This Author published in this journals
All Journal Jurnal Anala
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KOMPUTERISASI GEGULAK BANGUNAN SEBAGAI PENGEMBANGAN PERANCANGAN KERJA KONVENSIONAL DALAM ARSITEKTUR BALI TRADISIONAL Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 1 No 1 (2013): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.927 KB) | DOI: 10.46650/anala.1.1.173.%p

Abstract

Pada perlembangân tiga dasa warsa terakhir ini terasa ada kesenjangan antara penampilan karya arsitektur tradisional yang lalu dengan karya arsitektur sekarang. Dapat ditarik perkiraan kasar bahwa jumlah dan bangunan tersebut sudah arnat kecil. Tetapi bila meithat arsitektur tradisional sebagai usaha pendekatan prinsip-prinsip tradisional, maka jumlah bangunan-bangunan yang demikian akan segera menuju kepunahannya, bila tidak ada tindakan-tindakan khusus dibidang itu. Sumber pokok yang menjadikan hal tersebut adalah makin berkurangnya kernampuan membaca naskah-naskah tradisional ash ataupun transkripsinya maupun kemampuan menerapkan rumusan-rumusan tradisional, sebagairnana tercatat dalam naskah bersangkutan. Untuk itu diperlukan suatu modifikasi Metode keila Gegulak ke metode tabel yang mempermudah pemaharnan dan pelaksanaannya. Pemakaian tabel pada suatu disain umurnnya dapat menyederhanakan serta mempercepat proses perhitungan. OIeh karenanya penulis menampilkan sekumpulan tabel agar dapat digunakan untuk mendisain bangunan tradisional Bali yang bersumber pada lontar Hasta Kosala kosali (sumber pustaka dalarn Arsitektur Tradisional Bali). Metode yang dipakai dalam penyusunan tabel mi ad4lah observasi lapangan dan analisis sumber-sumber tertulis baik sumber tradisiorial berupa salmansalman lontar atau transkipsi maupun sumber-sumber naskah modern. Acuan dasar datam penyusunan tabel mi adalah antropometri dan sipernilik batigunan yang dibuatkan disain. Penyusunan tabel mi dibuat dengan bantuan program komputer yang didasarkan pada teori-teori dan gegulak (gegulak adalah rumusan dalam lontar Hasta Kosala Kosali). Hasilnya adalah berupa alternatif pilthan desain ukuran bangunan tradisional Bali, yakni sejumlah 9900 (sembilan ribu sembilan ratus) pihihan ukuran.Kata kunci: Gegulak, antropometri, perancangan kerja 
ARSITEKTUR DAN PENDIDIKAN ARSITEKTUR Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 2 No 1 (2014): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.632 KB) | DOI: 10.46650/anala.2.1.177.%p

Abstract

Arsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia, berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain: seni, teknik, ruang/tata ruang, geografi, sejarah. Oleh karena itu ada beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur, tergantung dari segi mana memandang, dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termasuk didalamnya bentuk dan ragam hiasnya. Dari segi teknik, arsitektur adalah sistem mendirikan bangunan termasuk proses perancangan, konstruksi, struktur, dan dalam hal ini juga menyangkut aspek dekorasi dan keindahan. Dipandang dari segi ruang, arsitektur adalah pemenuhan kebutuhan ruang oleh manusia atau kelompok manusia untuk melakanakan aktifitas tertentu. Dari segi sejarah, kebudayaan dan geografi, arsitektur adalah ungkapan fisik dan peninggalan budaya dari suatu masyarakat alam batasan tempat dan waktu tertentu.
NAMING THE BUILDING IN BALI ARCHITECTURE Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 2 No 2 (2014): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.371 KB) | DOI: 10.46650/anala.2.2.186.%p

Abstract

Traditional architecture of Bali is famous in the world of global (international) because it is unique and filled with the values of local nuances associated with the religious and life stance communities based on the Bali Tri Hita Karana, namely in the field of spiritual harmony (divinity); in harmony with the surrounding natural environment (nature) and in harmony with the social environment (human). Similarly, when the masons Bali or commonly known as undagi, give the name of the building were made, they or the undagi name the buildings that made always based on some custom rules that have been accepted by the public support for the Bali building. Some of the considerations that underlie it are: (a) the position of the building in the direction of the wind; (B) the functionality or usability of the building; (C) the number of pillars or building poles; and (d) other considerations such as the chronicle (history) or a particular event.Keywords: Building, Architecture Bali
MAKNA BHISAMA KESUCIAN PURA (KAJIAN DARI PERSPECTIF ARSITEKTUR) Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 3 No 1 (2015): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.441 KB) | DOI: 10.46650/anala.3.1.199.%p

Abstract

In Balinese society, itâ??s recently been occurred an emotional debate and dispute of argumentation related to the content of Bhisama Kesucian Pura (temple sacred agreement). An assessment is the realistic distance which emerges as an interpretation to Bhisama Kesucian Pura that will be decreased or narrowed. Itâ??s  the critical point thatâ??s possible to be a further discussion centre item and then, advanced questions  are : (i) â??how many ideal quantitative values for the content of Bhisama Kesucian Pura do we convert?â?, (ii) â??could it be 3 (three)  kilometers, 4 (four) kilometers or more?â?. Thatâ??s the continued discourse which can be proposed in the hermeneutic study. And the proposed study seems that the result doesnâ??t contribute the problem solving but it could be to emphasize on the emerging problem analysis. By a few refining on the analysis, itâ??s proposed to the next study process.  Analytic scheme of thinking in the study is a deductive nature thatâ??s   hypothetically-tentatively looking for the logic & ethic meaning on the content of Bhisama Kesucian Pura. Itâ??s said an hypothetic term because the truth (regarding the content of Bhisama Kesucian Pura) still need indeed to be tested its meaning anymore from the reflective thinking process perspective. Itâ??s said to be a deductive term because the early study setting comes from the empiric of non assumption but it derives from humanâ??s thinking or  intellectual capability to try constructing an abstraction and simplification of an idealism of humanâ??s world. And itâ??s said tentative item because the deductive concept is still give a chance to the other value choice that  reflectively needs to be tested by its meaning anymore
VISUALISASI LONTAR TUTUR GONG BSI UNTUK ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 4 No 1 (2016): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.635 KB) | DOI: 10.46650/anala.4.1.208.%p

Abstract

Arsitektur Tradisional Bali (ATB) dikenal memiliki sumber-sumber tertulis yang jelas serta masih menjadi pedoman dalam proses merencanakan hingga ke proses pembangunannya, antara lain: Asta Kosali-kosali, Asta Bhumi, Wiswakarma, Keputusan Sanghyang Anala dan lain-lainnya. Sumber-sumber tertulis tersebut awalnya semuanya tertulis dalam daun lontar, dan sekarang telah banyak beredar lontar-lontar tersebut yang sudah ditranskripsi (alih aksara) maupun transelitrasi (alih bahasa). Namun selama ini (hingga hari ini) belum pernah terdengar lontar Gong Bsi yang menjadi pedoman dalam ATB.  Usaha menemukan sumber-sumber tertulis yang menjadi pedoman ATB adalah tugas perguruan tinggi.  Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah study library (kajian pustaka) dengan mengacu pada isi dalam tulisan lontar dimaksud, sedangkan lontar yang dikaji tersebut  ada dua sumber yakni  Tutur Gong Besi (oleh: Dinas Kebudayaan Prop. Bali, 2002) baik transkripsinya maupun transliterasinya, serta Tutur Gong Bsi oleh I Made Sudira (Paramita Surabaya, 1999) berupa transkripsi (alih aksara) saja.Dari telusuran awal ini ditemukan bahwa Tutur Gong Bsi menjelaskan tentang perjalanan atau siklus Siwa (dengan dasanamanya) yang dipersamakan dengan Atman atau jati diri manusia berupa hakikat kehidupan ini yang dalam tutur gong Bsi disebutkan: Dalem Kawi berpindah-pindah tempatnya dengan nama-namanya sesuai dengan tempat berpindahnya (berstananya) seperti dari Pura Dalem ke pura Puseh, kemudian ke pura Desa, ke Bale Agung dan seterusnya dengan jumlah putaran siklusnya 21 kali kembali ke Pura Dalem. Hasil dari penelusuran awal ini menyiratkan konsep-konsep berarsitektur dalam ATB, seperti misalnya: Rwa Bineda (Akasa â?? Pertiwi); Tri Hita Karana; Tri Murti; Tri Kona; Tri Bhuwana; Tri Angga; Kadi manik ring cecupu, jadi dengan telusuran awal ini menunjukkan bahwa Lontar Tutur Gong Bsi sebenarnya adalah sebuah sumber tertulis yang menjadi acuan dalam berarsitektur khususnya ATB.            Pada Tutur Gong Besi, menyebutkan bahwasanya Bhatara Dalem (SIWA) patut dipuja dengan penuh bakti. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Untuk dapat memuja Beliau secara tepat maka terlebih dahulu harus diketahui nama-nama lain dari Beliau, karena Beliau memiliki banyak namasesuai dengantempat  (aran manut genah) yang ditempati Beliau.
BENTUK BANGUNAN BALE KUKUL DI DESA BUAHAN DAN DESA KUWUM Andika, I Putu Yoga; Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 4 No 2 (2016): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.671 KB) | DOI: 10.46650/anala.4.2.475.%p

Abstract

Bale Kulkul sebagai bagian dari arsitektur tradisional Bali, merupakan salah satu tipe Bale Kukul yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur kita yang merupakan pancaran agama Hindu yang melandasi kepercayaan, adat istiadat sebagai norma-norma kehidupan. Sehingga perlu adanya usaha untuk melestarikannya agar nilai-nilai budaya yang terdapat di dalamnya tidak menjadi luntur. Adapun bentuk bangunan Bale Kulkuldisetiap daerah berbeda-beda, menurut bentuk dan fungsinya.Kata Kunci :Bentuk, Bale Kulkul, Desa Buahan, Desa Kuwum
KEUNIKAN BANGUNAN BALE SAKENEM (WONG KILAS) DI BATUAN Rikyana, I Gede; Suardana, I Nyoman Gde; Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 4 No 2 (2016): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.816 KB) | DOI: 10.46650/anala.4.2.479.%p

Abstract

Mr. I Wayan country house located in the village of Batuan Gianyar will be used as research material to Determine the uniqueness of the building Bale Dangin Sakenem, while the elements that will be Discussed, Among others, layout, shape of the building, use of materials , Structures . The method used is the method of collection of data, preparation of data and the data analysis, the resulting in a conclusion of the research objectives Keywords: The uniqueness of the building , Bale Sakenem ( wong kilas).
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR TRADISIONALDI KECAMATAN BLAHBATUH Adhimastra, I Ketut
Jurnal Anala Vol 5 No 2 (2017): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.673 KB) | DOI: 10.46650/anala.5.2.488.%p

Abstract

Pasar tradisional memiliki ciri khas tersendiri dengan pola interaksi penjual dan pembeli saat tawar menawar barang dagangan. Perkembangan pasar tradisional juga sebagai media wisata belanja, edukasi, serta meningkatkan pendapatan pedagang mikro atau terhadap pihak penggerak ekonomi kerakyatan. Masalah utama yang ada dari dulu sampai sekarang ialah citra pasar tradisional sebagai suatu tempat yang kumuh, kotor, becek, bau, tidak terawat, dan mempunyai tingkat kualitas hunian sangat rendah, mengakibatkan menurunya  kunjungan masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional yang berpengaruh langsung terhadap pendapatan.Program revitalisasi pasar sebagai program pemerintah merespon permasalahan  menahun yang ada saat ini. Dengan perumusan konsep perancangan fisik yang berdasarkan dengan standar (SNI pasar Rakyat) dan berorientasi pada masyarakat sebagai penggunannya. Diharapkan dapat meningkatakan daya tarik masyarakat untuk datang dan berbelanja ke pasar tardisional sehingga pendapatan pedagang khususnya akan meningkat juga serta tidak akan ada pedagang gulung tikar.Kata Kunci: Pasar, Tradisional Revitalisasi