Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Waktu Evakuasi Kebakaran Pada Gedung Tokong Nanas Dengan Perangkat Lunak Pyrosim Dan Pathfinder Khoirunnisa, Qorie Yuslina; R. I. U , Amaliyah; Sujatmiko, Wahyu
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung menyebutkan seluruh bangunan gedung yang akan dibangun harus memenuhi beberapa persyaratan dalam proses pembangunannya. Bahaya kebakaran memiliki resiko kerugian baik secara materi hingga korban nyawa. Maka dari itu, setiap bangunan perlu memiliki model evakuasi yang dapat menunjang proses evakuasi pada saat terjadi bencana kebakaran. Simulasi model evakuasi dapat dilakukan secara real ataupun dengan program perangkat lunak. Simulasi secara real dapat dilakukan dalam bentuk pelatihan untuk penghuni, sedangkan secara program perangkat lunak dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak diantaranya adalah simulasi kebakaran dengan menggunaka Pyrosim dan simulasi evakuasi dengan menggunakan Pathfinder. Pada penelitian ini menunjukan pola persebaran api dan asap hasil kebakaran pada Gedung Tokong Nanas dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan evakuasi pada saat terjadi bencana kebakaran. Waktu evakuasi untuk setiap kasus akan berbeda bergantung pada kepadatan penghuni dan denah bangunan. Pada penelitian ini menerapkan tiga skenario evakuasi. Skenario pertama mengasumsikan jumlah penghuni dalam bangunan adalah 5565 orang dengan total waktu evakuasi selama 43 menit. Skenario kedua mengasumsikan jumlah penghuni adalah 1085 orang dan total waktu evakuasi total selama 10 menit, dan skenario terakhir mengasumsikan jumlah penghuni dalam bangunan adalah 840 orang dengan waktu total evakuasi selama 9 menit. Kata kunci : Kebakaran, Evakuasi, Pyrosim, Pathfinder, Gedung Tokong Nanas, Keamanan, Mitigasi Bencana Kebakaran
Penerapan Standar Keselamatan Evakuasi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Di Indonesia Sujatmiko, Wahyu
Jurnal Permukiman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.116-127

Abstract

Saat ini di Indonesia ketentuan laik fungsi harus dipenuhi bangunan hunian. Perlu dilakukan kajian standar dan peraturan keselamatan kebakaran pada bangunan tinggi dan kemungkinan penerapannya. Pada makalah ini dilakukan kajian terhadap kedua aspek tersebut. Untuk aspek pertama metoda yang dipergunakan adalah dengan kajian terhadap standar dan peraturan keselamatan evakuasi di Indonesia dan membandingkan dengan NFPA 101 selaku standar rujukan. Untuk aspek kedua dilakukan pemeriksaan terhadap bangunan kajian terkait pemenuhan standar dan peraturan keselamatan evakuasi. Objek studi adalah 9 buah bangunan residensial bertingkat tinggi yang terdiri atas 3 hotel dan 6 rusunami. Hasil kajian memperlihatkan bahwa peraturan keselamatan evakuasi pada Permen PU 26/2008 perlu direvisi terkait istilah dan definisi teknis untuk lebih disesuaikan dengan SNI Sarana Jalan Keluar dan standar rujukannya NFPA 101. Hasil kajian lapangan menunjukkan sejumlah bangunan tidak memenuhi ketentuan keselamatan evakuasi. Permen 26/2008 dan SNI Sarana jalan Keluar perlu dilengkapi dengan butir-butir peraturan berbasis preskriptif untuk masing-masing kelas bangunan dan konsep basis kinerja sesuai standar NFPA agar lebih mudah dan fleksibel dalam pemenuhan persyaratan sesuai kelas bangunan. Pemenuhan keselamatan evakuasi perlu dukungan riset berbasis kinerja.
Prediksi Temperatur Kebakaran Ruangan Bangunan Menggunakan Model Babrauskas Sujatmiko, Wahyu
Jurnal Permukiman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.8-19

Abstract

Simulasi diperlukan untuk mengetahui pengaruh beban api terhadap susunan proteksi sistem pasif dan aktif bangunan. Masukan dari simulasi adalah beban api. Permasalahannya adalah data beban api yang umumnya berupa data dalam bentuk kg-kayu tidak dapat dipergunakan untuk masukan simulasi. Pada makalah ini coba disampaikan upaya konversi beban api ke dalam kurva api menggunakan model api Babrauskas untuk melihat prospek penerapan di lapangan. Selanjutnya untuk validasi dilakukan komparasi hasil simulasi dengan data sekunder hasil eksperimen. Simulasi menggunakan perangkat lunak Fire Dynamic Simulator. Hasil komparasi memperlihatkan bahwa pada titik-titik interior bangunan (atau pada ruangan yang terbakar) dekat sumber api terjadi prediksi simulasi lebih tinggi sekitar 149 oC sedangkan pada titik yang jauh dari pusat api prediksi simulasi lebih rendah 170 oC. Adapun pada titik eksterior bangunan (atau pada fasada dinding luar di atas jendela ruangan yang terbakar) terjadi hasil prediksi simulasi lebih tinggi atau lebih rendah sampai maksimal 56 oC. Dengan demikian konversi kg-kayu ke dalam kurva Babrauskas dapat dipergunakan dengan prediksi tingkat keparahan kebakaran secara umum mengingat keterbatasan alat ukur laju pelepasan panas ruangan di Indonesia, tetapi kurang tepat untuk prediksi yang membutuhkan perhitungan pendetilan.
Kenyamanan Termal Adaptif Hunian Kawasan Mangrove Centre-Batu Ampar-Balikpapan Sujatmiko, Wahyu; Kusumawati, Fanny; Sugiarto, Aan
Jurnal Permukiman Vol 6 No 3 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.164-174

Abstract

Pada karya tulis ini disampaikan kajian kenyamanan termal adaptif responden perumahan Graha Indah Kawasan Mangrove Center Batu Ampar Balikpapan. Metoda penelitian adalah eksperimen lapangan. Diperoleh 49 data kesan termal dari penghuni 20 rumah,  10  rumah merupakan asli T36 dan sisanya modifikasi. Kondisi netralitas termal dirasakan responden pada Tdb = 29,4oC, ET* = 31,3 oC, SET* = 31,7 oC, TSENS = 1,01, DISC 1,94, dan PMV = 1,72, kondisi rata-rata termal Tdb  = 29,2oC, ET* = 31,1 oC, SET* = 31,5 oC, TSENS = 0,97, DISC 1,86, dan PMV = 1,67, yang berarti responden menginginkan kondisi netral sedikit di atas kondisi rata-rata. Adapun kondisi preferensi termal adalah Tdb = 28,1oC, ET* = 30 oC, SET* = 30,2 oC, TSENS = 0,74, DISC 1,47, dan PMV = 1,37. Hasil analisis kinerja termal unit bangunan memperlihatkan bahwa konstruksi selubung bangunan memiliki waktu tunda termal yang rendah, tercipta kondisi ruangan siang hari yang tidak nyaman (temperatur antara 27,8oC – 34oC dengan kelembaban rata-rata 78%). Hasil analisis data iklim memperlihatkan kondisi ekstrim minimum dan maksimum sepanjang tahun yang selalu di luar zona nyaman 80% ASHRAE. Konstruksi bangunan asli T36 yang masih memungkinkan terjadinya ventilasi silang untuk kenyamanan termal menjadi hilang oleh pemenuhan lahan dalam renovasi bangunan.
Studi Peluang Penghematan Pemakaian Energi pada Gedung Sekretariat Jenderal Pekerjaan Umum Sujatmiko, Wahyu
Jurnal Permukiman Vol 5 No 3 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.124-131

Abstract

Gedung lama seperti Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum yang telah berusia lebih 25 tahun perlu dikaji tingkat efisiensi penggunaaan energinya. Terkait dengan tujuan tersebut, studi peluang penghematan energi pada Gedung Sekjen-PU telah dilakukan dengan mengkaji selubung bangunan (OTTV dan RTTV), Intensitas Konsumsi Energi (IKE), profil energi, tingkat pencahayaan, kondisi termal ruangan dan persepsi termal penghuni. Hasil studi memperlihatkan bahwa OTTV 21,71 W/m2, RTTV 7,31 W/m2, IKE 154,815 kWh/m2/tahun (12,9 kWh/m2/bulan), faktor daya 0,922, berarti kategori efisien, akan tetapi fasa tidak seimbang sehingga terjadi arus netral yang cukup besar, konsentasi CO2 rendah, yakni 762,5 ppm, tetapi rata-rata temperatur dan kelembaban tinggi, yakni 26,3 oC dan 61,3%, berarti terdapat kebocoran energi. Rentang rata-rata tingkat pencahayaan 98-147 lux, berarti di bawah standar 250 lux. Penghuni merasakan bahwa kondisi ruangan lebih rendah dari netral, tidak seluruh penghuni menerima kondisi ini dan cenderung ingin kondisi temperatur lebih rendah. Dengan demikian direkomendasikan untuk melakukan penghematan dengan perbaikan tingkat kebocoran pemakaian pengkondisian udara dan meningkatkan tingkat pencahayaan saat ini.