Samuel Purdaryanto
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Strategi Pelayanan Misi Dimasa Pandemi Coronavirus Disease 2019 Waruwu, Adieli; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 7 No. 2 (2021): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.466 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v7i2.171

Abstract

At the end of 2019, the whole world and Indonesia were shocked by the emergence of the new coronavirus disease 2019. It has been more than a year since this disaster struck. The number of victims around the world has reached more than one hundred million with the death toll of more than two million people. Various efforts have been made to prevent the spread of this virus, one of which is social restrictions so that it has an impact in various areas of human life. One of the impacts is the missionary service which usually carries out social and face-to-face interactions. By using qualitative research methods with a literature review approach, observation, and interviews and then describing, this study will provide answers and solutions for mission service strategies during the Covid19 pandemic. The results of this study found answers to mission services online or online. By utilizing internet networks and social media, the gospel can still be preached despite social restrictions. Facebook, YouTube, Instagram, and Tiktok are some social media applications that can be used for mission services during the Covid-19 pandemic, through these applications this news can be presented in the form of writing, audio, and video which are shared via social media. This strategy, with its strengths and weaknesses, provides a great opportunity to continue working on the Great Commission of the Lord Jesus during the Covid-19 pandemic.
Studi Teologis Makna Menghujat Roh Kudus Menurut Injil Sinoptik Sebagai Dosa Yang Tidak Diampuni Baskoro, Paulus Kunto; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 8 No. 2 (2022): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.625 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v8i2.221

Abstract

Sin is an attitude that destroys human life (Ps. 32: 3-4; 51: 4, 7). Since the fall of the first man in the garden of Eden, all humans have been under the bondage of sin (Gen. 3; Rom. 5:12-14). Over time, all attempts at repair fail and one error leads to another (Isa. 64:6; Rom. 3:10-12). Various issues regarding the sin of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin have caused anxiety in the hearts of believers because they think they have committed the sin without realizing it. This study uses the descriptive method of literature as the method used to describe or present the results based on a literature review as well as by extracting hermeneutics and exegesis of texts in the synoptic gospels. The purpose of this study is, first, to describe the notion of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin, using appropriate and biblical principles. Second, compare the results of the interpretation with several interpretations that contrast with the statements of the Bible in other parts that take all sin seriously (Rom. 6:23). Third, every believer has a complete understanding of the meanings of sin, so that they can seriously live in Christ.
SIKAP DAN TINDAKAN ORANG KRISTEN TERHADAP ANCAMAN POLITIK IDENTITAS DAN INTOLERANSI: SEBUAH KAJIAN TEOLOGI PRAKTIS Arifianto, Yonatan Alex; Suhadi, Suhadi; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 9 No. 2 (2023): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v9i2.311

Abstract

Abstrak: Persoalan bangsa yang besar lewat perselisihan yang menimbulkan disintegrasi bangsa secara horizontal sangat disayangkan terjadi di Indonesia. Namun hal itu terjadi karena masyarakat mau di adu domba dengan oknum serakah kekuasaan dengan mengorbankan kerukunan bertujuan mereduksi keberagaman dan kemajemukan bangsa. Menggunakan metode kualitatif deskritif maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab orang percaya atau gereja secara umum yang berada dalam fenomenologi politik identitas. Sejatinya orang percaya dapat menciptakan kerukunan dan memperkokohnya melalui sikap yang menjadi berkat dalam ruang publik. Hal itu juga selaras dengan apa yang dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan oleh pejuang kemerdekaan yang tidak melihat latar belakang SARA. Begitu juga kemajemukan harus tetap dijaga dan dikawal dengan tindakan-tindakan setiap hari yang tidak pernah menyinggung sentimen berlebihan dari identitas manusia. Oleh karena itu saling menghargai dan menghormati menjadi cara tersendiri untuk memperkokoh kerukunan supaya bangsa besar atas nama Indoensia ini memberi rasa nyaman bagi generasi selanjutnya
PHUBBING DALAM PERSPEKTIF ETIS TOLOGIS: KAJIAN MEREDUKSI ANTI SOSIAL DALAM MASYARAKAT Budiyana, Hardi; Arifianto, Yonatan Alex; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.405

Abstract

Kecanggihan teknologi dan informasi yang kian masif hadir untuk memanjakan dan membantu manusia melakukan tugasnya dengan mudah, namun ketergantungan atau kecanduan akan gadget memicu timbulnya karakter baru dalam masyarakat. Salah satu karakter baru yang muncul di era teknologi ini yaitu phubbing. Tujuan penulisan Artikel ini, agar umat Tuhan dapat memahami pentingnya sikap menghargai dalam komunikasi. Dan prilaku tersebut dapat merusak hubungan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa kekristenan harus mengetahui hakikat dan definisi phubbing dan dampaknya, dimana Phubbing merupakan perilaku kurang peduli dianggap sebagai perilaku anti-sosial yang dapat merusak hubungan sosial dan kesehatan mental. Maka orang Kristen dapat menggunakan prinsip-prinsip Alkitab untuk membimbing perilaku dan interaksi dengan orang lain, termasuk penggunaan teknologi dan memberikan pengajaran pendidikan Kristen terkait menghormati dan menempatkan skala prioritas dalam peribadatan. Phubbing dan anti sosial dalam perspektif etis teologis dapat dianggap sebagai perilaku yang mereduksi anti-sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, menghindari phubbing dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan sosial dan mengurangi dampak negatif dari kebiasaan ini pada kesehatan mental. Maka aktualisasi dari peran gereja dalam mereduksi anti sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk menghindari sikap dan prilaku phubbing.
Strategi Penginjilan dalam Menjangkau Generasi Z Hia, Firman Jaya; Purdaryanto, Samuel; Daeli, Regueli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 1 (2025): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i1.243

Abstract

The Great Commission is the mandate of the Lord Jesus to all believers (His church) which is always relevant throughout the century including in the digital era. In implementing it, of course, it requires an effective strategy, intellectual and perseverance and targets to complete it. In relation to generation Z called I-generation and digital natives are more adept at technology (Tech Savvy) and social media becomes their lifestyle. This study describes the actualization of the great commission in the era of digital strategy evangelism to reach generation Z through the use of digital platforms. The author uses qualitative methods to answer research problems. The final result is the author describes the use of digital platforms, types of digital platforms and evangelism strategies in the digital era through digital platforms, so that through this study it can be a guide for churches and believers to reach today's generation Z in the digital era. Abstrak:Amanat Agung adalah mandat Tuhan Yesus kepada seluruh orang percaya (gereja-Nya) yang senantiasa relevan sepanjang abad termasuk diera digital. Dalam mengimplementasikannya tentunya membutuhkan Strategi yang efektif, intelektual ketekunan dan sasaran untuk menutaskannya. Sehubungan dengan generasi Z disebut I-generation dan digital native lebih mahir dalam teknologi (Tech Savvy) dan media sosial menjadi gaya hidup mereka. Penelitian ini mendeskripsikan aktualisasi amanat agung diera digital strategi penginjilan untuk menjangkau generasi Z melalui pemanfaatan Platform digital. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil akhirnya penulis menemukan pemanfaatan platform digital, jenis-jenis platform digital dan strategi penginjilan diera digital, temuan ini dapat menjadi panduan bagi gereja dan orang percaya untuk menjangkau generasi Z masa kini diera digital. Kata Kunci: Amanat Agung, Era digital,  generasi Z
Menjadi Saksi Kristus Di Era Digital Purdaryanto, Samuel; Daeli, Regueli
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 5 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v5i2.1048

Abstract

Becoming a witness of Christ in the midst of the world is a Great mandate given directly by the Lord Jesus Christ before He ascended to heaven. The command to be a witness to the ends of the earth has not been completed until now which has entered the digital era. The command to be a witness must still be carried out so that all ethnic groups become disciples of Christ. Through qualitative research methods, this study describes how to be a witness in the digital era. The results of this study explain what the digital era is, and how to use digital platforms as a means to witness Christ to many people. This study concludes that believers must adapt to being in the digital era by utilizing digital platforms such as social media as a means of witnessing the gospel news. Keywords: Witness, digital era, social media Menjadi saksi Kristus di tengah dunia merupakan mandate Agung yang diberikan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus sebelum Ia naik ke surga. Perintah menjadi saksi hingga ujung bumi masih belum tuntas hingga saat ini yang telah memasuki era digital. Perinta menjadi saksi tetap harus dijalan agar semua suku bangsa menjadi murid Kristus. Memalui metode penelitian kualitatif, penelitian ini mendeskripsikan bagaimana menjadi saksi di era digital. Hasil penelitian ini menjelaskan apa itu era digital, dan bagaimana menggunakan platform digital sebagai sarana untuk menyaksikan Kristus kepada banyak orang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa oang percaya harus beradaptasi dalam menjadi di era digital dengan memanfaatkan platform digital seperti media sosial sebagai saran dalam menyaksikan berita Injil.