Nawawi, Abdul Choliq
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MAKNA EPITAP KUBURAN KI AGENG KEBOKENONGO DI SITUS PENGGING DALAM MANFAAT ILMU PEMERINTAHAN Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 18 No. 1 (1998)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v18i1.776

Abstract

The epitaph at the Pengging Site is engraved on a teak wood board, located above the doorway of Ki Ageng Kebokenongo's grave cupola in Gedong, Dukuh village, Banyudono district. This epitaph is in Arabic and is script in the Tsuluts style consists of only one line. The letters were still in good condition, except for a word which was slightly damaged. On the right and the left side of this epitaph are found two symbols of the sun, each of which shines eight rays and is often referred to as the rays of "Surya Majapahit". The type of year number used in this epitap is the Arabic alphabet. The information contained in this epitaph mentions the existence of government institutions such as: guardians, scholars and shaykhs akbar.
PERANAN TOKOH DALAM TATA RUANG PERMUKIMAN MASA MATARAM ISLAM DARI SITUS POTORONO Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 15 No. 3 (1995)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v15i3.695

Abstract

Based on the large number of Hinduistic socio-cultural artifacts in the Potorono settlement group, namely at the Botokan, Potorono Kidul, Potorono Lor, and Mayungan sites as centers for the remains of monumental buildings such as Hinduistic temples, it can be concluded tentatively that the Potorono settlement belongs to the classical period. Furthermore, it is assumed as a core settlement in the Hinduistic socio-cultural layer.
KEHADIRAN SOSIAL BUDAYA ISLAM DI KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 14 No. 2 (1994)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v14i2.712

Abstract

This article explains the remains of Candi from the era of Çailendra in Kabupaten Wonosobo. It is known that the function of remains has changed in later era. It is become part of human grave structure such as jirat (tombstone), nisan (gravestone) and epitap board (short writing on gravestone or short statement written in the grave). These objects are in the grave complex during the presence of Islamic socio-culture in Kabupaten Wonosobo. The objects of Islamic socio-cultural heritage that have archaeological value are discovered in two districts, Kecamatan Kertek and Kecamatan Selomerto.
GAYA KHAT ARAB DI MASJID PENCIKAN DAN SITUS MAKAM KI AGENG NGERANG DAERAH JUWANA: TINJAUAN BERDASARKAN DATA ARKEOHISTORIS Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 13 No. 1 (1993)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v13i1.564

Abstract

Dalam penelitian arkeologi yang berlangsung pada tanggal 8 s.d. 22 Juli 1992 di Kabupaten Demak dan Pati Propinsi Jawa Tengah. Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta menjumpai di dalam ruang bangunan Masjid Pencikan, Dusun Bumirejo. Desa Kampungbaru, Kecamatan Juwana tiga khat Arab yang tertulis pada papan kayu Jati (Foto: 1 .2). Di Blok Pencikan, Dusun Bumirejo. Desa Kampungbaru ini terletak di tepi sebelah timur Sungai Silugangga yang bermuara pada Sungai Juwana.
MAKNA GENTA TEMBAGA LEKUK LIMA PADA MUSTAKA MASJID TEMBELANG: KAJIAN TEKNOLOGIS DAN ETNOHISTORIS Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 13 No. 1 (1993)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v13i1.565

Abstract

Genta tembaga lekuk lima sebagai mustaka masjid di Desa Tembelang (Foto. 1), Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang ini dijumpai oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang melakukan studi tentang benda tinggalan sosial budaya Islam di daerah Kedu bagian utara, di Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Magelang pada tanggal 13 sampai dengan 23 Oktober 1992.
KUBUR-TUMPANG DI KOMPLEKS MAKAM KRT. PANJI CAKRAKUSUMA DI SANGKAPURA (PULAU BAWEAN): SUATU UNSUR BUDAYA ISLAM DI INDONESIA Nawawi, Abdul Choliq
Berkala Arkeologi Vol. 7 No. 1 (1986)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v7i1.451

Abstract

Kubur-Tumpang adalah suatu makam Islam yang di dalam suatu liang-lahat dikebumikan lebih dari satu jenazah. Penguburan dilakukan secara bersusun tumpang-tindih dan pada susunan paling bawah harus dikebumikan jenazah seorang yang paling ahli dalam penghayatan dan pengamalan terhadap isi Al-Qur'an (Al-Hadits, diriwayatkan oleh Annasaa'ii dan Tirmidzii dengan argumentasi paling benar). Kemungkinan proses ini terjadi karena banyaknya korban yang mati dalam suatu peperangan atau karena banyaknya kematian akibat suatu wabah penyakit yang sangat ganas. Selain itu kubur-tumpang mungkin merupakan pelaksanaan dalam menunaikan nadzar, washiyat maupun amanat. Istilah kubur-tumpang pertama kali muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an yang dilontarkan oleh Prof. Dr. Hamka untuk menerapkan hukum Islam tentang penguburan yang bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Hadits sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai belligrandi (penengah) atas sengketa tanah pemakaman akibat adanya penggusuran tanah-tanah tersebut di Jakarta ketika itu.