Abstrak Kehidupan sehari-hari santri di pesantren tidak akan pernah luput dari berbagai macam peraturan yang mengontrol mereka. Begitu pula dengan kehidupan di esantren Anwarul Haromain, dimana terdapat berbagai macam peraturan yang berlaku seperti halnya diharuskan berbahasa asing dan dilarang merokok. Akan tetapi, dalam kesehariannya banyak ditemui berbagai praktik pelanggaran yang ternyata luput dari pantauan ustad ataupun kyainya. Ternyata dalam kehidupan kesehariannya, beberapa santri melakukan praktik dramatrugi. Sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam lagi agar bisa diketahui bentuk serta motif atau alasan dibalik prilaku dramaturginya para santri.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman, yang disajikan dengan format deskriptif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara serta observasi partisipan. Teknik observasi partisipan digunakan untuk melihat secara langsung praktik keseharian santri di pesantren, sedangkan wawancara dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi tambahannya. Keduanya dipadukan untuk saling mendukung dan melengkapi satu sama lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para santri melakukan praktik dramaturgi di tiga lokasi, yakni di asrama/kamar, selanjutnya di lingkungan pesantren, dan lokasi terakhir di tempat mengaji bersama. Secara umum, santri pelaku dramaturgi di panggung depannya menampilkan sikap ideal seperti peduli kebersihan, taat aturan serta rajin mengikuti kegiatan. Adapun di panggung belakang, atribut tersebut mereka lepaskan sesuai dengan keadaannya. Sedangkan faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi adanya dramaturgi karena beberapa hal, seperti kyai yang jarang di pesantren, teladan yang kurang dari ustad, minimnya sarana aktualisasi diri bagi para santri, dan masih minimnya fasilitas pendukung di pesantren. Kata Kunci: Dramaturgi, Pesantren, Santri. Abstract The daily life in boarding students will never escape from a variety of regulations that control them. Similarly with life in boarding anwarul haromain, where there are various kinds of regulations as is the case required foreign speech and of smoking. However , in the daily , many found a variety of the practice of the offense it is excluded from the observation kyai or religious teachers . Apparently, in the life of his routine, some santri do the practice of dramaturgy. So that there should have been further research , to better understand the capable of being known as well as for the form of a motive or justifies ensure the santri dramaturgy.The method that used in this research is qualitative methods by using the theory of dramaturgy Erving Goffman, which served with the format of descriptive. Data collected using the technique of interviews and participan observation. Participan observation techniques used to see directly the practice of daily life in boarding students, while interview utilized to get additional information. Both of them combined for mutual support and complement each other.The results of research shows that the students do the practice of dramaturgi in three locations , namely on a room/dormitory , next in the around of boarding , and the last in a place of them recite yellow book(Kitab Kuning) together. In general, student of boarding school do the practice dramaturgy in front stage show an ideal as for cleanliness, obedient rules and diligently followed the event. While in the back stage , those attributes they let go according to circumstances. While the factors that influence the occurrence of dramaturgy, becaused by some things , as kyai rare in boarding , the example of less than religious teachers and the lack of self actual facilities for students . Key Words: Dramaturgy, Boarding School,Student