Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MENYOAL SHUHBAH KAUM BADUI DAN BEBERAPA SAHABAT Ghozali, Moh. Yusni Amru
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18, No 1 (2020): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.235 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v18i1.2073

Abstract

Abstract: This article aims to celar up companionship of Beduin (a?rabi) and some of the companions of the Prophet. The approach that applied in this article is descriptif linguistic (that based on the appropriate grammar) by looking at terminology of ?shahabah? was presented by scholars (ulama). And then supported with historical approach trough studying for the term of ?shahabah? in genealogy from the first century to the ninth century of Hijriah. Relies on existing data, concluded that term of shahabah has fluctuating developments; thus giving rise to fragments of mazhab in its definition. These distinctive fragments in definition are the essentially sharpen differentiation; thus categorizing a group (Muhajirin and Anshar for example) as companions and at the same time eliminating other groups (such as Bedouin).    ??????: ???? ??? ??????? ?? ???? ???????? ???? ??????? ????? ????? ?? ??? ???????. ??????? ???? ???? ?? ??? ??????? ?? ????? ?????? (????? ??? ??????? ????????) ?????? ??? ???? ??????? ???? ????? ???????. ?? ????? ????? ????? ????????? ?? ????? ???? ??????? ?? ??? ??????? ???? ?? ????? ????? ??? ????? ?????? ??????. ???????? ?? ???????? ????????? ???? ??? ???? ??????? ??? ????? ???? ??? ???? ??? ???? ???? ???????. ???? ???? ??????? ?? ????? ?????? ???? ??????? ?? ???? ?? ??????? ???? ???????? ?? ?????? ??? ???? ??? ????? ??? ????????? ???????? ?? ???? ??????? ????? ??? ??? ???????? ??? ?? ???????. Abstrak: Penelitian ini mencari titik terang shuhbah kaum Badui dan beberapa sahabat yang lain. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan linguistik deskriptif (berpijak pada tata istilah yang sesuai) dengan mencermati terminologi ?sahabat? dari para ulama. Lalu, didukung dengan pendekatan historis melalui penelusuran istilah ?sahabat? secara genealogis dari abad pertama hingga abad sembilan Hijriah. Dari data yang ada disimpulkan bahwa istilah sahabat mengalami perkembangan yang fluktuatif sehingga melahirkan fragmen-fragmen mazhab dalam pendefinisiannya. Fragmen-fragmen distingtif dalam pendefinisian inilah yang hakikatnya menajamkan diferensiasi; sehingga mengategorikan suatu kelompok (Muhajirin dan Anshar, misalnya) sebagai sahabat, dan pada saat yang sama mengeliminir kelompok lain (seperti Badui). 
POLEMIK DI KALANGAN ULAMA TERKAIT HADIS MURSAL Moh. Yusni Amru Ghozali
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 3 No. 2 (2021): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.622 KB) | DOI: 10.57217/aldhikra.v3i2.786

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memetakan definisi hadis mursal dari pendapat ulama yang lahir di era mutaqaddimin hingga era mutaakhkhiri>n yang mengalami diskursus menarik. Riset ini berangkat dari banyaknya bias penggunaan istilah mursal pada hadis. Padahal dalam ilmu hadis, penggunaan istilah secara tepat merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi siapapun yang konsen di bidang hadis. Artikel ini mendukung pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menekankan pentingnya menggunakan definisi yang jami’, mani’ terhadap kata mursal dalam sanad hadis. Jika tidak, maka harus diberikan pengecualian. Riset ini menggunakan metode analisis teks yang ditulis para pakar hadis dari era klasik hingga modern. Artikel ini berkesimpulan bahwa ada beberapa definisi dari mursal dalam hadis. Beberapa ulama memberikan masing-masing kecenderungannya dalam memberikan definisi. Misalnya imam Ahmad menyamakan mursal dengan tadlis. Ada juga yang menyamakan dengan munqati’. Namun oleh ulama modern (mutaakhkhirin) deferensiasi tersebut berhasil dipetakan secara baik dan merekalah yang dianggap paling berjasa memetakan istilah- istilah dalam Ilmu Hadis secara mapan.
PERAN IMAM MALIK DAN AL-SYAFII DALAM MEMBANGUN FIQH AL-HADIS Moh. Yusni Amru Ghozali
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1111

Abstract

Fiqh al-hadis needs to receive more attention from modern researchers. It has yet to be widely discussed in research and separate works in the form of books, even though it is an istinbat methodology applicable to classical scholars’ scientific treasures. The need of people to understand the meaning and content of hadith is getting higher, bearing in mind that legal events that require arguments continue to grow and are complicated. the hadith becomes increasingly urgent context. Fiqh al-hadis is needed to offer an alternative that is virtuous in every time and place (salihun likulli zaman wa makan). Methodologically, the scientific work of fiqh al-hadis\ is more in-depth than the syarah} of hadith (helps the reader understand the words of hadith). Fiqh al-hadis\ is to reach wisdom, law, and position of hadith that can be seen from various sides, either sanad, Matan, even contextualizing it to the present time. Now. Through qualitative methods, this study traces the existence of Fiqh al-hadis from the books of syarah al-hadith and reliable narrations. The results of this study conclude that in the context of Fiqh al-hadis has a long and well-traced genealogy.
THE DEVELOPMENT OF THE METHODOLOGY OF THE 2ND – 13TH CENTURY HIJRI ULAMA IN UNDERSTANDING HADITH Ghozaly, Moh. Yusni Amru
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 4, No 1 (2023): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v4i1.93

Abstract

So far, the focus of the ummah on the study of the methodology used by the ulemas in taking their position as their thought process in producing legal products has not been carried out too muc, In fact, the methodology of the Ulama II-XIII is the core of ijtihad which must be explored to be studied and developed in order to answer the contemporary problems of the growing ummah. This article aims to explore and examine the methodological components used by the Ulama in that period. Through these components, the author also describes the development of methodology from time to time, related to concepts, styles, to the author's fanatical tendencies in their works. Based on literature research with a content analysis approach, the authors identify and select books that fall into the category of fiqh al-hadith. The writer finds the conclusion that the presence of the works of scholars of the II-XIII centuries dominantly influenced the development of methods of understanding hadith from time to time. From their work it can be seen the tendency of the schools of the Salaf scholars to draw legal conclusions methodologically, making it easier for contemporary hadith reviewers to read the jurists' thought maps and the stages of their istinbat from time to time. The study of fiqh al-hadis is growing after the emergence of hadith books using the tabwib al-fiqh method. [Selama ini fokus para sarjana hadis dan pengkaji Islam terhadap kajian metodologi yang digunakan para ulama dalam beristinbat sebagai proses berpikir mereka dalam melahirkan produk hukum, belum terlalu banyak dilakukan. Padahal, metodologi ulama salaf abad II-XIII Hijriyah adalah core ijtihad yang harus digali untuk dipelajari dan dikembangkan demi menjawab problem-problem kontemporer umat yang terus bertambah. Artikel ini bertujuan untuk menggali dan mengkaji komponen metodologi yang digunakan oleh ulama dalam periode tersebut. Melalui komponen-komponen tersebut, penulis juga menguraikan perkembangan metodologi dari masa ke masa, terkait konsep, corak, hingga kecenderungan fanatis pengarang dalam karya-karya mereka. Berbasis penelitian pustaka dengan pendekatan analisis konten, penulis mengidentifikasi dan memilih kitab-kitab yang masuk dalam kategori fiqh al-hadis,. Penulis menemukan kesimpulan bahwa kehadiran karya-karya ulama abad II-XIII , secara dominan memengaruhi perkembangan metode memahami hadis dari masa ke masa. Dari karya mereka dapat diketahui kecenderungan mazhab para ulama salaf dalam mengambil kesimpulan hukum secara metodologis, sehingga memudahkan para pengkaji hadis masa ini untuk membaca peta pemikiran fuqaha dan tahapan istinbat mereka dari masa ke masa. Kajian fiqh al-hadis semakin berkembang pasca munculnya kitab-kitab hadis dengan metode tabwib al-fiqh.]
Strategies of the Ulama in the Process of Islamization During Colonial Period in Nusantara Amru, Moh Yusni; Alnizar, Fariz; Madjied, M Din
Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture Vol. 5 No. 1 (2024): Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture
Publisher : Faculty of Islam Nusantara, Nahdlatul Ulama University of Indonesia (Unusia) Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47776/islamnusantara.v5i1.865

Abstract

This research focuses on the cultural strategies played by Indonesian ulama in the process of Islamization in the archipelago (Nusantara) during the colonial period. The cultural strategy built by Indonesian ulama is fundamentally inseparable from the seven elements of culture, namely knowledge, technology, economics, society, language, art, and religion. In this research, not all cultural elements are explained. Only the elements that were strategically directly used by ulama in Nusantara during the colonial period are explained. The method and concept of explanation is to explain the theory related to cultural elements according to experts, then contextualize it with the historical reality of Nusantara, especially the role of ulama in operating cultural elements as an Islamization strategy. Then, continued with relevant analysis, either as a conclusion or positioning it as an inspiration that gives birth to ideas. This research concludes that there are four cultural elements that were intensively played by Indonesian ulama in the Islamization process during the colonial period, namely the language system, political system, economic system, and knowledge system.
HIGIENITAS PENGELOLAAN DAGING KURBAN DI PPMNU KOTA BOGOR Hayaturrahman Hayaturrahman; Moh.Yusni Amru Ghozali; Abdul Qodir; Nurkabibullah Nurkabibullah; Roisatun Nisa Firdausiyah Abdur Rouf Sam
Jurnal Pengabdian Masyarakat : BAKTI KITA Vol. 6 No. 2 (2025): Mei - Oktober
Publisher : LPPM Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/baktikita.v6i2.9415

Abstract

Penyembelihan hewan kurban merupakan bagian penting dari perayaan Idul Adha. Namun, dalam praktiknya, proses penyembelihan hewan kurban sering kali menghadapi masalah dalam hal keamanan dan kebersihan makanan. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan agar makanan yang dihasilkan tidak hanya halal, tetapi juga thayyib, yang berarti aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Pusat Studi Halal (PSH) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) melakukan pelatihan di beberapa tempat, salah satunya di Pondok Pesantren Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PPMNU) di Desa Hambulu, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, pada Hari Raya Idul Adha 2024, dengan tujuan agar para santri dan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman mengenai higienitas dalam pengelolaan daging kurban. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan mahasiswa UNUSIA dan santri PPMNU, serta dukungan dari PSH UNUSIA. Ada empat langkah dalam metode pendampingan yakni persiapan, sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Terdapat 13 unsur higienis yang menjadi standar penilaian. Hasil dari pendampingan tentang kegiatan higienitas pengolahan daging qurban di PPMNU didapatkan nilai 61,53%. Beberapa hal penting yang belum dipenuhi dalam kegiatan penyembelihannya adalah pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem, pembuatan galian limbah hewan kurban, dan pemisahan antara jeroan dan daging dalam proses pengemasan