Laoly, Nepho Gerson
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

BREAKING CHAINS: LIBERATION OF CAPTIVES IN THE PROPHETIC WRITINGS Laoly, Nepho Gerson
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 3 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v3i3.1961

Abstract

Pembebasan adalah konsep yang kompleks dan memiliki banyak segi yang relevan di seluruh budaya. Literatur kenabian dalam Alkitab Ibrani merupakan sumber wawasan yang kaya dan beragam mengenai tema ini, menawarkan mandat yang berbeda dan sangat inspiratif untuk keadilan, kesetaraan, dan kebebasan. Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi topik ini secara mendetail, memanfaatkan penelitian dan keilmuan terbaru untuk memberikan pencerahan baru tentang relevansi abadi teks-teks kuno ini. Dengan menggunakan serangkaian alat metodologis, termasuk analisis tekstual, evaluasi konteks sejarah, dan studi komparatif, kami mengeksplorasi cara-cara tradisi kenabian mengadvokasi kelompok yang terpinggirkan dan tertindas, serta menyerukan transformasi dan pembaruan masyarakat. Temuan kami mengungkapkan tema keadilan dan kasih sayang sosial yang konsisten, yang berakar pada komitmen mendalam terhadap martabat dan nilai seluruh umat manusia. Sebagai kesimpulan, saya berpendapat bahwa tradisi kenabian mencerminkan aspirasi terdalam kita untuk dunia yang lebih adil dan setara, menginspirasi upaya berkelanjutan menuju pembebasan dan kesetaraan universal. Baik melihat masa lalu atau masa kini, tradisi kenabian terus memberikan bimbingan dan inspirasi bagi mereka yang berupaya membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.
Providensi Ilahi dan Harapan Manusia: Interpretasi Pemilihan Daud sebagai Raja dalam 1 Samuel 16:1-13 Laoly, Nepho Gerson
Jurnal Teologi Cultivation Vol 8, No 1 (2024): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v8i1.2382

Abstract

This research examines the theological significance of God’s Choice of David as king in 1 Samuel 16:1-13 and analyzes the relationship between divine providence and human expectation in this passage. It argues that God’s choice of David as king was not solely a matter of divine providence, but also a response to human expectations. Through literary and textual analysis, historical and cultural contextualization, and critical evaluation of existing scholarship, the research highlights themes such as the rejection of Saul, the significance of the anointing oil, and the importance of David character and upbringing. This research aims to contribute to the fields of biblical studies and theology by offering a nuanced interpretation of God’s choice of David as king in 1 Samuel 16:1-13 that considers both divine and human agency, and its broader implications for understanding God’s role in history. AbstrakPenelitian menelaah signifikansi teologis Pemilihan Tuhan atas Daud sebagai raja dan menganalisis keterkaitan providensi ilahi dan harapan manusia pada bagian ini. Pilihan Tuhan atas Daud sebagai raja bukan hanya masalah providensi ilahi, namun juga respons atas harapan manusia. Melalui analisis sastra teks, kontekstualisasi sejarah budaya, serta evaluasi kritis riset yang ada, penelitian menyoroti tema penolakan terhadap Saul, minyak pengurapan, karakter dan latar belakang Daud. Penelitian  memberikan interpretasi mendalam Pemilihan Tuhan atas Daud sebagai raja di 1 Samuel 16:1-13 , mempertimbangkan pengaruh ilahi dan manusia, implikasi luas  untuk memahami Tuhan dalam sejarah, sehingga memberikan kontribusi pada studi Alkitab dan teologi. 
Dari Pengasingan ke Stabilitas: Menganalisis Kontribusi Politik dan Keagamaan Zerubabel dan Yosua. Laoly, Nepho Gerson
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.186

Abstract

This study explores the political and religious leadership of Zerubabel and Joshua in post-exilic Judah, focusing on their collaborative efforts to rebuild the Temple and restore national identity. Zerubabel, appointed as governor by the Persian Empire, played a critical role in navigating between Persian authority and local needs, ensuring stability through administrative strategies. Meanwhile, Joshua, as High Priest, re-established religious practices and reinforced spiritual commitments. Their integrated leadership reflects the importance of combining political and religious authority to foster social and spiritual restoration. Additionally, the theological relevance of their actions aligns with covenant renewal and messianic hopes within the Jewish community, highlighting the synergy between governance and faith in achieving long-term stability in the face of external challenges.Penelitian ini mengeksplorasi kepemimpinan politik dan agama Zerubabel dan Yosua di Yehuda pasca-pembuangan, dengan fokus pada upaya kolaboratif mereka untuk membangun kembali Bait Suci dan memulihkan identitas nasional. Zerubabel, yang ditunjuk sebagai gubernur oleh Kekaisaran Persia, memainkan peran penting dalam menyelaraskan antara otoritas Persia dan kebutuhan lokal, memastikan stabilitas melalui strategi administratif. Sementara itu, Yosua, sebagai Imam Besar, membangun kembali praktik-praktik keagamaan dan memperkuat komitmen spiritual. Kepemimpinan mereka yang terintegrasi mencerminkan pentingnya menggabungkan otoritas politik dan agama untuk mendorong pemulihan sosial dan spiritual. Selain itu, relevansi teologis dari tindakan mereka selaras dengan pembaruan perjanjian dan harapan mesianis dalam komunitas Yahudi, yang menyoroti sinergi antara pemerintahan dan iman dalam mencapai stabilitas jangka panjang dalam menghadapi tantangan eksternal.
Yobel: Periode, Sosial, Ekonomi, dan Teologi Laoly, Nepho Gerson
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v3i2.60

Abstract

The literature on Jubilees discusses implications of acquiring the Land of Canaan (Palestine). Jubilee had a high degree of law in aspects of The Life of the Israelites, especially the administrating of the territory of the land of Canaan.  However, there are also scholars who think of jubilees as a rule instituted by priests in the period of exile or in the period of return from exile. Jubilee writing is in the background of the Ancient Near East, the Second Temple, and the writing of the gospels that use jubilee years such as Luke.  In addition, jubilees are the basic arguments for liberating and socialist theology or related to contemporary agendas that use the word "independence" and the like. Jubilees cover four categories: period, social, economic, and theological categories.  Research is conducted to gain a comprehensive understanding of jubilees through literature surveys in biblical, socio-economic, and archaeological areas. Qualitative methods are applied to accommodate various jubilee-related information in providing Jubilee exposition material. The application of close reading is done in order to get the right information. Archaeology is also a secondary source to sharpen this research.Keywords: Jubilee; Ancient Near East; Biblical; Social-Economy; Liberation  Abstrak:Literatur mengenai Yobel membicarakan implikasi dari mengakuisisi daratan Kanaan (Palestina). Yobel memiliki derajat hukum yang tinggi dalam aspek kehidupan bangsa Israel, terutama pengadministrasian wilayah tanah Kanaan. Kendati demikian ada juga para sarjana yang beranggapan Yobel sebagai suatu aturan yang dilembagakan oleh para imam pada periode pembuangan ataupun dalam periode kembali dari pembuangan. Penulisan Yobel ada di dalam latar belakang Timur Dekat Kuno, Bait Allah Kedua, dan penulisan injil yang menggunakan tahun Yobel seperti Lukas.  Selain itu Yobel menjadi argumen dasar bagi teologi-teologi yang bersifat pembebasan dan sosialis, ataupun terkait dengan agenda kontemporer yang menggunakan kata “kemerdekaan” dan sejenisnya. Yobel mencakup empat kategori yaitu kategori periode, sosial, ekonomi, dan teologi.  Penelitian dilakukan untuk mendapatkan pemahaman Yobel yang komprehensif melalui survey literatur pada area biblika, sosial-ekonomi, dan arkeologi. Metode kualitatif diterapkan untuk menampung berbagai informasi terkait Yobel dalam menyediakan materi eksposisi Yobel. Penerapan close reading  dilakukan agar mendapatkan informasi yang tepat. Arkeologi juga menjadi sumber sekunder untuk mempertajam penelitian ini.Kata Kunci: Yobel; Timur Dekat Kuno; Biblika; Sosial; Ekonomi; Pembebasan
Historical Impact of Messianic Prophecies on Ancient And Modern Times Laoly, Nepho Gerson
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v5i2.115

Abstract

Abstract: This article delves into the significance of messianic prophecies in Judaism and Christianity, examining their origins, impact on ancient Israel, and relevance in modern times. The study uses literary analysis and hermeneutic approaches to examine the history, interpretation, and contextualization of these prophecies. It discusses their influence on ancient Israel's religious and cultural identity, fostering optimism during turmoil. The article also explores their impact on various global regions.. The article also emphasizes the significance of messianic prophecies in contemporary society, shaping religious beliefs, fostering collective belief systems, and influencing social and political dynamics. The article highlights the ongoing scholarly discourse and theological deliberation surrounding these prophecies, revealing their persistent importance in today's theological and cultural frameworks. Overall, this comprehensive examination of messianic prophecies provides a deeper understanding of religious convictions, cultural customs, and the evolution of religious movements. Christian can affirm that Jesus is God and Lord who protect His people. Keywords: Messianic ; Ancient Israel ; Judaism ; Sociological Context ; Christianity  Abstrak: Artikel ini menyelidiki pentingnya nubuat-nubuat Mesias dalam Yudaisme dan Kekristenan, memeriksa asal-usul mereka, dampaknya pada Israel kuno, dan relevansi mereka di zaman modern. Studi ini menggunakan analisis sastra dan pendekatan hermeneutik untuk memeriksa sejarah, interpretasi, dan kontekstualisasi dari nubuat-nubuat ini. Ini membahas pengaruh mereka pada identitas agama dan budaya Israel kuno, mendorong optimisme selama kekacauan. Artikel ini juga mengeksplorasi dampaknya pada berbagai wilayah global. Artikel ini juga menekankan pentingnya nubuat messianik dalam masyarakat kontemporer, membentuk keyakinan agama, mempromosikan sistem kepercayaan kolektif, dan mempengaruhi dinamika sosial dan politik. Artikel ini menyoroti diskusi ilmiah yang sedang berlangsung dan pertimbangan teologis yang mengelilingi nubuat-nubuat ini, mengungkapkan pentingnya yang berterusan dalam kerangka teologi dan budaya saat ini. Secara keseluruhan, pemeriksaan yang komprehensif terhadap nubuat-nubuat messian memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keyakinan agama, kebiasaan budaya, dan evolusi gerakan agama. Orang Kristen dapat menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Tuhan yang melindungi umat-Nya. Kata Kunci : Mesias; Israel Kuno; Yudaisme; Konsteks Sosialogi; Kekristenan
Kajian Biblika, Sistematika dan Misi tentang Pentingnya Doa bagi Gereja Laoly, Nepho Gerson
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v1i1.7

Abstract

The church is God's representative on this earth. For this reason, an appropriate teaching for the church is needed. Prayer is a church activity that must be done. How prayer can continue in the church. Is prayer a part of church. What is the benefit of prayer. What is the degree of prayer for the Christian life. How God has promised help, then that promise is kept through prayer. Let prayer be an act that will continue in the midst of God's people until the end of time.Abstrak Gereja merupakan wakil Allah di bumi ini. Untuk itu diperlukan suatu pengajaran yang tepat bagi gereja. Doa merupakan suatu aktivitas gereja yang harus dilakukan. Bagaimana doa dapat terus berlanjut dalam gereja. Apakah doa merupakan bagian dari bergereja. Apakah manfaat doa. Bagaimana derajat doa bagi kehidupan Kristen. Bagaimana Allah telah menjanjikan pertolongan, maka janji itu ditepati melalui doa. Biarlah doa menjadi perbuatan yang akan terus berlanjut di tengah-tengah umat Tuhan sampai akhir zaman.
BREAKING CHAINS: LIBERATION OF CAPTIVES IN THE PROPHETIC WRITINGS Laoly, Nepho Gerson
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 3 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v3i3.1961

Abstract

Pembebasan adalah konsep yang kompleks dan memiliki banyak segi yang relevan di seluruh budaya. Literatur kenabian dalam Alkitab Ibrani merupakan sumber wawasan yang kaya dan beragam mengenai tema ini, menawarkan mandat yang berbeda dan sangat inspiratif untuk keadilan, kesetaraan, dan kebebasan. Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi topik ini secara mendetail, memanfaatkan penelitian dan keilmuan terbaru untuk memberikan pencerahan baru tentang relevansi abadi teks-teks kuno ini. Dengan menggunakan serangkaian alat metodologis, termasuk analisis tekstual, evaluasi konteks sejarah, dan studi komparatif, kami mengeksplorasi cara-cara tradisi kenabian mengadvokasi kelompok yang terpinggirkan dan tertindas, serta menyerukan transformasi dan pembaruan masyarakat. Temuan kami mengungkapkan tema keadilan dan kasih sayang sosial yang konsisten, yang berakar pada komitmen mendalam terhadap martabat dan nilai seluruh umat manusia. Sebagai kesimpulan, saya berpendapat bahwa tradisi kenabian mencerminkan aspirasi terdalam kita untuk dunia yang lebih adil dan setara, menginspirasi upaya berkelanjutan menuju pembebasan dan kesetaraan universal. Baik melihat masa lalu atau masa kini, tradisi kenabian terus memberikan bimbingan dan inspirasi bagi mereka yang berupaya membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.