Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Berpikir dalam Kehidupan Akal Budi. Membaca The Life of the Mind Karya Terakhir Hannah Arendt: Thinking in The Life of the Mind. Reading Hannah Arendt’s Final Work Supelli, Karlina
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.959

Abstract

This paper examines Hannah Arendt’s The Life of the Mind with a focus on the activity of thinking as a constituent of the life of the mind. Thinking is understood as an inner dialogue structured as a ‘two-in-one’, which examines and dissolves whatever is held as unquestioned certainty. The discussion highlights the tension inherent in thinking between withdrawal from the world of appearances and its relation to the common world, as well as the importance of distinguishing meaning from truth in order to understand thinking as an activity. Arendt’s reflections show that the absence of thinking makes possible the occurrence of evil acts without evil intent. Yet the ethical and political significance of thinking does not lie in the formation of moral norms or policies, since thinking yields neither. Rather, it gives rise to conscience as a by-product, enabling resistance in the face of evil and atrocity. Through the example of the 1945 atomic bomb project, the paper indicates that the capacity to know and to create—which endows human beings with a sense of power—has developed far beyond the ability to comprehend the meaning of one’s actions and to imagine their consequences for the common world. In this light, thinking may be understood as a mode of existence that unfolds as an ongoing engagement with the common world, seeking meaning amidst its painful disorder, while sustaining the clarity of conscience. Abstrak Tulisan ini mengkaji The Life of the Mind karya Hannah Arendt dengan memusatkan perhatian pada kegiatan berpikir sebagai salah satu pembentuk kehidupan akalbudi. Berpikir dipahami sebagai dialog batin menurut struktur “dua-dalam-satu” yang memeriksa dan meluruhkan apa pun yang diyakini kepastiannya tanpa dipertanyakan. Pembahasan menyoroti tegangan yang melekat dalam berpikir antara penarikan diri dari dunia penampakan dan keterkaitannya dengan dunia bersama, serta pentingnya pembedaan antara makna dan kebenaran untuk memahami berpikir sebagai suatu kegiatan. Refleksi Arendt menunjukkan bahwa ketiadaan berpikir memungkinkan terjadinya kejahatan tanpa motif jahat. Namun, signifikansi etis dan politis berpikir tidak terletak dalam pembentukan norma moral ataupun kebijakan, karena berpikir tidak menghasilkan keduanya. Berpikir membangkitkan suara hati sebagai efek samping, yang memungkinkan manusia menolak kejahatan serta kekejaman. Melalui contoh proyek bom atom tahun 1945, tulisan ini memperlihatkan bahwa kemampuan mengetahui dan mencipta yang memberi manusia rasa berdaya telah berkembang jauh melampaui kemampuannya untuk memahami makna tindakan, serta membayangkan konsekuensinya bagi dunia bersama. Dengan demikian, berpikir dapat dipahami sebagai suatu cara mengada dalam keterlibatan dengan dunia bersama dalam pencarian makna di tengah karut marutnya yang menyakitkan, seraya terus memelihara kejernihan nurani. Kata-kata kunci: berpikir, berkehendak, menilai, dunia penampakan, dunia bersama, metafora, makna, kebenaran