The study of the Koran surah An-Najm verses 5-11 suggests that the Angel Gabriel functions as the subject of the hearing, because he delivered and taught revelations to Muhammad. As an educational subject, he has excellent physical and spiritual strength and brilliant intelligence, broad scientific insight and strong memorization, so there is no doubt that what was conveyed from Allah to Muhammad there were changes, errors or mistakes. In addition to Gabriel has qualified scientific integrity, also has a strong personality, so anyone who functions as an educational subject should set an example in carrying out this noble task. One of them is humble attitude or tawadhu '. This can be seen when Gabriel is in a distant position that is the place where the sun rises, but Muhammad was able to see it, meaning that in such a position communication can occur between the two, but with his attitude of devotion, he approached Muhammad. as an object of education at that time, until the distance between the two was limited to two arrows, then Gabriel delivered or taught revelations to the Muhmmad. as it should be said or taught.Kajian al-Qur’an surah An-Najm ayat 5 – 11 mengisyaratkan bahwa Malaikat Jibril berfungsi sebagai subjek pendidilan, karena beliau yang menyampaikan dan mengajarkan wahyu kepada Muhammad saw. Sebagai subjek pendidikan beliau memiliki kekuatan fisik dan rohani yang prima dan kecerdasan akal yang cemerlang, wawasan keilmuan yang luas serta kuat hapalannya, sehingga tidak ada keraguang bahwa apa yang disampaikan dari Allah kepada Muhammad terdapat perubahan, kekeliruan atau kesalahan. Selain Jibril memiliki integritas keilmuan yang mumpuni, juga memiliki kepribadian yang mantap, sehingga siapapun yang berfungsi sebagai subjek pendidikan seharusnya menjadikan contoh dalam melaksankan tugas yang mulia itu. Salah satu dianta adalah sikap rendah hati atau tawadhu’. Hal ini terlihat ketika Jibril berada pada posisi yang jauh yakni tempat terbitnya matahari, namun Muhammad sudah bisa melihatnya, dalam arti pada posisi seperti itu sudah bisa terjadi komunikasi antara keduanya, tetapi dengan sikap ketawadhuannya, beliau mendekati Muhammad saw. sebagai objek pendidikan ketika itu, sampai jarak antara keduanya hanya sebatas dua busur anak panah, baru Jibril menyampaikan atau megajarkan wahyu kepada Muhmmad saw. sebagaimana yang seharusnya disampaikan atau diajarkan.