Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, dengan jutaan kasus baru setiap tahunnya. Terapi konvensional seperti kemoterapi memiliki keterbatasan karena bersifat non-selektif dan dapat merusak sel normal, sehingga mendorong pencarian alternatif pengobatan yang lebih aman. Tanaman ciplukan (Physalis angulata L.), yang umum digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia, menunjukkan potensi sebagai agen antikanker melalui kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi antikanker ciplukan berdasarkan kandungan senyawa bioaktif dan mekanisme kerjanya melalui metode tinjauan pustaka sistematis (Systematic Literature Review/SLR). Artikel diperoleh dari basis data PubMed dan Google Scholar dengan fokus pada publikasi sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai bagian tanaman—daun, akar, buah, dan batang—mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, fenolik, serta berbagai jenis physalin (B, D, F, V–IX) yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol atau metanol. Senyawa-senyawa ini menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap lini sel kanker seperti Y79, HeLa, DLD-1, MCF-7, dan HGC-27. Di antara senyawa tersebut, physalin B terbukti memiliki efek apoptosis yang kuat melalui mekanisme gangguan mitokondria dan jalur sinyal p53. Temuan ini mendukung potensi P. angulata sebagai kandidat pengembangan obat antikanker alami. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji mekanisme in vivo, standarisasi dosis, dan uji klinis untuk membuktikan efektivitas serta keamanannya.