Kurang optimalnya pelayanan angkutan umum di terminal Antar Negara Sungai Ambawang yang semestinya dapat lebih optimal serta jarak yang begitu panjang menuju pusat kota menyebabkan masyarakat berusaha untuk memfasilitasi pergerakannya sendiri dengan kendaraan pribadi. Penelitian ini mengambil salah satu rute trayek di kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya yaitu trayek terminal Antar Negara "“ Jalan Komyos Sudarso (Jeruju).Kebutuhan jumlah armada optimal dapat dihitung dengan meninjau besarnya load factor dan biaya operasional kendaraan, dimana load factor merupakan nisbah antara permintaan (demand) yang ada dengan pemasokan (supply) yang tersedia.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah armada optimal berdasarkan pendapatan operator sesuai tarif yang berlaku di lapangan terhadap jumlah pengguna jasa eksisting yang ada dengan menghitung Biaya Operasional Kendaraan (BOK) dan load factor menggunakan metode DLLAJ dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah penumpang/hari adalah 286 penumpang dengan load factor sebesar 43 %. Pendapatan rata-rata yang diperoleh oleh operator pada tahun keenam rata-rata pendapatan operatornya sebesar Rp. 4.633.200.000,- sedangkan besarnya Break event point (BEP) yaitu pendapatan rata-rata dikurangi biaya operasional kendaraan (BOK) per tahun + 10% margin dari BOK adalah Rp. sebesar Rp. 301.950.000,- dan menunjukkan nilai positif. Dengan demikian dapat dilihat bahwa jumlah armada rencana untuk keadaan eksisting (10 armada) sudah memenuhi kebutuhan bus dengan jumlah 12 kendaraan. Kata Kunci : Shuttle buses, Break event point (BEP), Biaya Operasional Kendaraan (BOK), Load factor, Armada optimal