Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemahaman Eklesiologi HKBP: Kajian Dogmatis Tentang Eklesiologi Martin Luther dalam Pemahaman Eklesiologi HKBP Turnip, Ricardo Sisco; Pakpahan, Jordan Humala; Manullang, Gressya Huriany; Siagian, Raulina
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 2 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v2i2.7869

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Memahami bagaimana HKBP memahami eklesiologinya dan melihat juga bagaimana eklesiologi menurut dokumen HKBP, dan memahami bagaimana gereja memaknai diri mereka dengan benar sebagai perwujudan dari tubuh Kristus. Selain itu tulisan ini juga hendak melihat bagaimana kasih Allah itu bersifat universal tanpa menjadikan aturan yang sudah ditetapkan manusia pada bangunan gereja yang sudah mereka bangun sebagai hal utama dalam melakukan tugas dari gereja itu sendiri,Allah juga tidak membeda-bedakan jemaatNya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi literatur. Penelitian ini bertujuan meneliti mengenai bagaimana eklesiologi Martin Luther ditengah-tengah gereja HKBP. Selain itu juga hendak dilihat bagaimana HKBP memahami eklesiologi mereka sendiri, apakah HKBP mengikuti pemahaman eklesiologi dari tokoh reformator atau memiliki pengertian sendiri mengenai eklesiologi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa banyak gereja yang turut serta memahami gereja sebagaimana Luther memahami gereja, dan biasanya gereja tersebut disebut sebagai gereja aliran Lutheran. Ada banyak gereja yang masuk kedalam aliran Lutheran, dan salah satunya yang disebutkan adalah HKBP. Dalam memahami makna gereja, HKBP mengaturnya kedalam dokumen-dokumen yang mereka miliki. Ada juga banyak pemikiran yang memahami bagaimana seharusnya gereja, baik itu dari para bapa gereja maupun dari para tokoh reformator, dalam tulisan ini yang paling disoroti ialah mengenai bagaimana Luther memahami gereja
DIGITAL ANXIETY AND INTERFAITH HARMONY: ADDRESSING ADOLESCENT FOMO THROUGH THEOLOGICAL REFLECTIONS ON LUKE 12:22-34 Siagian, Raulina; Sitorus, Herowati
Harmoni Vol. 24 No. 1 (2025): Januari-Juni 2025
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i1.870

Abstract

Social media is identified as a double-edged medium: it can facilitate constructive interfaith interaction, yet also foster misinformation that undermines harmony. This study examines the impact of Fear of Missing Out (FOMO) and digital anxiety on adolescents, with attention to their effects on mental health, spiritual life and interfaith harmony. Using a qualitative narrative exegesis of Luke 12:22–34, the research highlights theological insights on divine providence as a spiritual resource for addressing anxiety, while examining interfaith perspectives on digital-era challenges. The findings show that Luke 12:22–34 offers adolescents meaningful guidance in coping with digital pressures, emphasizing trust, contentment and release from worry. The study underscores that interfaith dialogue is vital for strengthening solidarity amid digital complexities and that collaborative approaches across religious traditions provide more inclusive and sustainable frameworks for addressing adolescent anxiety than single-tradition responses. The study proposes three practical interventions: interfaith digital literacy programs rooted in shared values, interfaith youth dialogue groups focusing on FOMO and digital wellness, and collaborative anti-misinformation initiatives. These strategies demonstrate how theological reflection combined with interfaith cooperation can equip adolescents to manage digital anxiety while promoting tolerance, inclusivity, and interreligious harmony in contemporary society. AbstrakMedia sosial adalah medium bermata dua: di satu sisi dapat memfasilitasi interaksi lintas iman yang konstruktif, namun di sisi lain juga dapat menyebarkan misinformasi yang merusak keharmonisan. Studi ini meneliti dampak Fear of Missing Out (FOMO) dan kecemasan digital pada remaja, dengan perhatian khusus pada pengaruhnya terhadap kesehatan mental, kehidupan spiritual, dan harmoni antaragama. Dengan menggunakan metode eksegesis naratif kualitatif terhadap Lukas 12:22–34, penelitian ini menyoroti wawasan teologis tentang pemeliharaan ilahi sebagai sumber daya spiritual untuk mengatasi kecemasan, sekaligus mengkaji perspektif lintas iman terhadap tantangan era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas 12:22–34 menawarkan panduan bermakna bagi remaja dalam menghadapi tekanan digital, dengan menekankan sikap percaya, merasa cukup, dan melepaskan kekhawatiran. Studi ini menegaskan bahwa dialog lintas iman sangat penting untuk memperkuat solidaritas di tengah kompleksitas digital, serta bahwa pendekatan kolaboratif antartradisi agama memberikan kerangka kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menangani kecemasan remaja dibandingkan respons dari satu tradisi saja. Penelitian ini mengusulkan tiga intervensi praktis: program literasi digital lintas iman yang berakar pada nilai-nilai bersama, kelompok dialog remaja lintas iman yang berfokus pada FOMO dan kesehatan digital, serta inisiatif kolaboratif untuk melawan misinformasi. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa refleksi teologis yang dipadukan dengan kerja sama lintas iman dapat membekali remaja untuk mengelola kecemasan digital sekaligus memajukan toleransi, inklusivitas, dan harmoni antaragama dalam masyarakat kontemporer.