Marbun, Nomensen Ricardo
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INVESTIGASI SEDIMEN BAWAH LAUT MENGGUNAKAN SURVEY SEISMIK REFLEKSI DANGKAL: STUDI PENGEMBANGAN LAPANGAN ENDAPAN TIMAH PLASER Pratama, Wahyu Vian; Marbun, Nomensen Ricardo
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.74

Abstract

ABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor. Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan. Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.   ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes. Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral (tin-bearing mineral) are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channelABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor.Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan.Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.    ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes.Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral(tin-bearing mineral)are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channel
Model Konseptual : Horizontal Borehole Mining (HBHM) Untuk Penambangan Endapan Aluvial Laut Secara Efektif dan Efisien Marbun, Nomensen Ricardo; Nurdaen, Nofhy Gumelar; Dwipayana, Arif
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Horizontal Borehole Mining (HBHM) merupakan sistem penggalian/ penambangan langsung pada zona ore di bawah permukaan bumi yang memanfaatkan media air berkecepatan tinggi (water jet) sebagai pemberai dan sekaligus menjadi media angkut material terberai ke atas permukaan, melalui pipa yang dirancang horizontal mengikuti lapiran ore. Sebagai besar cadangan bijih timah yang dimiliki oleh PT Timah Tbk berasal dari endapan placer (alluvial tin) dimana sistem pengendapannya terdistribusi secara lateral. Konsep/ teori HBHM ini sangat relevan dengan kondisi endapan timah yang terdistribusi lateral. Tulisan ini menyajikan model konseptual HBHM dan perhitungan sederhana yang menjelaskan bagaimana sistem hidrolika bekerja. Efisien dalam biaya produksi dan efektif dalam proses penambangan menjadi tujuan yang diharapkan dalam tulisan ini.Jika model panjang pipa total pipa 100 meter, yaitu 40 meter pipa vertikal, 10 meter pipa lengkung dan 50 meter pipa horizontal diperkirakan flow rate (v) 28,28 m/s, coefisient losses(k) 0,14 dengan head losses 5,65 meter. Tekanan Hidrostatis yang dihasilkan 343,4 kN/m2. Pada pipa Horizontal dengan panjang 50 meter, setelah head looses kecepatan aliran menjadi 23,67 m/s. Setelah pemberaian, material solid bercampur dengan air membentuk slurry (lumpur). Dengan menggunakan persamaan energi potensial dan energi kinetik, kecepatan aliran awal slurry 36,9 m/s dan menjadi 6,1 m/s saat tiba ke permukaan. Dalam konsep panggalian/ penambangan nya, dilakukan dengan skema forward mining (sistem penambangan maju) dan backward mining (sistem penambangan mundur).Model konseptual HBHM ini masih bersifat hipotetik, sehingga perlu pengkayaan informasi lebih lanjut untuk menghasilkan model yang final. Tidak perlu dilakukannya pengupasan overburden saat penambangan di laut berlangsung, perolehan recovery penambangan yang relatif tinggi efisien dan efektif dari segi pembiayaan menjadi target utama jika model konseptual HBHM ini dapat diimplementasikan.