Material titanium merupakan logam yang sangat akrab dengan kehidupan manusia, banyak orang tahu bahwa titanium dapat digunakan dalam perhiasan, elekronik, alat kedokteran dan produk lainya yang membutuhkan kekuatan bahan [1]. Titanium memiliki sifat unggul diantaranya adalah kombinasi rasio antara kekuatan dan berat yang baik pada temperatur tinggi (strength-to-weight ratio) memiliki sifat tahan patah dan sifat tahan korosi pada suhu tinggi. Titanium juga dua kali lebih kuat dari alumunium tetapi bobotnya 60% lebih berat dari alumunium [2]. Akan tetapi, karakteristik titanium mudah bereaksi dengan material pahat potong sehingga cenderung membentuk build-up-edge dan melekat pada permukaan pahat potong. Konduktivitas termal paduan titaniun yang rendah akan meningkatkan suhu pada ujung pahat potong yang mengakibatkan kegagalan pahat secara cepat, penyerpihan pada bagian ujung pahat potong ini menghasilan kondisi permukaan bahan yang dimesin menjadi rusak, yang ditandai dengan permukaan yang kasar dan tidak seragam [3]. Sekarang micro milling kecepatan tinggi semakin populer karena mempunyai ketelitian dan permukaan akhir yang baik [9]. Penelitian ini menggunakan diameter pahat 2 mm, kecepatan spindel 15.000 rpm, gerak makan 0,005 dan kedalaman potong 100 μm dan menggunakan diameter pahat 1 mm, kecepatan spindel 15.000 rpm, gerak makan 0,005 dan kedalaman potong 100 μm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter pahat berpengaruh terhadap umur pakai pahat, dengan menggunakan parameter pemesinan yang sama, menggunakan pahat berdiameter 2 mm umur pakai pahat sampai 490,6 detik sedangkan pahat berdiamter 1 mm hanya 226,17 detik. Kemudian kerusakan pahat banyak terjadi pada tepi pahat atau yang sering disebut dengan aus tepi (flank wear), selama proses pemesinan mekanisme aus pahat yang terjadi antara lain abrasive dan adhesive.