Masjid memiliki peran untuk mengubah kondisi masyarakat yang kurang berdaya menjadi berdaya. Masjid yang berdaya merupakan masjid yang dimakmurkan oleh jamaahnya. Dengan dikaitkannya dua unsur yaitu peran masjd dan pemberdayaan, maka dapat memberikan sebuah alternatif solusi dalam menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat. Namun saat ini, peran masjid mulai sedikit terkikis. Maka Lembaga masjid perlu mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara mengembalikan peran masjid dalam melaksanakan kegiatan ibadah dan kegiatan pemberdayaan masyarakat, sehingga aktivitas masjid tidak hanya menempatkan nilainilai material, namun menempatkan nilai spiritual pada tingkat yang sama. Seperti halnya pada zaman Rasulullah SAW saat masa awal perkembangan Islam, dimana masjid merupakan pusat pemerintah, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif pendekatan studi kasus karena untuk memahami studi kasus pada dana masjid yang telah terhimpun dari zakat, infak, sedekah dan pemanfaatannya yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat. Dengan pendekatan studi kasus, peneliti ingin melihat bagaimana pandangan, proses, dan strategi dr tiap informan nantinya, data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi, teknik analisis data menggunakan teknik miles dan huberman yang terdiri dari data collection, reduction, display, dan drawing/verifying conclusion (mengumpulkan menyaring, menyajikan, dan mengumpulkan), untuk menguji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu (Sugiyono, 2016). Dalam penelitian ini ditemukan bahwa Lazis Al-Muhajirin telah menjalankan perannya dalam pemberdayaan masyarakat secara distribusi bersifat konsumtif melalui aktivitas bantuan uang tunai kepada dhuafa, bantuan beasiswa dan sarana penunjang belajar, dan bantuan uang tunai kepada peserta khitanan massal. Namun, permberdayaan masyarakat secara distribusi bersifat produktif, Lazis AlMuhajirin masih belum menampakkan perannya di masyarakat. Adanya kelemahan pada proses pendampingan pada mustahik menyebabkan belum berjalannya program bina usaha pada kepengurusan Lazis Al-Muhajirin saat ini. Kata kunci: Lazis, Masjid, ZIS, Pemberdayaan masyarakat, kualitatif