuk memberi prediksi terhadap deformasi yang terjadi pada terowongan Manikin. Analisis dilakukan menggunakan dua model konstitutif tanah, model keruntuhan Mohr-Coulomb dan Hardening Soil. Penggunaan kedua model tersebut dilakukan untuk mengetahui dampak serta pengaruh dari kedua model konstitutif tanah terhadap nilai deformasi pada terowongan melalui tanah ekspansif. Untuk dapat memodelkan fenomena swelling pada tanah, dikerahkan beban tambahan pada dinding terowongan yang berperan sebagai tekanan swelling pressure. Dengan metode ini, analisis menggunakan simulasi numerik dapat menyerupai deformasi dari hasil pengawasan di lapangan. Hasil simulasi numerik menunjukan bahwa desain sistem penyangga asli menggunakan model MC dan HS memberikan deformasi sebesar 921,5 mm (11,8%) dan 900 mm (11,5%). Dua alternatif sistem penyangga awal diusulkan, menggunakan steel ribs dengan profil lebih besar dan Umbrella Arch Method (UAM). Kedua alternatif secara signifikan memberikan hasil deformasi yang lebih kecil dari desain awal. Steel ribs yang lebih besar memberikan deformasi terkecil menggunakan model MC sebesar 412 mm (5,2%), sedangkan UAM memberikan deformasi terkecil pada model HS dengan deformasi sebesar 247 mm (3,1%).
ANALISIS KESTABILAN LERENG TAMBANG EMAS DENGAN KATEGORI MATERIAL LAPISAN PENUTUP YANG LEMAH Alio Jasipto; Simon Heru Prassetyo; Divia Lestari; Tiorivaldi Tiorivaldi
Jurnal Geosaintek Vol. 12 No. 3 (2026)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v12i3.10605

Abstract

Material lapisan penutup yang lemah merupakan tantangan utama dalam perancangan lereng tambang terbuka karena memiliki kuat geser yang relatif rendah dan kerentanan yang tinggi terhadap ketidakstabilan. Tambang emas yang menjadi lokasi penelitian, lapisan penutup didominasi oleh batuan mudstone sehingga analisis kestabilan lereng menjadi aspek yang sangat penting dalam perancangan tambang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan geometri lereng pit dan lereng timbunan yang memenuhi kriteria pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827K/30/MEM/2018. Parameter geoteknik yang representatif diperoleh melalui pengujian laboratorium, meliputi nilai kuat tekan uniaksial hingga diperolah kekuatan massa batuan, hal ini untuk menggambarkan perilaku mekanik batuan lemah secara akurat. Analisis kestabilan lereng dilakukan menggunakan pemodelan perangkat lunak dengan kriteria keruntuhan Mohr–Coulomb pada kondisi pembebanan statis maupun pseudo-statis akibat gempa. Selain itu, analisis juga mempertimbangkan kondisi hidrogeologi yang paling kritis, yaitu muka air tanah tertinggi dan kondisi lereng jenuh air, sehingga menghasilkan evaluasi kestabilan yang bersifat konservatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa geometri lereng pit yang optimum memiliki tinggi lereng keseluruhan sebesar 62–68 m dengan sudut lereng keseluruhan sebesar 31–32°, sedangkan geometri lereng timbunan yang direkomendasikan memiliki tinggi maksimum 15 m dengan sudut lereng keseluruhan sebesar 30°. Kedua konfigurasi lereng tersebut memenuhi nilai faktor keamanan minimum dan probabilitas longsor yang dipersyaratkan dalam peraturan untuk kondisi pembebanan statis maupun dinamis. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi praktis untuk desain lereng tambang pada formasi mudstone yang lemah serta menunjukkan pentingnya mempertimbangkan pengaruh muka air tanah dan beban gempa dalam evaluasi kestabilan lereng guna menjamin keselamatan operasi penambangan.