Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Model Penanggulangan Pemanasan Global Melalui Reaktualisasi Gama, I Wayan; Seken, I Ketut; Bandem, I Gede; Wirnata, Ida Komang
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.156

Abstract

Tujuan dari Penelitian ini adalah 1)menemukan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Tumpek Wariga dalam rangka penanggulangan pemanasan global. 2) menemukan cara masyarakat dalam mereaktualisasikan pelaksanaan TumpekWariga. 3) Menemukan Model Penangulangan Pemanasan Global melalui reaktualisasi Tumpek Wariga. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kubu dengan informan sebanyak 125 orang. Informan ditentukan secara purposisf. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi dan wawancara. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi masyarakat terkait perayaan Tumpek Wariga. Selanjutnya data tentang cara masyarakat mereaktualisasi pelaksanaan Tumpek Wariga dalam menanggulangi pemanasan global (global warming) dikumpulkan dengan cara obsevasi. Datahasil penelitian dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa masyarakat Kubu memiliki persepsi perayaan Tumpek Warigabukan hanya sebatas ritual melainkan menanam pohon juga merupaka wujud perayaan Tumpek Warigawalau keduanya memiliki perbedaan terkait sarana yang digunakan. Semua informan merayakan Tumpek Warigadengan mempersembahkan sesajen ditujuakan kehadapan Bhatara Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuan dari pelaksanan upacara tersebut adalah untuk memohon agar tumbuhan tersebut dapat hidup subur dan berbuah lebat. Dan masyarakat desa di Kecamatan Kubu memiliki pandangan perayaan Tumpek Warigadapat digunakan sebagai model penangulangan pemanasan global. Model penanggulangan pemanasan global melaui reaktualisasi Tumpek Wariga meliputi kegiatan reboisasi yang dilakukan secara kontinu. Sehingga tercipta keseimbangan secara horisontal dan vertikal sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.
Usaba Kelod Perspektip Teori Budaya Organisasi Di Desa Adat Bugbug Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem Gama, I Wayan
Lampuhyang Vol 15 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i1.374

Abstract

Usaba Kelod adalah tradisi upacara Atma Wedana (ngeroras) tingkatan dari upacara Pitra Yadnya (ngaben). Usaba Kelod penyucian roh leluhur, dengan kemasan sangat special, unik dan menarik untuk diteliti, karena melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan tradisional dan formal di Desa. Usaba Kelod merupakan praktek ajaran Siwam, satyam dan Sundaram. Tujuan penelitian: 1) Untuk mengetahui mengapa Usaba Kelod sangat special. 2) Untuk mengetahui keunikan Usaba Kelod. 3) Untuk mendeskripsikan bagaimana prilaku budaya organisasi terlibat di dalamnya Pendekatan penelitian menggunakan metode emperis. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, tanya jawab dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode kualitatif dengan teknik induksi, deduksi dan argumentasi. Usaba Kelod bersifat special karena ditentukan berdasarkan perhitungan kalender Bali yang telah terformat dalam kalender program kegiatan ritual selama satu tahun pada masyarakat Bugbug. Usaba Kelod unik karena hanya ada di Desa Adat Bugbug, dilakukan oleh keluarga yang memiliki roh preteka satu generasi, yang telah melewati tahapan prosesi ngaben. Aktivitas prilaku masyarakat Bugbug dalam menjamin kelancaran Usaba Kelod, melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan di desa seperti ; Desa Adat, Desa Dinas, Banjar, seka dan organisasi sulinggih. Nilai karakter Hindu dalam Usaba Kelod tercermin dalam wujud sikap tenggang rasa, toleransi, gotong royong, semua komponen masyarakat desa ikut terlibat, mulai dari organisasi kekerabatan, organisasi social, organisasi tradisional dan organisasi profesi. Atribut Usaba Kelod ; ada dalam bentuk : Sekah, sarana upacara, asesoris upacara dan tampilan pakaian warga yang terlibat di dalamnya. Analisis data menggunakan metode kualitatif dengan teknik “tri anggulasi” yaitu proses pengumpulan data, proses pemilahan data dan proses verifikasi data. Nilai Usaba Kelod di dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, bersifat Pitra Rna artinya pelaksanaan Usaba Kelod secara psikologis pelaku upacara sudah membayar hutang kepada leluhur, sehingga pikiran mereka menjadi tenang dan bahagia.
The Tradition of Jaran Gading of Ngusaba Dalem in Adat Lebu Village Gama, I Wayan
Interdiciplinary Journal and Hummanity (INJURITY) Vol. 4 No. 8 (2025): Injuruty: Interdiciplinary Journal and Humanity
Publisher : Pusat Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58631/injurity.v4i8.1467

Abstract

Lack of understanding of the implementation of the Jaran Gading Tradition in Ngusaba Dalem in Lebu Traditional Village, Sidemen District, Karangasem Regency. So it requires scientific academic study. This study aims to (1) describe the means of ceremonies of the Jaran Gading Tradition in Ngusaba Dalem. (2) to describe the procession of the Jaran Gading Tradition in Ngusaba Dalem. (3) to describe the purpose of the Jaran Gading Tradition in Ngusaba Dalem. Tradition is a habit that is born in a certain area and has been passed down from generation to generation and has been carried out for a long time and then passed on to the next generation. Jaran Gading is a yellow/golden horse, while Ngusaba Dalem is an offering ceremony to Ida Bhatara Shiva as an expression of gratitude for all the graces He has given at Dalem Temple. This research is classified as qualitative research with data collection techniques through observation, interviews and document recording. Data analysis using qualitative descriptive analysis consists of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that (1) The ceremonial facilities used in the ceremony consist of the clothes used and the ceremonial facilities, namely in the form of banten which is presented to each palinggih. (2) The implementation process can be divided into 3 (three), namely: 1) preparation, which is the first activity before carrying out peak activities; 2) the core/peak procession of the event is the core event of the implementation of the activity; and 3) the closing is the last series of events that marks the end of the activity. (3) The purpose is to be a means of offering, a means of supplication, a means of expressing gratitude, a means of fostering a sense of brotherhood. Through this activity, it is hoped that Ida Bhatara Shiva, who is stationed at Dalem Temple , will be pleased to revive this universe and its contents, so that it can be beneficial for human life, and existing creatures, including humans, are given welfare and live well in carrying out their obligations.
Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Homa Yajna di Griya Tegeh Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem Gama, I Wayan
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i6.2239

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktek, fungsi, dan nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam ritual Homa Yajna di Geria Tegeh, Karangasem. Homa Yajna merupakan salah satu ritual Hindu yang bersumber dari kitab suci Veda dan bertujuan untuk memohon berbagai bentuk kesejahteraan spiritual dan material. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan empiris dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek Homa Yajna di Geria Tegeh melibatkan beberapa tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian ritual, dengan menggunakan berbagai sarana upacara seperti padi, kacang hijau, dan kayu cendana. Fungsi utama Homa Yajna meliputi permohonan kedamaian, keturunan, kebahagiaan roh, kesehatan, dan kesejahteraan hidup. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa ritual Homa Yajna mengandung nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu seperti pengendalian diri (tapa), persembahan (yajna), spiritualitas (prema), kepahlawanan (wirayuda), dan pengetahuan (jnana). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut mengenai pentingnya ritual Homa Yajna dalam membangun kehidupan spiritual yang harmonis dan mendalam bagi umat Hindu, serta memberikan kontribusi praktis dalam pelaksanaan upacara keagamaan di masa depan.