Asnawi, M. Nur
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aktualisasi Etika Islam dalam Dunia Bisnis Asnawi, M. Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4636

Abstract

In the context of an increasingly transparent macro life, the transcendental normative values of Islam are challenged to be able to manifest themselves in real terms. This demand seems to be a logical consequence when the reference to life is practically more dominated by value order, such as the idea of hedonism. In the economic activity that is becoming a new trend nowadays, there are many cheats, tackling friend's profession, monopoly, etc. This is evidence of hedonism. Islam gives the suggestion that in conducting its economic activity always hold fast to ethics and norm. This research explains that human economic life should be based on the teachings of God. Doing business has an ethical principle that is responsible, honesty, cling and always grateful. With ethics and norms packaging the economic activity, it will undoubtedly bring about a virtue. Such virtue will give birth to true happiness in economy. In the end this will lead to the establishment and success of the upcoming economy. Dalam konteks kehidupan makro yang semakin transparan, nilai-nilai normatif transendental Islam ditantang untuk mampu mewujudkan diri secara riil. Tuntutan ini nampaknya sebagai konsekuensi logis ketika acuan kehidupan secara praktis lebih didominasi oleh tatanan nilai nilai, seperti faham hedonisme. Dalam aktivitas ekonomi yang menjadi tren baru saaat ini, terdapat banyak kecurangan, menjegal kawan seprofesi, monopoli, dll. Hal ini merupakan bukti adanya paham hedonisme. Islam memberikan anjuran agar dalam melakukan aktifitas ekonominya senantiasa berpegang teguh pada etika dan norma. Penelitian ini memaparkan bahwa kehidupan berekonomi manusia hendaknya tetap berlandaskan pada ajaran Tuhan. Berbisnis memiliki prinsip beretika yaitu bertanggung jawab, kejujuran, berpegang teguh dan selalu bersyukur. Dengan etika dan norma sebagai kemasan dalam aktivitas perekonomian, niscaya akan melahirkan suatu kebajikan (virtue). Kebajikan tersebut akan melahirkan kebahagiaan sejati dalam berekonomi (ultimate happiness). Pada akhirnya ini akan menggiring kepada kemapanan dan kesuksesan perekonomian mendatang.
Menggagas Bisnis Islam dalam Perekonomian Modern Asnawi, M. Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5152

Abstract

In today's global world, the economy appears as a commander. Many economic actors do various breakthrough in developing the business world. Interestingly, at this time also, some Muslim economists are also aggressive to make breakthrough business alternatives called Islamic business is a business that is controlled by the normative values of Islamic teachings, both from the way of acquisition and the utilization. In view of Islam, in conducting business activities, although there are values of freedom, value of ownership, and similarity all there are boundaries and territories that have been determined. Fakhri (l995) said that Islamic businesses are controlled by the law of halal and haram, totally different from non-Islamic business. On the basis of secularism based on material values, non-Islamic business is not paying attention to halal and haram in realizing its business objectives. Dalam dunia global saat ini, ekonomi tampil seolah menjadi panglima. Banyak para pelaku ekonomi melakukan berbagai terosoban dalam mengembangkan dunia bisnis. Yang menarik, pada saat ini pula, beberapa ekonom muslim juga gencar melakukan terobosan bisnis altematif yang disebut bisnis Islam yaitu adalah bisnis yang dikendalikan oleh nilai-nilai normatif ajaran Islam, baik dari cara perolehannya maupun cara pendayagunaannya Dalam pandangan Islam, dalam melakukan aktivitas bisnisnya, walaupun ada nilai-nilai kebebasan, nilai kepemilikan, dan kesamaan semuanya itu ada batas dan wilayah yang sudah ditentukan. Fakhri (l995) mengatakan bahwa bisnis Islami yang dikendalikan oleh aturan halal dan haram, sama sekali beda dengan bisnis yang non islami. Dengan berlandaskan pada asas sekularisme yang bersendikan nilai-nilai material, bisnis non islami tidaklah memperhatikan halal dan haram dalam merealisasikan tujuan bisnisnya.