Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

MA’ANI AL-HURUF DAN IMPLIKASINYA TERHADAP IJTIHAD Bahri Nasution, Khairul
Al-Qadha Vol 5 No 2 (2018): AL-QADHÃ Jurnal Hukum Islam Dan Perundang-Undangan
Publisher : IAIN LANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.023 KB) | DOI: 10.32505/qadha.v5i2.1115

Abstract

In the development of Islamic law were encountered wide difference of opinion of the scholars as the fruit of the seriousness in exploring settlement of legal matters from the sourceQur'an and the Sunnah. The difference there is that is born of the understanding of the passage oflaw, the arguments of the disputed law, the validity proposition of law, there is even born rules ofthe Arabic language. Among the differences born of the rules of the Arabic language is thedifference in meaning of the letter. The letters in Arabic are the third component of the kalimatafter the word isim and fi?il. The letter is any wor that has no meaning, but if it is shared in otherwords. Huruf (letter) also divides into two, namely: mabani and Ma'ani. In Ma'ani letter, the letterdistributed to two, namely ?amil and 'athil. Ma'ani letter of understanding to be born diversemeanings to a letter that implicates to disagreements over the meanings of verses and hadith bothon the Aqeedah and Fiqh.
PENGUATAN PEMAHAMAN TERHADAP DAMPAK PERNIKAHAN DINI Asrul Hamid; Raja Ritonga; Khairul Bahri Nasution
MONSU'ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/tano.v5i1.1543

Abstract

Pernikahan dini bukan merupakan fenomena baru di masyarakat, namun masih menyisakan permasalahan yang menjadi polemik berkepanjangan karena menyimpan dampak yang begitu mengkhawatirkan terhadap perkembangan generasi muda. Dampak pernikahan dini melingkupi hampir seluruh dimensi kehidupan, baik secara psikologis, sosial, kesehatan, ketahanan rumah tangga, ekonomi dan sebagainya. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini bertujuan memberikan edukasi untuk menguatkan pemahaman masyarakat terhadap dampak dari pernikahan dini tersebut. Metode yang dilakukan adalah melalui pembimbingan dan pendampingan yang berkelanjutan sehingga tingginya dampak pernikahan dini pada masyarakat Panyabungan dapat ditekan. Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan trend yang baik, hal tersebut terlihat dari tingkat kepuasan, respon dan antusiasme masyarakat sehingga masyarakat bisa menjadi agent of change, artinya bahwa edukasi melalui kegiatan sosialisasi tersebut berjalan dengan baik
MA’ANI AL-HURUF DAN IMPLIKASINYA TERHADAP IJTIHAD Khairul Bahri Nasution
Al-Qadha : Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Vol 5 No 2 (2018): Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan
Publisher : Hukum Keluarga Islam IAIN LANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/qadha.v5i2.1115

Abstract

In the development of Islamic law were encountered wide difference of opinion of the scholars as the fruit of the seriousness in exploring settlement of legal matters from the sourceQur'an and the Sunnah. The difference there is that is born of the understanding of the passage oflaw, the arguments of the disputed law, the validity proposition of law, there is even born rules ofthe Arabic language. Among the differences born of the rules of the Arabic language is thedifference in meaning of the letter. The letters in Arabic are the third component of the kalimatafter the word isim and fi’il. The letter is any wor that has no meaning, but if it is shared in otherwords. Huruf (letter) also divides into two, namely: mabani and Ma'ani. In Ma'ani letter, the letterdistributed to two, namely ‘amil and 'athil. Ma'ani letter of understanding to be born diversemeanings to a letter that implicates to disagreements over the meanings of verses and hadith bothon the Aqeedah and Fiqh.
Development of Sharia Based Local Wisdom Business at Society of Mandailing Natal Asrul Hamid; Khairul Bahri Nasution; Resi Atna Sari Siregar; Jannus Tambunan
LAA MAISYIR: Jurnal Ekonomi Islam Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lamaisyir.v9i1.29413

Abstract

Integration of Islam with local wisdom in business development in Mandailing Natal Regency as an effort to improve the economy and welfare by rejecting the concept of exploitation and discrimination but prioritizing the value of benefit in the midst of the proliferation of franchised businesses. This study aims to analyze the development of sharia-based local wisdom business in Mandailing Natal Regency. This research method uses a qualitative descriptive approach. Sources of data are described from the results of observations, interviews, and documents as well as relevant references to understand socio-cultural both in attitudes, motivations and people's expectations related to business development by analyzing data using qualitative methods. The results show that business development by integrating Islamic values ​​with local wisdom of Mandailing Natal referring to the philosophy of Dalihan Na Tolu, Marsialap ari Marsalapari and Poda Na Lima, is a strategic step in developing a business so that it can compete with franchise businesses, in line with the adage “Hombardo adat dohot worship as a way of life. Steps that need to be developed are regulations, new innovations and management and marketing strategies that are tailored to the needs of the community and market and according to sharia principles as an effort to realize a balance of welfare and happiness in this world and the hereafter.
Peran Kearifan Lokal Dalam Pengembangan Bisnis Syariah di Kota Padang Sidimpuan Jannus Tambunan; Resi Atna Sari Siregar; Khairul Bahri Nasution; Asrul Hamid
Iqtishodiyah : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 8 No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/iqtishodiyah.v8i2.827

Abstract

Kearifan lokal adalah kebijaksanaan setempat atau kearifan setempat atau dapat juga dimaknai sebagai ide-ide setempat yang bersifat bijaksana, bermuatan nilai yang baik, penuh kebijaksanaan, yang diikuti dan tertanam dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peran kearifan lokal Kota Padang Sidimpuan terhadap Pengembangan Bisnis Syariah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, yang bersifat deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada pelaku usaha, masyarakat, tokoh adat dan pemerintah, data tersebut kemudian dianalisis dan menghasilkan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa Kearifan lokal Kota padang sidimpuan sangat berperan dalam mengembangkan bisnis syariah yang sesuai tuntunan agama islam, dimana pelaku usaha dan konsumen saling menjaga, saling menghormati, saling menghargai, saling peduli, saling tolong menolong ini tercermin dari melekatnya nilai adat budaya dalam diri masyarakat. Kearifan lokal ini tidak berfokus pada pencantuman kata “syariah” yang melekat pada merek dagang atau merek usaha, akan tetapi lebih kepada muatan kegiatan/aktivitas bisnis yang bernilai syariah, ramah tamah, tutur kata yang sopan dan santun, jujur, ketertiban dan keamanan kegiatan ekonomi.
Peran Kearifan Lokal Dalam Pengembangan Bisnis Syariah di Kota Padang Sidimpuan Jannus Tambunan; Resi Atna Sari Siregar; Khairul Bahri Nasution; Asrul Hamid
Iqtishodiyah : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 8 No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/iqtishodiyah.v8i2.827

Abstract

Kearifan lokal adalah kebijaksanaan setempat atau kearifan setempat atau dapat juga dimaknai sebagai ide-ide setempat yang bersifat bijaksana, bermuatan nilai yang baik, penuh kebijaksanaan, yang diikuti dan tertanam dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peran kearifan lokal Kota Padang Sidimpuan terhadap Pengembangan Bisnis Syariah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, yang bersifat deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada pelaku usaha, masyarakat, tokoh adat dan pemerintah, data tersebut kemudian dianalisis dan menghasilkan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa Kearifan lokal Kota padang sidimpuan sangat berperan dalam mengembangkan bisnis syariah yang sesuai tuntunan agama islam, dimana pelaku usaha dan konsumen saling menjaga, saling menghormati, saling menghargai, saling peduli, saling tolong menolong ini tercermin dari melekatnya nilai adat budaya dalam diri masyarakat. Kearifan lokal ini tidak berfokus pada pencantuman kata “syariah” yang melekat pada merek dagang atau merek usaha, akan tetapi lebih kepada muatan kegiatan/aktivitas bisnis yang bernilai syariah, ramah tamah, tutur kata yang sopan dan santun, jujur, ketertiban dan keamanan kegiatan ekonomi.
Nasikh-Mansukh Dalam Al-Qur’an: (Diskursus Penentuan Jumlah Ayat Yang Dinasakh) Khairul Bahri Nasution
Al-Kauniyah Vol. 3 No. 2 (2022): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.849 KB) | DOI: 10.56874/alkauniyah.v3i2.950

Abstract

Nasakh besides being a method, it is also part of the conditions for ijtihad for a mujtahid. Nasakh in its definition is interpreted in various ways by scholars, among them there are those who interpret it with al-izalah wal ibthal (removal and cancellation), some with the meaning of an-naql wat-tahwil (transfer and transfer). The controversy over the textual theory does not stop at this definition, it also widens the controversy to the stage of groups who accept and reject the text, even among the recipients of the text there are also polemics, such as their polemic about which verses are alleged to have been translated. In determining the number of verses to be assigned, scholars vary, some mention 214 verses, some say 134 verses, some say 66 verses, up to 5 verses. From their differences, it was found that only two verses were agreed upon by their texts, namely: 1) Q.S. al-Mujadilah: 12, 2) Q.S. al-Muzzammil : 1-3.
PENINGKATAN PEMAHAMAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN MUSTHAFAWIYYAH PURBA BARU TERKAIT UNDANG-UNDANG PERKAWINAN INDONESIA Muhammad Fadhlan Is; Khairul Bahri Nst
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 4 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i4.1466-1474

Abstract

 Pengabdian ini dilatar belakangi  dari hasil wawancara penulis dengan salah seorang hakim Pengadilan Agama Panyabungan yang menjelaskan bahwa perkara permohonan yang paling banyak masuk di Pengadilan Agama di luar perceraian adalah perkara permohonan dispensasi usia nikah, menurutnya pasca adanya revisi undang-undang batas umur calon mempelai wanita yang semula 16 tahun menjadi 19 tahun untuk permohonan dispensasi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2020 terdaat 49 kasus, sedanggkan tahun 2021 dari tanggal 6 Januari sampai tanggal 27 September 2021 telah masuk perkara sebanyak 55 kasus, hal ini tidak menutup kemungkinan sampai akhir tahun 2021 bisa lebih 60 kasus permohonan dispensasi nikah di PA Panyabungan.(Abdul Aziz, Wawancara, 2 September 2021).Asumsi penulis menduga meningkatnya permohonan dispensasi nikah diantara sebabnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terkait aturan perkawinan yang berlaku di Indonesia.  Adapun Alasan memilih lokasi Pengabdian ini di Pondok Pesantren Mushtafawiyah dikarenakan santri sebagai harapan masyarakat dalam memberikan perubahan pemahaman keagamaan di masa depan.  Namun saat ini pembelajaran fikih perkawinan di Pesantren Musthafawiyah sebagai pesantren terbesar di daerah Tabagsel yang mana pembelajaran fikih yang di laksanakan masih bercorak fikih sentris akibatnya banyak santri tidak tau atau kurang paham dengan peraturan Perkawinan di Indonesia. Dengan pelaksanaan pengabdian ini diharapkan adalah (1) meningkatkan pemahaman santri terkait Undang-undang perkawinan yang berlaku di Indonesia, (2) memberikan pemahaman bagaimana mengharmonisasikan Fikih Munakahat yang dipelajari di Pesantren dengan  aturan perkawinan di Indonesia, 4) memperkenalkan prodi Hukum Keluarga Islam kepada masyarakat khususnya kepada santri Pondok Pesantren Mushtafawiyah Purba Baru. Beberapa metode yang tim PKM gunakan adalah membagikan pre-test dan Postes di awal dan diakhir sosialisasi . Dalam kegiatan sosialisasi dilaksanakan presentasi sebanyak 3 sesi dengan berbeda-beda tema dan pemateri dan juga menyediakan waktu untuk berdialog dan Tanya jawab  yang terkait dengan tema pengabdian. Objek Pengabdian adalah santri Putra kelas 7 dengan jumlah 35 Orang dan Putri 35 Orang. Kegiatan yang dilaksanakan ini mendapat sambutan baik, terbukti dengan keaktifan peserta mengikuti sosialisasi dengan tidak meninggalkan tempat sebelum waktu pelatihan berakhir. melihat hasil Pre-tes dan Postes baik dalam bentuk grafik dan persenan terlihat jelas adanya peningkatan kemampuan santri Pondok Pesantren Mushtafawiyah dalam memahami Undang-undang Perkawinan  di Indonesia, dari 20 soal yang dibagikan kepada 60 santri putra dan putrid  terlihat adanya kenaikan jawaaban yang benar daro jawaban pretes sebelum kegiatan sosialisasi dilakukan dengan kenaikan 62 %. Dalam Pengabdian ini telihat peserta mendapatkan kemampuan tambahan yaitu bagaimana mencari titik temu antara Undang-undang Perkawinan yang berlaku dengan fikih Munakahat yang dipelajari di  Pondok Pesantren dan kedepannya santri yang saat ini berusia pra-nikah dapat mengamalkan dan mensosialisasikan kepada masyarakat sekitarnya apabila mereka kelak terjun ke masyarakat.
Al-Dakhil Pada Hadis Mawdhu’ Seputar Asbàbun Nuzùl: (Suatu Penelusuran Terhadap Asbàbun-Nuzùl Karya al-Wahidi) Nasution, Khairul Bahri
Al-Kauniyah : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Al-Kauniyah
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/alkauniyah.v5i1.1770

Abstract

Knowledge about asbàbun-nuzùl is one of the most important things to know, because interpreting and expressing the meaning of a verse cannot be done without knowing the chronology that caused the revelation of that verse. The scholars stated that the best way to know asbàbun-nuzùl is through authentic narratives. However, in reality there is a lot of literature surrounding asbàbun-nuzùl, both material-substantial literature which contains mawdhu' hadiths which fall into the classification of al-dakhîl in the field of tafsir science. Among the literature regarding asbàbun-nuzùl that is often referred to is the work of Abu Hasan 'Ali al-Wahidi an-Naisabùriy. In his book, he has emphasized his own opinion that "We cannot say about the reasons for the revelation of the verses of the Qur'an, except by narration and hearing from people who witnessed the verse being revealed, and also know the reasons, and discuss about understanding and serious in seeking such things." However, this opinion is not supported by the validity of the hadith so that in some of the asbàbun-nuzùl that are narrated there are those that are mawdhu', while in fact there is a valid history regarding this, such as in Q.S. al-Ahzab: 14 and 97, Q.S. al-Ahzab : 23, Q.S. al-Masad. Al-Wahidi was found to have narrated many of Ibn 'Abbas' narratives from the al-Kalbi route from Abi Salih, which is the worst route because they were accused of lying.
Upah Muballigh Ditinjau Dari Hukum Islam (Kritik Atas Pemikiran Abdul Qadir Jawas) Rizka Agustina Sikumbang, Khairul Bahri Nasution
Islamic Circle Vol. 4 No. 2 (2023): Islamic Circle
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syari'ah STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/islamiccircle.v4i2.1496

Abstract

Abdul Qadir Jawas is one of the preachers whose opinions have recently sparked a lot of polemics among the public, especially his opinion about the prohibition of a preacher asking for wages from the congregation or organizers, because the preacher's wages are given by Allah SWT, even this action can be considered an act of shirk. The purpose of this study is to find out how Abdul Qadir Jawas views the wages of preachers and the views of Islamic law. The type of research used is library research on the thoughts of figures using content analysis techniques. Data is collected through videos and books. The results of the study concluded that according to Yazid Bin Abdul Qadir Jawaz, preachers should not ask for and expect wages from the congregation or organizers, because the preacher's wages are given by Allah SWT. According to him, he is not allowed to receive wages if the preacher is able to meet the needs of his family not through preaching even though the wages are given as a gift from the committee, he is not allowed to set rates for preaching, he is not allowed to enter into agreements regarding wages with the committee during preaching. Meanwhile in Islam, it is permissible to give or receive wages to preachers in preaching. The majority of scholars allow the preacher to receive compensation for the lectures or teaching of religious knowledge he gives as long as it is not the main goal.