Salam, Rahayu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI PULAU WANGI-WANGI Salam, Rahayu
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.109

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan kearifan lokal dalam pengelolaan hutan Kaindea dan fungsinya bagi masyarakat di Pulau Wangi-Wangi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, kajian pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan Kaindea di Pulau Wangi-Wangi menyebar pada dua adat. Fungsi ekologis, sosial-budaya dan ekonomi masih baik, sementara hutan Kaindea di wilayah adat Wanci telah berubah, dari segi pengelolaan lahan. Pengelolaanhutan Kaindea secara umum didasarkan pada aturan adat. Kesimpulan dari tulisan ini bahwa pengelolaan hutan Kaindea memiliki fungsi ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Sehingga, hal itu menunjukkan bahwa kebijakan konservasi dan transformasi hutan rakyat, terlindungi dengan adanya kearifan lokal.
PERTUNJUKAN TARIAN PEPE-PEPEKA RI MAKKA Salam, Rahayu
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.115

Abstract

Tulisan yang disajikan ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan; (1) asal-usul tarian Pepe-pepeka Ri Makka; (2) Fase Pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka ; (3) fungsi pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka dan (4) nilai-nilai budaya yang terdapat dalam pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, catat, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa; (1) Tarian Pepe-Pepeka Ri Makka berasal dari dari pengaruh budaya Arab yang masuk ke wilayah Makassar dalam menyebarkan agama Islam. (2) Fase pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka adalah ragam ridoangnga (ragam berdoa), karenanna(religi permainan), dan ju’julu sulona-Ritongko’ (memberi cahaya api dan ucapan syukur). (3) Fungsi pertunjukan tarian Pepe-pepeka adalah sebagai ritual dalam penyebaran agama Islam pada perkembangan terakhir berfungsi sebagai hiburan. ; (4) terdapat beberapa nilai-nilai budaya yang tergambar dari tarian Pepe-Pepeka Ri Makka yaitu nilai filosofis yang terkait dengan konsep pada masyarakat Makassar yaitu salah satu mitologi appak sulapa (empat persegi) yakni , tana (tanah), jekne (air), angin (angin), dan Pepe (api). Dalam syair tari Pepe-pepeka ri Makka, makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam terkait dengan penyebaranagama Islam.
POLA PENGASUHAN ANAK DI KAMPUNG NELAYAN KELURAHAN UNTIA, MAKASSAR Salam, Rahayu
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v7i2.149

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar dengan tujuan untuk menjelaskan pola pengasuhan anak terkait dengan relokasi masyarakat nelayan dari Pulau Laelae ke Kelurahan Untia. Pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipasi dengan wawancara dilakukan untuk mengamati aktivitas individu yang terkait dengan pola pengasuhan anak pada saat sebelum dan sesudah relokasi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pola pengasuhan anak yang diterapkan oleh masyarakat nelayan Makassar di Laelae sebelum dan setelah relokasi ke Kelurahan Untia. Pola pengasuhan sebelum relokasi lebih kepada otoriter sedangkan setelah relokasi lebih kepada otoratif. Namun pada dasarnya masyarakat nelayan di Kelurahan Untia memberikan pengasuhan anak melalui kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga dan penanaman nilai-nilai. Hal tersebut berjalan dengan baik dengan adanya dukungan berupa fasilitas pendidikanformal dan informal di lingkungan pemukiman Untia. Peran orang tua terhadap anak tidak terjadi dalam satu arah saja, melainkan dari dua arah, interaksi antara anak dan orang tua yang selanjutnya mendapatkan pengaruh dari budaya, lembaga sosial dan pendidikan. Studi kasus komunitas nelayan hasil relokasi dari Pulau Laelae ke Kelurahan Untia dapat dijadikan role model untuk perencanaan atau pengembangan kawasan pemukiman nelayan di wilayah lain.