Peningkatan persaingan usaha air minum dalam kemasan di Indonesia saat ini semakin kuat. Perusahaan dituntut menghasilkan produk air minum dalam kemasan yang berkualitas dengan harga yang kompetitif. Salah satu cara perusahaan untuk menghasilkan harga yang kompetitif adalah melakukan perhitungan biaya produksi secara tepat. Air minum dalam kemasan “ASA†merupakan salah satu unit bisnis yang dimiliki oleh Perum Jasa Tirta I Malang yang bergerak dalam industri air mineral. Produk dari “ASA†terdiri dari kemasan 120ml, 240ml, 330ml, 500ml dan galon. Di dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan air minum dalam kemasan “ASA†telah melakukan perhitungan harga pokok produksi, namun masih terdapat komponen biaya yang belum dimasukkan dalam perhitungan tersebut. Selain itu, perusahaan juga tidak memperhitungkan barang dalam proses awal dan barang dalam proses akhir dalam melakukan perhitungan harga pokok produksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan perhitungan harga pokok produksi yang diterapkan perusahaan dengan metode process costing. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data penelitian terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder, sedangkan jenis datanya adalah data kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan, teknik analisis data yang digunakan adalah perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode Process Costing. Berdasarkan hasil penelitian, perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan pada kemasan 120 ml sebesar Rp 10.829, kemasan 240 ml sebesar Rp 12.414, kemasan 330 ml sebesar Rp 20.785, kemasan 500 ml sebesar Rp 25.044 dan kemasan galon sebesar Rp 3.634. Sedangkan, hasil perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode process costing pada kemasan 120 ml sebesar Rp 10.243, kemasan 240 ml sebesar Rp 11.947, kemasan 330 ml sebesar Rp 20.474, kemasan 500 ml sebesar Rp 23.434 dan kemasan galon sebesar Rp 8.856. Perbedaan perhitungan harga pokok produksi antara perhitungan menurut perusahaan dengan metode process costing menghasilkan selisih harga pokok produksi yang lebih tinggi dan rendah. Hal tersebut terjadi dikarenakan perusahaan belum memasukan komponen biaya yang seharusnya dibebankan dan perusahaan tidak melakukan perhitungan pada barang dalam proses awal dan barang dalam proses akhir. Kata kunci : Harga Pokok Produksi, Process Costing