Budaya bermukim nomaden menciptakan proses adaptasi yang mempengaruhi pola aktivitas berhuni masyarakat. Penelitian ini mengkaji bagaimana setting perilaku kelompok rentan, khususnya kaum lanjut usia yang beradaptasi merespon potensi situasi kebencanaan terkait konsep budaya Ngalalakon, yaitu konsep nomaden di Desa Adat Kasepuhan Gelaralam. Metode penelitiannya deduktif-kualitatif, membawa teori untuk melihat bagaimana proses pola perilaku yang terbentuk dari objek penelitian (lansia) atas lingkungan bermukimnya yang nomaden. Data diambil melalui pengamatan perilaku dan wawancara yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian berupa 3 standar pola perilaku dari kelompok rentan lansia yang merespon potensi situasi kebencanaan dalam konsep budaya Ngalalakon, yang harapannya dapat berkontribusi pada pengetahuan dasar desain inklusif, terutama kelompok rentan lansia dalam merespon situasi potensi bencana nomaden, yaitu: 1) Kesadaran penuh atas kondisi tempat bermukim di alam yang semakin ekstrim, maka lansia menjadi pemberi saran dari pengalaman hidupnya agar masyarakat wajib menghargai alam, merawat dan peka terhadap tanda-tanda alam; 2) Aktivitas masyarakat yang periodik, lansia memiliki peran yang dijalankan rutin dalam tiap upacara adat sehingga nilai-nilai dan prosesinya terjaga, maka meniadakan kesenjangan proses adaptasi dan adjustment yang besar atas aktivitas lansia di tempat bermukim yang baru; 3) Keterikatan sosial masyarakat yang kuat, status lansia yang dituakan serta memiliki kewajiban memberikan seluruh pengetahuan untuk generasi selanjutnya, sehingga lansia mendapat kepercayaan, perhatian dan dukungan masyarakat di tempat bermukim yang baru