Suryadi, Rudi
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEKNOLOGI PENYAMBUNGAN (GRAFTING) MENDUKUNG PENGEMBANGAN, PEREMAJAAN DAN REHABILITASI PERTANAMAN JAMBU METE / Grafting Technology for Support Extensification, Replanting, and Rehabilitation of Cashew Plantation Suryadi, Rudi
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.85-100

Abstract

Initially cashew cultivation was aimed at marginal land conservation. A tight spacing (3 m x 3 m) so that the crown can cover the ground as quickly as possible to prevent soil erosion during rain and deciduous cashew leaves will add soil organic matter. Therefore aspects of plant productivity have not been a concern. As the price of cashew nuts tends to increase every year. This can encourage farmers to try cashew crops more seriously. At present, cashew cultivation is not only an effort to conserve marginal land, but also as a source of income for farmers, especially in Eastern Indonesia (KTI). Until 2016, Indonesia's cashew area had reached 514,491 ha with production of 137,094 tons. However, the level of productivity is considered still low, namely 430 kg logs/ha/year, far below India and Nigeria in the range of 900-2,286 kg logs/ha/year. Some factors that cause low productivity of Indonesian cashew are (1) the quality of plant material used, (2) disruption of pests and diseases, (3) maintenance of plants, and (4) the number of old plants (> 30 years). For this reason, efforts need to be made to increase the productivity of cashew, by implementing grafting technology in the extensification, replanting and rehabilitation of cashew. Research related to the grafting has been done quite a lot and produced, both grafting in nurseries and directly on the field (top working). The production potential of 9 superior varieties released ranged from 5.97 - 37.44 kg logs/trees/year or an average of 16.70 kg logs/trees/year. If the extensification, replanting and rehabilitation activities apply the grafting technology using the stem from superior varieties, it will be able to increase the productivity of Indonesian cashew to 1,670 kg logs/ha/year or increase by 300% from current productivity. AbstrakAwalnya penanaman jambu mete bertujuan untuk konservasi lahan marjinal. Jarak tanam rapat (3 m x 3 m) agar tajuk dapat secepat mungkin menutup permukaan tanah untuk mencegah erosi permukaan tanah saat hujan dan daun jambu mete yang gugur akan menambah bahan organik tanah. Oleh sebab itu aspek produktivitas tanaman belum menjadi perhatian. Seiring perkembangan harga kacang mete cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut mampu mendorong petani untuk mengusahakan tanaman jambu mete lebih serius. Saat ini penanaman jambu mete tidak hanya sebagai usaha konservasi lahan marjinal, namun menjadi sumber pendapatan petani, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sampai 2016, luas areal mete Indonesia telah mencapai 514.491 ha dengan produksi 137.094 ton. Namun, tingkat produktivitas dianggap masih rendah yaitu 430 kg gelondong/ha/tahun, jauh dibawah India dan Nigeria pada kisaran 900-2.286 kg gelondong/ha/tahun. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas jambu mete Indonesia yaitu (1) mutu bahan tanaman yang digunakan, (2) gangguan hama dan penyakit, (3) pemeliharaan tanaman, dan (4) banyaknya tanaman tua (>30 tahun). Untuk itu perlu ditempuh upaya meningkatkan produktivitas jambu mete, dengan menerapkan teknologi penyambungan pada kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi pertanaman jambu mete. Penelitian terkait penyambungan sudah cukup banyak dilakukan dan dihasilkan, baik penyambungan di pembibitan maupun langsung di lapang (top working). Potensi produksi dari 9 varietas unggul yang dilepas berkisar antara 5,97- 37,44 kg gelondong/pohon/tahun atau rata-rata 16,70 kg gelondong/pohon/tahun. Apabila kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi menerapkan teknologi penyambungan menggunakan batang atas dari varietas unggul, akan mampu meningkatkan produktivitas jambu mete Indonesia menjadi 1.670 kg gelondong/ha/tahun atau meningkat 300 % dari produktivitas saat ini. 
STRATEGI PENELITIAN BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING PALA / Research Strategy of Cultivation to Improve Productivity and Competitiveness of Nutmeg Suryadi, Rudi
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.01-13

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah negara penghasil sekaligus pengekspor pala nomor satu di dunia. Pala merupakan komoditas strategis sub sektor perkebunan karena selain sebagai penghasil devisa negara juga penyerap lapangan kerja dengan melibatkan jumlah petani yang cukup banyak. Permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya produktivitas dan kualitas pala Indonesia dibandingkan negara pengekspor pala lainnya, seperti Grenada dan India, sehingga daya saingnya menjadi rendah. Saat ini telah dilepas 4 varietas unggul pala yang mempunyai potensi produksi antara 5.120 - 7.500 butir/pohon atau 1.000 - 1.500 kg /tahun dengan kadar minyak atsiri pada biji antara 10,80% - 11,85% dan pada fuli antara 13,9% - 20%. Apabila dalam pengembangan luas areal pertanaman pala menggunakan tanaman sambungan dari varietas unggul, maka potensi peningkatan produktivitasnya dapat ditingkatkan dari 472 kg/tahun menjadi 1.500 kg/tahun. Agar potensi produksi dari varietas unggul tersebut muncul, maka perlu didukung dengan teknologi budidaya yang benar dan efisien, seperti penentuan jarak tanam yang optimal, penentuan rekomendasi pupuk yang berimbang dan spesifik lokasi, serta optimasi sex ratio untuk meningkatkan tanaman yang produktif dari 60% menjadi 90% dengan penyambungan in situ. Namun, melihat perkembangan penelitian pala sampai saat ini, informasi hasil penelitian budidaya pala masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu disusun strategi penelitian budidaya untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas hasil yang efisien. Tersedianya teknologi budidaya pala yang applicable dan feasible akan mendorong tercapainya efisiensi peningkatan produktivitas dan kualitas, sehingga selain berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani juga akan meningkatkan daya saing pala Indonesia di pasar internasional. Kata kunci : Myristica fragrans, budidaya, daya saing, efisien,  produktivitas.ABSTRACT Indonesia is the first producer and exporter of nutmeg in the world. Nutmeg is a strategic commodity since it generates foreign exchange as well as providing jobs for number of farmers.  The main problem in nutmeg is low productivity and product quality, hence the competitiveness is lower than other exporting countries such as Grenada and India. Currently, has been released four varieties of nutmeg prefetch queue that have the potential to produce between 5.120 - 7.500 grains/tree or 1.000 -1.500 kg/year with oil content in seeds between 10,80% - 11,85% and the mace between 13,9% - 20%. If the development of area using grafting material of  high-yielding varieties, the potential increase in productivity can be increased from 472 kg/year to 1.500 kg/year. In order for the potential production of high-yielding varieties appear, it needs to be supported with cultivation technology properly and efficiently, such as determining the optimal spacing, determination fertilizer recommendations impartial and specific locations, and optimization of sex ratio for increasing productive plant from 60% to 90 %  with graftign in situ. However, information related to research cultivation on nutmeg is very limited.  Therefore, it is important to develop research strategies of cultivation to support the improvement of productivity and product quality of nutmeg efficiently. The availability of cultivation  technology applicable and feasible, the efforts to increase the productivity and quality of nutmeg be achieved efficiently, so that in addition to impact on farmers' income increase of nutmeg will also improve the competitiveness of Indonesian nutmeg in the international market. Keywords: Myristica fragrans, cultivation, competiti-veness, efficient, quality, productivity.