p-Index From 2021 - 2026
0.817
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Buletin Perpustakaan
Utomo, Teguh Prasetyo
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Buletin Perpustakaan

Membangun Profesionalisme sebagai Strategi Pustakawan Menghadapi Era Society 5.0 Utomo, Teguh Prasetyo
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 2 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bpuii.v2i2.15179

Abstract

Kita telah sering mendengar tentang Era Industri 4.0. Era dimana industri dan internet berkembang demikian pesat yang kemudian keduanya berintegrasi dan menciptakan suatu ekosistem baru di berbagai sektor kehidupan, mulai dari layanan komunikasi, transportasi, perdagangan, hingga sampai pada layanan jasa. Era Industri 4.0 ini secara kebetulan bersamaan denga Era Society 4.0 yang disebut juga Information Society Era (Era Masyarakat Informasi). Sebagai kelanjutan dari Era Society 4.0 ini adalah akan munculnya suatu era yang disebut dengan Era Society 5.0. Era Society 5.0 akan menjadi tantangan tersendiri bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan bahwa di dalam sistem Society 5.0 ini berbasis pada teknologi, berpusat pada manusia (human-centered society) dan meliputi beragam aplikasi pintar (smart aplications) dengan tujuan untuk memberikan kemudahan dan efektifitas kerja bagi manusia penggunanya. Sehingga dari itu semua diharapkan bisa menjadikan masyarakat lebih produktif, lebih aman, lebih inklusif dan ramah lingkungan. Akan tetapi itu semua bukan berarti sama sekali tanpa meninggalkan dampak negatif. Keberadaaan infrastruktur digital, platform dan layanan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem Society 5.0. Yang kesemuanya itu didasarkan pada integrasi dan perpaduan beragam teknologi pintar (Smart Technology) seperti Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), robotik, Internet of Things (IoT) dan Blockchain, serta ditambah lagi dengan adanya Augmented and Virtual Reality ataupun Robotic Process Automation (RPA). Keberadaan teknologi-teknologi tersebut memungkinkan terjadinya pergolakan sosial dan ekonomi yang besar. Peningkatan penggunaan teknologi pintar dalam pengembangan Society 5.0 memiliki konsekuensi langsung bagi manusia sebagai individu. Komputer, kecerdasan buatan, robotik, Internet of Thing bisa secara perlahan tanpa kita sadari akan semakin menggeser peran manusia dalam dunia kerja. Sektor-sektor pekerjaan yang bersifat repetitif sudah pasti akan digantikan oleh mesin-mesin yang terintegrasi dengan sistem otomasi, kecerdasan buatan, dan Internet of Thing. Hal-hal inilah yang menjadikan Pustakawan sangat perlu untuk memperhatikan dan menyiapkan diri menghadapi kondisi tersebut. Membangun dan mengembangkan profesionalisme merupakan salah satu strategi jitu yang bisa dilakukan oleh Pustakawan untuk bisa bertahan dan meneguhkan eksistensi profesinya di Era Society 5.0. Untuk membangun profesionalismenya, seorang pustakawan harus memiliki attitude, competence, ability to communicate, appropriateness, dan appearance di dalam kehidupan keseharian mereka, baik itu di lingkungan kerja maupun di lingkungan masyarakat.
Catur Program Literasi (CPL) sebagai Pilar Gerakan Literasi Sekolah: Best Practice di SMK Negeri 1 Samigaluh Suryaningtyas, Nindy; Utomo, Teguh Prasetyo
Buletin Perpustakaan Vol. 6 No. 2 (2023): Buletin Perpustakaan Volume 6 Nomor 2, November 2023
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bpuii.v6i2.31516

Abstract

Penelitian ini membahas Catur Program Literasi (CPL) di SMK Negeri 1 Samigaluh sebagai pilar Gerakan Literasi Sekolah (GLS). CPL terdiri dari empat program literasi yaitu: Pembuatan Majalah Dinding, Pojok Baca Kelas, Tensi Tubu, dan SKASSA Cup. Pendidikan memandang literasi sebagai elemen kunci untuk membentuk warga negara terdidik dan kritis. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah merinci dan menganalisis efektivitas masing-masing program literasi serta mengeksplorasi perbedaan signifikan antara program tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa CPL secara keseluruhan memberikan dampak positif pada peningkatan literasi siswa. Pembuatan Majalah Dinding dan Pojok Baca memberikan ruang ekspresi kreatif dan peningkatan minat membaca, sementara Tensi Tubu dan SKASSA Cup fokus pada pengembangan keterampilan analitis dan berpikir kritis (analytical and critical thinking) para siswa melalui resensi buku. Integrasi keempat program menciptakan lingkungan pembelajaran literasi yang optimal. Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa SMK Negeri 1 Samigaluh berhasil menerapkan GLS secara holistik dengan efektif. Temuan ini memberikan kontribusi positif terhadap pemahaman praktik terbaik dalam meningkatkan literasi siswa di tingkat sekolah menengah kejuruan. Diharapkan penelitian ini memberikan inspirasi bagi lembaga pendidikan lain untuk mengembangkan program literasi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa secara menyeluruh.
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BLOCKCHAIN DI PERPUSTAKAAN : PELUANG, TANTANGAN DAN HAMBATAN Utomo, Teguh Prasetyo
Buletin Perpustakaan Vol. 4 No. 2 (2021): Buletin Perpustakaan Volume 4 Nomor 2, November 2021
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blockchain adalah teknologi yang berbasis pada kriptografi yang menggunakan prinsip distributed ledgers (buku besar terdistribusi) yang memberikan beragam keunggulan terutama dalam hal keamanan. Penggunaan distributed ledgers sebagai dasar dari teknologi blockchain ternyata sangat mirip dengan konsep yang sudah sangat familiar di kalangan perpustakaan, yaitu LOCKSS (Lots of Copies Keep Stuff Save). Di sinilah titik temu antara teknologi blockchain dengan perpustakaan. Berawal dari sinilah terbuka kemungkinan-kemungkinan bagi perpustakaan untuk mengimplementasikan teknologi blockchain.Berbagai potensi yang bisa diaplikasikan dari teknologi blockchain bagi perpustakaan di antaranya adalah : pengadaan dan pemeliharaan bahan pustaka, inovasi layanan sirkulasi, katalogisasi, jaminan perlindangan data pribadi dan kartu anggota perpustakaan, penerbitan e-book, dukungan untuk publikasi ilmiah dan manajemen hak digital, manajemen koleksi khusus, dukungan penelitian, literasi keuangan, dan analisis perpustakaan. Akan tetapi di sisi lain, terdapat juga tantangan dan hambatan yang menyertai dalam upaya penerapan teknologi blockchain ini di perpustakaan, antara lain : pengetahuan akan teknologi blockchain yang masih terbatas, tantangan untuk bisa memilih blockchain yang tepat, besarnya biaya yang harus dikeluarkan perpustakaan mulai dari biaya pelaksanaan, biaya perawatan hingga ke biaya pengembangan sistem blockchain itu sendiri, serta yang terakhir dan cukup menjadi isu sensitif adalah masih ada beberapa orang di kalangan ilmuan yang berpendapat bahwa masalah keamanan data pribadi di dalam sistem blockchain belum sepenuhnya aman.
OPTIMALISASI MEDIA SOSIAL UNTUK PEMASARAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI Utomo, Teguh Prasetyo
Buletin Perpustakaan Vol. 5 No. 1 (2022): Buletin Perpustakaan Volume 5 Nomor 1, Mei 2022
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media sosial saat ini telah menjelma menjadi alat pemasaran yang sangat populer bagi perpustakaan. Hal ini karena media sosial memungkinkan perpustakaan untuk menjangkau dan melakukan komunikasi dengan penggunanya secara realtime tanpa lagi tersekat oleh batasan ruang dan waktu. Terlebih saat ini pengguna media sosial di Indonesia demikian masif yang mencapai mencapai 191,4 juta pengguna. Hal tersebut tentu menjadi potensi yang luar biasa ketika media sosial bisa dioptimalkan untuk keperluan pemasaran perpustakaan. Dalam melakukan kajian ini penulis menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil kajian yang dilakukan penulis menemukan bahwa dalam upaya optimalisasi media sosial untuk pemasaran perpustakaan perguruan tinggi ada tujuh langkah yang harus dilakukan, yaitu: 1) membuat perencanaan (planning), 2) membuat akun/kanal media sosial, 3) memahami platform media sosial yang digunakan, 4) membentuk tim, 5) produksi dan publikasi konten, 6) strategi publikasi konten, dan juga 7) monitoring dan evaluasi. Sehingga kemudian bisa disimpulkan bahwa pemasaran perpustakaan melalui media sosial menjadi sangat penting mengingat luasnya cakupan media sosial saat ini. Terlebih untuk perpustakaan perguruan tinggi yang saat ini mayoritas mahasiswanya merupakan generasi Y (milenial) dan generasi Z (Gen-Z) yang sudah sangat karib dengan media sosial. Selain memerlukan berbagai strategi taktis, optimalisasi pemasaran perpustakaan menggunakan media sosial juga perlu mendapat dukungan dan komitmen yang kuat dari pengambil kebijakan/manajemen perpustakaan perguruan tinggi.
Diseminasi Informasi Perpustakaan Melalui Library Lite di Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia Asaniyah, Neneng; Utomo, Teguh Prasetyo
Buletin Perpustakaan Vol. 6 No. 1 (2023): Buletin Perpustakaan Volume 6 Nomor 1, Mei 2023
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan mengetahui kegiatan diseminasi informasi di Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Jenis penelitian studi kasus menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengambilan data melibatkan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data tersebut dianalisis menggunakan metode analisis kualitatif untuk memahami pengalaman dan manfaat dari kegiatan Library Lite. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan Library Lite ini efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dan memberikan wawasan baru bagi para pustakawan dan staf perpustakaan. Untuk meningkatkan efektivitasnya, Direktorat Perpustakaan UII perlu meningkatkan promosi dan memberikan jadwal yang lebih tepat serta mengurangi hambatan teknis dalam penyampaian materi presentasi. Akan tetapi di sisi lain Library Lite juga dihadapkan pada beberapa kendala, seperti jadwal yang tidak tepat, partisipasi staf yang kurang aktif, dan keterbatasan kemampuan pemateri.