Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Menelusuri Akar Konflik dan Kebijakan Damai di Tanah Papua Cahyo Pamungkas
Antropologi Indonesia Vol 40, No 2 (2019): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Violent conflicts that have been occurring in the Land of Papua since 1965 indicate no signs of coming to an end, even compounded by repression, discrimination, and marginalization of indigenous Papuans. This article aims to trace a number of studies of the Papuan conflict and its consequences to encourage the peace process. In addition, it aims to identify the gap between knowledge about the Papua conflict produced by researchers and the government policy to resolve the conflict. This research uses literature study. These studies were selected due to their focus on the asymmetrical power relations between the state and the people of Papua and the social context of research in the post-1998 Reform period that allowed the transformation of the independent Papua movement into a non-violent political movement. It argues that a number of social studies have identified the root causes of the Papua conflict and provided a variety of alternative peaceful solutions. However, a number of policies to make peace in Papua have failed, since the policymakers tend to base their policies on the political ideology of nationalism and the construction of colonial knowledge, namely 'civilizing' Papuans.
INTERGROUP CONTACT AVOIDANCE IN INDONESIA Cahyo Pamungkas
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i2.722

Abstract

The objective of this study is to investigate the relationship between ethno-religious identification and the avoidance of intergroup contact between Muslims and Christians in Ambon and Yogyakarta with considering individual factors. Also, this study aims to fill the gap in literature between studies that emphasize economic andpolitical contestation as the main sources of conflict and studies that focus on prejudice and discrimination as the causes of conflict. Lastly, this study focuses on examining ethnic group conflict theory, which is relevant to the analysis of ethno-religious conflicts in Western countries. The central research question is to what extent is there a relationship between ethno-religious identification among Christians and Muslims in Ambon and Yogyakarta, and avoidance of intergroup contact considering other individual-level determinants and particular intermediate determinants (salience of identity, perceived threats, intergroup contact, religiocentrism, attitudes toward religious plurality, interpretation of sacred writing, perceived discrimination, individual memory of violence, nationalistic attitudes, distrust, and social dominance orientation). I use both qualitative and quantitative methods as approaches to gathering and analysing data to support this study. The data collection methods included surveys, interviews, literature studies, and observations. Surveys were conducted among students at the undergraduate level with aminimum of second year standing from six universities in Ambon and Yogyakarta.Keywords: contact avoidance, ethno-religious identification, perceived-threat, religious pluralism ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara identifikasi etno-religius dan perilaku menghindari interaksi antarkelompok, antara Muslim dan Kristen di Ambon dan Yogyakarta, dengan mempertimbangkan faktor-faktor pada tingkat individu. Selain itu, studi ini juga dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan dalam literatur antara studi yang menekankan kontestasi ekonomi dan politik sebagai sumber utama konflik dan studi yang berfokus pada prasangka dan diskriminasi sebagai penyebab konflik. Terakhir, penelitian ini difokuskan pada menguji teori konflik etnis yang relevan dengan analisis konflik etnik-agama di negara-negara Barat pada konteks Asia Tenggara. Pertanyaan penelitian studi ini adalah sejauh mana hubungan antara identifikasi etnikreligius di antara komunitas Muslim dan Kristiani di Ambon dan Yogyakarta dengan perilaku mereka menghindariinteraksi antarkelompok etnik-religius dengan mempertimbangkan faktor-faktor indivdu, seperti perceived threat, religious pluralism, perceived discrimination, dan kontak anatrkelompok serta memori kekerasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Metode pengumpulan data termasuk survei, wawancara, studi literatur, dan observasi. Survei dilakukan di kalangan mahasiswa tingkatsarjana dengan minimal tahun kedua di enam universitas di Ambon dan Yogyakarta.Kata kunci: perilaku menghindari interaksi, identifikasi etno-religius, perasaan terancam, pluralism keagamaan
NASIONALISME MASYARAKAT DI PERBATASAN LAUT: STUDI KASUS MASYARAKAT MELAYU-KARIMUN Cahyo Pamungkas
Masyarakat Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v41i2.253

Abstract

Tulisan ini mempunyai tujuan sebagai berikut. Pertama, mendeskripsikan upaya pemeliharaan rasa kebangsaan yang telah dilakukan negara terhadap masyarakat perbatasan. Kedua, mengkaji sejauh mana masyarakat perbatasan mempunyai pengetahuan tentang negara dan perbatasan. Ketiga, melihat sejauh mana masyarakat perbatasan memiliki kebanggaan nasional dan memaknai nasionalisme. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini terdiri dari wawancara, diskusi kelompok terbatas, pengamatan terlibat, dan studi literatur yang dilakukan di Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Batu (Kabupaten Karimun). Temuan dalam studi ini sebagai berikut. Pertama, penguasaan pengetahuan terhadap NKRI sebagai konsepsi politik serta kebanggaan nasional masyarakat perbatasan pada masa kini semakin meningkat karena perkembangan teknologi informasi dan upaya pemeliharaan wawasan kebangsaan yang dilakukan oleh Pemerintah. Kedua, nasionalisme yang didefinisikan oleh negara, yang diukur dengan pemahaman terhadap wawasan kebangsaan, kurang relevan dengan konteks sosial ekonomi masyarakat perbatasan yang masih hidup dalam keterbatasan. Ketiga, upaya pemeliharaan rasa kebangsaan dapat dilakukan dengan mengakomodasi dan memberikan ruang bagi perkembangan identitas dan kebudayaan masyarakat perbatasan dalam bingkai rumah Indonesia.Kata kunci: perbatasan, nasionalisme, upaya pemeliharaan nasionalisme, makna nasionalisme.
Building Social Resilience on Asmat People: Social and Cultural Perspective Cahyo Pamungkas
Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i1.489

Abstract

Berbagai kajian mengenai Asmat selama ini lebih banyak dari kajian seni ukir dan kekayaan budaya kayunya. Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang menyerang anak-anak Balita di daerah ini sejak Bulan September 2017 sampai pertengahan Bulan Januari 2018 telah membuka mata dunia internasional bahwa keberlanjutan Suku Asmat dipertanyakan. Berbagai analisis ilmiah menjelaskan bahwa peristiwa kematian masal Balita ini disebabkan oleh persoalan rendahnya budaya kesehatan, lingkungan yang kurang mendukung, dan sulitnya menyediakan pelayanan kesehatan pada daerah yang terisolir. Seolah-olah orang dan budaya suku Asmat dan situasi geografisnya menjadi penyebab dari penyakit ini. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menarasikan bagaimana melihat wabah penyakit tersebut dari perspektif sosial dan kultural, yaitu rendahnya ketahanan sosial suku Asmat. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan diskusi terfokus di Jayapura. Kerangka teori yang digunakan adalah pendekatan ekologis dan kebudayaan dalam melihat keberlanjutan suatu komunitas agar sanggup menghadapi perubahan lingkungan eksternalnya. Argumentasi yang dibangun dalam artikel ini adalah menyelamatkan suku Asmat dalam jangka panjang hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan mereka ke habitatnya dan mengurangi ketergantungan pada konsumsi pangan yang disediakan oleh pasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab mendasar KLB Asmat adalah ketercerabutan Orang Asmat dari habitat ekologinya sehingga mereka bergantung pada pangan yang disediakan oleh pasar.Various studies on Asmat ethnicities tend to focus on carving art and cultural richness of wood. Since the malnutrition and measles affecting children under five in this area from September 2017 to mid January 2018 has opened the eyes of international communities that the sustainability of Asmat tribe is questioned. Various scientific analyzes explain that the mass death of children resulted from low health culture, the less supportive environment, and the difficulty of providing health services to isolated areas. It implicitly says that the people, culture, and environment of Asmat tribes are the main causes of this disease. It is as if the Asmat people and culture and the geographical situation are the cause of this disease. Therefore, this article aims to describe the epidemic from a social and cultural perspective, namely the low social resilience of the Asmat. The research method is conducted by using literature studies and a focused discussion in Jayapura. The theoretical framework used is the ecological and cultural approach to viewing the sustainability of a community to be able to cope with environmental change. The argument of this study is to save Asmat tribes in the extended period only by restoring them to their habitat and reducing the dependence on the food consumption provided by the market. Results of this study indicate that the underlying cause of Asmat outbreaks is the gratuity of Asmat people from their ecological habitats so that they depend on the food provided by the market.
Global village dan Globalisasi dalam Konteks ke-Indonesiaan Cahyo Pamungkas
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.946 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.245-261

Abstract

Tulisan ini memunculkan definisi global village dalam konteks Indonesia. Bagian pertama dari makalah ini menjelaskan konsep awal global village oleh McLuhan (1962) yang terkait dengan keterhubungan antarwarga dunia. Bagian kedua menerangkan respon terhadap konsep global village dan bagian bagian ketiga menjelaskan perbedaan antara global village dan globalisasi. Akhirnya, penelitian ini menggambarkan global village dan globalisasi dalam konteks Indonesia. Global village dapat didefinisikan sebagai fenomena globalisasi pada masa kini yang dapat dikenali dari akibatnya yakni melemahnya batas-batas nasional, menghilang identitas dan budaya lokal, mengancam ekonomi nasional di tengah-tengah ekspansi modal, dan meningkatnya migrasi internasional. Konsep ini mengacu pada spektrum masyarakat baru yang melampaui batas-batas geografis, ekonomi, politik dan budaya dan menekankan pada arus informasi dalam jaringan komunikasi.