Samuel Purdaryanto
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Membangun Keluarga Bermisi: Integrasi Pendidikan Agama Kristen Dan Praktik Misi Dalam Kehidupan Sehari-Hari Sitepu, Elisabeth; Purdaryanto, Samuel; Hasugian, Johanes Waldes; Munthe, Sharon Salsalina G; Butar Butar, Rudy
DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STIPAK Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32490/didaktik.v8i2.295

Abstract

Pelayanan misi merupakan tugas semua orang percaya, namun tidak semua mampu melaksanakannya karena keterbatasan pemahaman teologis dan kurangnya keterampilan praktis. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama dalam pendidikan atau pewarisan iman Kristen memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembentukan spiritualitas misi ataupun orientasi hidup bermisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana integrasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam kehidupan keluarga dapat membangun keluarga yang bermisi serta mendorong praktik misi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur melalui analisis tematik terhadap buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi PAK dalam keluarga dapat memperkuat identitas rohani, membentuk karakter Kristus, dan menumbuhkan kepekaan misi sejak dini melalui praktik ritus keluarga, keteladanan orang tua, pemuridan internal, serta keterlibatan anak dalam tindakan pelayanan sederhana. Konsistensi penerapan nilai iman dalam keluarga terbukti menjadi faktor kunci dalam menumbuhkan semangat misi yang berkelanjutan. Selain itu, kolaborasi antara keluarga dan gereja, peningkatan kapasitas orang tua sebagai pendidik iman, serta dukungan kurikulum PAK yang aplikatif sangat menentukan efektivitas praktik misi keluarga. Temuan ini juga menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan yang melibatkan gereja dan komunitas Kristen sebagai mitra dalam memperkuat spiritualitas misi keluarga. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa keluarga merupakan unit strategis dalam menanamkan spiritualitas misi dan menjadi gerakan awal dalam memperluas pengaruh Injil melalui kehidupan sehari-hari
PHUBBING DALAM PERSPEKTIF ETIS TOLOGIS: KAJIAN MEREDUKSI ANTI SOSIAL DALAM MASYARAKAT Hardi Budiyana; Yonatan Alex Arifianto; Samuel Purdaryanto
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.405

Abstract

Kecanggihan teknologi dan informasi yang kian masif hadir untuk memanjakan dan membantu manusia melakukan tugasnya dengan mudah, namun ketergantungan atau kecanduan akan gadget memicu timbulnya karakter baru dalam masyarakat. Salah satu karakter baru yang muncul di era teknologi ini yaitu phubbing. Tujuan penulisan Artikel ini, agar umat Tuhan dapat memahami pentingnya sikap menghargai dalam komunikasi. Dan prilaku tersebut dapat merusak hubungan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa kekristenan harus mengetahui hakikat dan definisi phubbing dan dampaknya, dimana Phubbing merupakan perilaku kurang peduli dianggap sebagai perilaku anti-sosial yang dapat merusak hubungan sosial dan kesehatan mental. Maka orang Kristen dapat menggunakan prinsip-prinsip Alkitab untuk membimbing perilaku dan interaksi dengan orang lain, termasuk penggunaan teknologi dan memberikan pengajaran pendidikan Kristen terkait menghormati dan menempatkan skala prioritas dalam peribadatan. Phubbing dan anti sosial dalam perspektif etis teologis dapat dianggap sebagai perilaku yang mereduksi anti-sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, menghindari phubbing dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan sosial dan mengurangi dampak negatif dari kebiasaan ini pada kesehatan mental. Maka aktualisasi dari peran gereja dalam mereduksi anti sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk menghindari sikap dan prilaku phubbing.
Pemahaman Ekoteologı Dalam Menghadapi Kerusakan Lingkungan: Suatu Analisis Teologis Berdasarkan Kejadian 2:15 Samueli Hia; Samuel Purdaryanto; Hotminer Gulo
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 2 No. 1 (2026): Maret
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/1mf80k74

Abstract

Kerusakan lingkungan yang kian masif menuntut landasan teologis yang kuat sebagai solusi preventif. Namun, terdapat kesenjangan antara teks alkitabiah dengan praktik ekologis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep ekoteologi berdasarkan Kejadian 2:15 sebagai fondasi teologis dalam menanggulangi degradasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai literatur primer dan sekunder yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman dan implementasi nilai ekoteologi di kalangan orang percaya menjadi faktor pendorong kerusakan ekosistem dan krisis ekonomi. Ketidakmampuan menjalankan fungsi preservasi alam membuktikan perlunya rekonstruksi pemahaman atas tugas manusia sebagai pemelihara ciptaan. Penelitian menyimpulkan bahwa gereja dan komunitas Kristiani harus mengintegrasikan peran ekoteologis secara aktif dalam kehidupan praktis. Langkah ini krusial untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan yang lebih luas serta mewujudkan tanggung jawab iman yang holistik terhadap alam semesta.
Rekonstruksi Teologi Misi Berbasis Missio Dei dalam Ekosistem Digital Samuel Purdaryanto; Iman Kristina Halawa
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.341

Abstract

This study addresses the lack of a systematic theological framework in discussions of digital mission, which are often limited to media strategies and practical approaches. It aims to develop a theological framework of mission grounded in missio Dei within the digital ecosystem. Using a qualitative approach based on critical literature review and constructive theology, this study employs a systematic-contextual method through thematic analysis and theological synthesis. The findings show that digital mission should not be reduced to communication techniques but understood as the Church’s participation in the Trinitarian sending of God. This study proposes a conceptual framework that positions digital space as a relational environment where faith, community, and witness are formed through both online and offline interactions. The study contributes by integrating systematic theology with digital culture, offering a clearer theological foundation for mission in contemporary digital contexts. AbstrakPenelitian ini menanggapi keterbatasan kajian misi digital yang umumnya masih berfokus pada strategi media dan pendekatan praktis. Artikel ini bertujuan mengembangkan kerangka teologi misi digital berbasis missio Dei dalam konteks ekosistem digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi literatur kritis dan teologi konstruktif dengan pendekatan sistematika-kontekstual, yang dianalisis melalui analisis tematik dan sintesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi digital tidak dapat direduksi menjadi teknik komunikasi, melainkan harus dipahami sebagai partisipasi gereja dalam pengutusan Allah Tritunggal. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual yang menempatkan ruang digital sebagai lingkungan relasional tempat iman, komunitas, dan kesaksian dibentuk melalui interaksi daring dan luring. Kontribusi penelitian ini adalah integrasi antara teologi sistematika dan budaya digital sebagai dasar teologis bagi misi di era kontemporer. Kata kunci: Misi Digital, Teologi Misi, Misiologi Kontekstual
Strategi Penginjilan dalam Menjangkau Generasi Z Firman Jaya Hia; Samuel Purdaryanto; Regueli Daeli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 1 (2025): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i1.243

Abstract

The Great Commission is the mandate of the Lord Jesus to all believers (His church) which is always relevant throughout the century including in the digital era. In implementing it, of course, it requires an effective strategy, intellectual and perseverance and targets to complete it. In relation to generation Z called I-generation and digital natives are more adept at technology (Tech Savvy) and social media becomes their lifestyle. This study describes the actualization of the great commission in the era of digital strategy evangelism to reach generation Z through the use of digital platforms. The author uses qualitative methods to answer research problems. The final result is the author describes the use of digital platforms, types of digital platforms and evangelism strategies in the digital era through digital platforms, so that through this study it can be a guide for churches and believers to reach today's generation Z in the digital era. Abstrak:Amanat Agung adalah mandat Tuhan Yesus kepada seluruh orang percaya (gereja-Nya) yang senantiasa relevan sepanjang abad termasuk diera digital. Dalam mengimplementasikannya tentunya membutuhkan Strategi yang efektif, intelektual ketekunan dan sasaran untuk menutaskannya. Sehubungan dengan generasi Z disebut I-generation dan digital native lebih mahir dalam teknologi (Tech Savvy) dan media sosial menjadi gaya hidup mereka. Penelitian ini mendeskripsikan aktualisasi amanat agung diera digital strategi penginjilan untuk menjangkau generasi Z melalui pemanfaatan Platform digital. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil akhirnya penulis menemukan pemanfaatan platform digital, jenis-jenis platform digital dan strategi penginjilan diera digital, temuan ini dapat menjadi panduan bagi gereja dan orang percaya untuk menjangkau generasi Z masa kini diera digital. Kata Kunci: Amanat Agung, Era digital,  generasi Z
DOSA SEBAGAI WUJUD KETIDAKTAATAN TERHADAP FIRMAN ALLAH SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEKRISTENAN DI ERA MODERN Samuel Purdaryanto; Regueli Daeli
Sesawi Vol 7, No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v7i1.346

Abstract

Dosa merupakan wujud ketidaktaatan terhadap firman Allah. Dosa merupakan kerusakan moral, manusia terpisah dari Allah. Era modern, sekulerisme dan nilai pluralism menganggap dosa sebagai kategori legalistic. Dosa tidak hanya membawa pemisahan dengan Allah, namun juga dengan sesame. Penelitian ini bertujuan memberikan deskripsi penjelasan tentang dosa dalam prespektif Kejadian 3 dan juga Teologi Paulus. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi Pustaka, penulis menganalisis literarur-literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pembahasan tentang dosa sebagai pelanggaran terhadap firman Allah, berimplikasi terhadap kekristen masa kini, sebagai peringatan dan pengajaran sehingga memahami dosa sebagai wujud ketidaktaatan terhadap firman Allah, tidak hanya sebagai kajian historis dan teologis saja.
Kajian Moderasi Beragama dalam Perspektif Teologi Kristen dan Sosial Kontemporer Samuel Purdaryanto
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.580

Abstract

Indonesia is a country known for its religious, ethnic, and cultural diversity, requiring serious efforts to maintain harmony and peaceful coexistence. The challenges faced in religious life are becoming increasingly complex in the midst of globalisation and the rise of radical ideologies that threaten tolerance and peace. The phenomenon of increasing polarisation and conflict between religious groups highlights the importance of religion in building social cohesion. This study aims to examine religious moderation from the perspective of Christian theology and contemporary social dynamics. The method used is a qualitative-descriptive study through theological and social literature review. The findings reveal that the theological foundation of religious moderation in Christianity, rooted in biblical values and the theology of Christ's incarnation, serves as the moral and spiritual basis for believers to live harmoniously in a diverse society. When these values are implemented in contemporary social contexts through education, interfaith dialogue, and interreligious cooperation, religious moderation becomes a bridge connecting faith and social responsibility to create a moderate society. AbstrakIndonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagaman agama, suku, dan budaya, sehingga memerlukan upaya serius untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bersama. Tantangan yang dihadapi dalam kehidupan beragama semakin kompleks di tengah era globalisasi dan meningkatnya paham radikal yang mengancam toleransi dan perdamaian. Fenomena meningkatnya polarisasi dan konflik antar kelompok keagamaan menunjukkan pentingnya peran agama dalam membangun kohesi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji moderasi beragama dari sudut pandang teologi Kristen dan dinamika sosial kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa fondasi teologis moderasi beragama dalam Kekristenan, yang berakar pada nilai alkitabiah dan teologi inkarnasi Kristus, menjadi dasar moral dan spiritual bagi umat untuk hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk. Ketika nilai-nilai ini dijalankan dalam konteks sosial kontemporer melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan kerja sama lintas agama, moderasi beragama menjadi jembatan yang menghubungkan iman dan tanggung jawab sosial demi terciptanya masyarakat yang yang moderat.
Strategi Melayani Unreached People Groups Berdasarkan Kajian Eksegetis 1Korintus 9: 19-23 Samuel Purdaryanto
Manna Rafflesia Vol. 6 No. 2 (2020): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.116 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v6i2.122

Abstract

This theme discusses the exegetical study of contextual evangelism in 1 Corinthians 9: 19-23. Contextual evangelism has always been an interesting topic in discussions of Missiology and Ecclesiology. Although sometimes controversy, contextual evangelism is still one of the effective methods of preaching the gospel to the neglected tribes. The preaching of the cross-cultural gospel was one of the points Paul talked about with the church in the city of Corinth. The Apostle Paul said that preaching the gospel was a must for him (1 Corinthians 9:16). And in chapters 9: 19-23 the apostle Paul tells how the method or method he used to preach the gospel to those who are culturally different from himself. Gospel preaching is a mandate or the Great Commission given by the Lord Jesus to believers, and must be preached to all tribes and languages. In preaching the Gospel, Paul sets an example that is a strategy in contextual evangelism. The Apostle Paul willingly devoted himself "I made myself a servant, 1 Corinthians 9:19." Paul also adjusted to be able to understand those of different cultures "by becoming like". So you can win as much as possible. As well as a strong vision to win as many people as possible for Christ, so that they become saved. Paul understood the mandate given, to make Jews and non-Jews to be mursed Christ. Challenges and obstacles in preaching Inil are always there, but understanding methods based on God's word is the choice to get rid of these obstacles.
Strategi Pelayanan Misi Dimasa Pandemi Coronavirus Disease 2019 Adieli Waruwu; Samuel Purdaryanto
Manna Rafflesia Vol. 7 No. 2 (2021): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.466 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v7i2.171

Abstract

At the end of 2019, the whole world and Indonesia were shocked by the emergence of the new coronavirus disease 2019. It has been more than a year since this disaster struck. The number of victims around the world has reached more than one hundred million with the death toll of more than two million people. Various efforts have been made to prevent the spread of this virus, one of which is social restrictions so that it has an impact in various areas of human life. One of the impacts is the missionary service which usually carries out social and face-to-face interactions. By using qualitative research methods with a literature review approach, observation, and interviews and then describing, this study will provide answers and solutions for mission service strategies during the Covid19 pandemic. The results of this study found answers to mission services online or online. By utilizing internet networks and social media, the gospel can still be preached despite social restrictions. Facebook, YouTube, Instagram, and Tiktok are some social media applications that can be used for mission services during the Covid-19 pandemic, through these applications this news can be presented in the form of writing, audio, and video which are shared via social media. This strategy, with its strengths and weaknesses, provides a great opportunity to continue working on the Great Commission of the Lord Jesus during the Covid-19 pandemic.
Studi Teologis Makna Menghujat Roh Kudus Menurut Injil Sinoptik Sebagai Dosa Yang Tidak Diampuni Paulus Kunto Baskoro; Samuel Purdaryanto
Manna Rafflesia Vol. 8 No. 2 (2022): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.625 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v8i2.221

Abstract

Sin is an attitude that destroys human life (Ps. 32: 3-4; 51: 4, 7). Since the fall of the first man in the garden of Eden, all humans have been under the bondage of sin (Gen. 3; Rom. 5:12-14). Over time, all attempts at repair fail and one error leads to another (Isa. 64:6; Rom. 3:10-12). Various issues regarding the sin of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin have caused anxiety in the hearts of believers because they think they have committed the sin without realizing it. This study uses the descriptive method of literature as the method used to describe or present the results based on a literature review as well as by extracting hermeneutics and exegesis of texts in the synoptic gospels. The purpose of this study is, first, to describe the notion of blaspheming the Holy Spirit as an unpardonable sin, using appropriate and biblical principles. Second, compare the results of the interpretation with several interpretations that contrast with the statements of the Bible in other parts that take all sin seriously (Rom. 6:23). Third, every believer has a complete understanding of the meanings of sin, so that they can seriously live in Christ.