Zain, Muhammad Izzul Haq
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TOMBS OF IMOGIRI KINGS: COMMUNITY PERSPECTIVE IN THEIR RELATIONSHIP OF FUNCTIONAL THEORY Aarifah, Fadhlinaa Afiifatul; Zain, Muhammad Izzul Haq
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v9i1.5360

Abstract

This paper discusses the functional analysis that occurred around the Tombs of Imogiri Kings. It is to examine why many people willingly come to the tombs of Imogiri Kings while there are many objects of the tour in Yogyakarta. The purpose of this study was to determine the community's perspective on the tomb and its functions using Malinowski's theory analysis. Malinowski developed a functional theory with the understanding that culture is a standpoint with all the activities carried out actually intended to satisfy a series of instinctual needs of human beings related to human life. This research uses a qualitative method, which is written descriptively. The methods of data collection include field studies such as data collection methods include field studies by direct observation of the symptoms in the tombs of the Imogiri kings, conducting interviews with people involved in tomb activities, conducting participant-observers, following a number of rituals there, and literature study. The results of this study indicate that some community perspectives on the tombs of Imogiri kings that are considered sacred are formed from several factors such as history and mystical stories. This centralization then forms certain cultures and beliefs that have certain functions to fulfill the needs of human instincts as Malinowski's theory.
Kontekstualisasi Hadis Larangan Menggambar Dengan Desain Grafis Zain, Muhammad Izzul Haq
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : ilmu hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.2843

Abstract

Di era kini, desain grafis merupakan disiplin ilmu yang populer dan sangat dibutuhkan dalam berbagai hal. Banyak orang yang mempelajari ilmu ini baik melalui sekolah, kursus, atau bahkan otodidak. Dewasa ini, desain grafis identik dengan menggambar menggunakan software-software dalam media elektronik. Kegiatan ini tentunya tak lepas dari kegiatan menggambar, tak terkecuali menggambar makhluk bernyawa.  Dalam Islam, terdapat beberapa hadist yang berisi pelarangan membuat gambar makhluk bernyawa. Mengenai hal ini, para ulama’ memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang melarang secara mutlak melarang, dan ada juga yang memperbolehkan. Adanya pelarangan ini menimbulkan keraguan bagi para desainer Muslim yang biasa menggambar makhluk bernyawa. Padahal kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya pada pekerjaan tersebut. Artikel ini akan mencoba membahas hadist larangan menggambar dengan melakukan kontekstualisasi melalui pendekatan antropologis. Kontekstualisasi ini sangat penting, mengingat terdapat perbedaan kondisi sosial, budaya, politik, dan sistem nilai pada zaman Rasulullah dengan zaman sekarang. Selain itu, adanya perbedaan waktu dan tempat antara Arab dengan wilayah selain Arab melahirkan perbedaan konteks, sehingga perlu diadakan pemahaman secara kontekstual.  Jika melihat kondisi pada masa Nabi, masyarakat Arab masih berada dalam masa transisi dari kepercayaan animisme dan politeisme menuju kepercayaan monoteisme, sehingga larangan menggambar sangat masuk akal. Kemungkinan hal tersebut bertujuan untuk menjauhkan masyarakat Arab dari kebiasaan menyembah patung, gambar, dan semacamnya. Dari hal ini dapat diketahui bahwa ‘illat hukum larangan menggambar adalah belum hilangnya kebiasaan menyembah patung dan semacamnya. Pada masa sekarang, masyarakat lebih mengedepankan nilai-nilai estetika dalam memandang karya seni seperti patung dan lukisan. Dengan kata lain, masyarakat sekarang sudah tidak dikhawatirkan lagi untuk terjerumus terhadap penyembahan terhadap patung dan gambar. Oleh karena itu, apabila mengacu pada kaidah al-Hukmu Yaduru Ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman, maka hukum menggambar di masa sekarang adalah boleh. Hal ini dikarenakan ‘illat hukum dari larangan menggambar telah hilang. Dengan kata lain, mengingat desain grafis memiliki keserupaan dengan menggambar, maka hukum desain grafis di masa sekarang juga diperbolehkan.