Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Implementasi Functional Requirement Bibliographic Resources (FRBR) dan Dampaknya pada Katalog Modern Handisa, Rattah Pinusa
Pustakaloka Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : STAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v9i1.955

Abstract

A dynamic change in the collection management system encourages the libraries to re-new their cataloguing system. Functional Requirement Bibliographic Resources (FRBR) is an alternative cataloguing system to replace Anglo American Cataloguing Rules. International Federation of Library Association (IFLA) developed FRBR in 1997 and the FRBR stimulated the discussions among the librarians and their stakeholders. The purpose of this essay is to discuss the contribution FRBR for modern cataloguing and to argue the importance applying FRBR in the modern catalogues. FRBR has a positive contribution for developing the metadata. FRBR overcomes the interoperability issue by providing a standard of metadata. In addition, FRBR improves the accuracy in the information retrieval by using entity relationships. Meanwhile, there was an assumption that the financial and human development issues would interrupt the implementation of FRBR. However, applying FRBR gives more advantages rather than its drawbacks. Firstly, FRBR reduces the workload in the cataloguing process by avoiding data redundancies. Secondly, FRBR reduces the operational expense. Thirdly, FRBR has an ability to connect the complex metadata structure by using Resource Definition Framework (RFD) and Universal Resources Identifier (URI). Both RFD and URI features improve the accuracy of search engine for digital objects. In conclusion, FRBR gives a positive contribution for modern cataloguing due to effectivity in the retrieving information and efficiency in the cataloguing process. 
PERSEPSI PESERTA TERHADAP PENYELENGGARAAN EKOLITERASI SECARA HYBRID OLEH PERPUSTAKAAN RI ARDI KOESOEMA Handisa, Rattahpinnusa Haresariu
ACARYA PUSTAKA Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v8i1.37593

Abstract

Literasi lingkungan perlu dilakukan secara kontinyu kepada para pelajar guna menimbulkan kepekaan dan kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan. Pandemi Covid-19 mendorong perpustakaan RI Ardi Koesoema berkreasi menyelenggarakaan ekoliterasi secara hybrid. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi profil peserta, persepsi peserta terhadap penyelenggaraan ekoliterasi secara hybrid dan jenis kendala yang dirasakan oleh peserta guna sebagai bahan peningkatan mutu penyelenggaran ekoliterasi hybrid dimasa mendatangMetode penelitian kualitatif fenonomologi diacu guna menggambarkan fenomena atau trend di bidang perilaku pemustaka. Tehnik pengumpulan data menggunakan fitur Google form dan melibatkan responden sebanyak 53 orang. Data diolah dan diukur menggunakan distribusi frekuensi dan disajikan dalam diagram bulat (pie chart) yang memuat prosentase persepsi responden. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif.Hasil  kajian  menunjukkan  bahwa  penyelenggaraan ekoliterasi hybrid berjalan aman, lancar dan tertib protokol kesehatan. Teridentifikasi  bahwa  peserta  yang  berafiliasi  sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki prosentase lebih besar dengan 43 %  jika  dibandingkan pelajar sebagai target audience ekoliterasi hybrid. Data tersebut menunjukkan terjadi penyimpangan  terhadap  target audiense  ekoliterasi hybrid yang ditujukan kepada pelajar/generasi muda. Namun kajian ini tidak menjelaskan fenomena tersebut dan sekaligus temuan tersebut menjadi keterbatasan pada studi ini. Selanjutnya, ekoliterasi hybrid telah memenuhi harapan dan kebutuhan informasi peserta sehingga peserta menunjukkan respon positif. Namun kurangnya publikasi merupakan keluhan terbesar bagi peserta ekoliterasi hybrid. Hal tersebut diduga bahwa panitia pelaksananya belum mengoptimalkan strategi diseminasi berupa notifikasi/pengingat acara kepada calon peserta potensial ekoliterasi hybrid.  Direkomendasikan bahwa diperlukan perencanaan matang dalam pemetaan target audience dan strategi diseminasi dan diperlukan penyusunan program berorientasi kepada minat dan karakter target audience guna menjamin efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan event hybrid lainnya
Persepsi Peneliti Terhadap Koleksi Perpustakaan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang Rattahpinnusa Haresariu Handisa
Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 27, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpp.v27n1.2018.p30-36

Abstract

Minat peneliti untuk memanfaatkan koleksi Perpustakaan Cendana pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang masih rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persepsi peneliti terhadap relevansi koleksi perpustakaan dengan kegiatan penelitian, ketersediaan dan kemutahiran koleksi, serta faktor penghambat pengembangan koleksi perpustakaan. Penelitian menggunakan metode studi kasus untuk menggali informasi secara mendalam mengenai persepsi peneliti terhadap koleksi perpustakaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik extreme sampling dengan melibatkan informan yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Jumlah informan sebanyak tiga orang. Data dikumpulkan melalui wawancara, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas informan mempersepsikan koleksi perpustakan cukup relevan dengan kegiatan penelitian. Namun, koleksi perpustakaan belum ideal, khususnya ketersediaan dan kemutakhiran koleksi. Mereka juga mempersepsikan faktor luar seperti keterbatasan pendanaan, fasilitas, dan akses penghambat perpustakaan dalam mengembangkan koleksi yang ideal. Penelitian ini merekomendasikan Perpustakaan Cendana untuk (1) menyusun kebijakan pengembangan koleksi sebagai dasar pengembangan koleksi yang berorientasi kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan aspek relevansi, ketersediaan, dan kemutakhiran; (2)menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain dalam rangka meningkatkan ketersediaan dan kemutakhiran koleksi melalui silang layan dan konsorsium.
STUDI KOMPARATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI ELEKTRONIK PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI Handisa, Rattahpinnusa Haresariu
LIBRIA Vol 16, No 1 (2024): LIBRIA: LIBRARY OF UIN AR-RANIRY
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/24751

Abstract

Abstract Most university libraries do not yet have an electronic collection development policy document. Ideally, key aspects of collection development need to be included to ensure the effectiveness and efficiency of procurement of electronic information resources. The aim of this study is to compare the two electronic collection development policies of two leading university libraries in Australia, namely the University of Queensland Library (PUQ) and the University of Melbourne Library (PUM) in order to identify the key elements of these collection development policies. The research results show that PUM has a more comprehensive electronic collection development policy because the document includes fundamental elements, namely: objectives, policy rationale, scope, statements of authority, responsibilities and technical criteria. In contrast, the electronic collection development policy at PUQ excludes core elements, such as: mission statement, general statement, narrative statement and policy review. It is recommended that electronic collection development policies in university libraries should include fundamental elements, namely: introduction, general statement, mission statement, general statement, narrative statement and policy review. The existence of an electronic collection development policy document is a form of the library's commitment to adapting. with the digital ecosystem. Keywords: development policy, electronic collections, comparison, e- preferred policy, ebook, born digital, ejournal Abstrak Sebagian besar perpustakaan perguruan tinggi belum memiliki dokumen kebijakan pengembangan koleksi elektronik. Idealnya, aspek-aspek kunci dari pengembangan koleksi perlu dicantumkan guna menjamin efektivitas dan efisiensi pengadaan sumber informasi elektronik. Studi ini bertujuan adalah membandingkan dua kebijakan pengembangan koleksi elektronik dua perpustakaaan universitas terkemuka di Australia, yakni Perpustakaan Universitas Queensland (PUQ) dan Perpustakaan Universitas Melbourne (PUM) guna mengidentifikasi elemen kunci dari kebijakan pengembangan koleksi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUM memiliki kebijakan pengembangan koleksi elektronik yang lebih komprehensif karena dokumennya mencakup unsur-unsur fundamental, yaitu: tujuan, kebijakan dasar pemikiran, cakupan, pernyataan otoritas, tanggung jawab dan kriteria teknis. Sebaliknya, kebijakan pengembangan koleksi elektronik di PUQ mengecualikan unsur-unsur inti, seperti: pernyataan misi, pernyataan umum, pernyataan naratif dan review kebijakan. Direkomedasikan bahwa Kebijakan pengembangan koleksi elektronik pada perpustakaan perguruan tinggi seyogyanya mencakup unsur-unsur fundamental, yaitu: pendahuluan, pernyataan umum, pernyataan misi, pernyataan umum, pernyataan naratif dan review kebijakan.Keberadaan dokumen kebijakan pengembangan koleksi elektronik merupakan wujud komitmen perpustakaan perpustakaan perguruan tinggi beradaptasi dengan ekosistem digital. Kata kunci : kebijakan pengembangan, koleksi elektronik, komparasi, e-preferred policy, ebook, born digital,ejournal
Studi Litelatur Tantangan Perpustakaan dalam Pelestarian Koleksi Digitaldi Litelatur Tantangan Perpustakaan dalam Pelestarian Koleksi Digital Handisa, Rattahpinnusa Haresariu
LIBRIA Vol 12, No 1 (2020): LIBRIA: LIBRARY OF UIN AR-RANIRY
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/7682

Abstract

Perkembangan teknologi informasi yang pesat mendorong terjadinya ledakan informasi. Beragam jenis konten digital diproduksi dengan mudah berkat bantuan kecanggihan teknologi. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola informasi turut beradaptasi dengan fenomena disrupsi informasi tersebut dengan pengembangan koleksi digital dan pelestarian digital. Namun karakteristik konten digital yang unik memerlukan penangangan khusus dalam pelestariannya. Mempertimbangkan kompleksitas penanganan konten digital diperpustakan maka artikel ilmiah ini bertujuan mendiskusikan tantangan dalam pelestarian digital dan membahasnya secara terperinci berdasarkan sifat teknis, manajerial dan legal dalam perspektif global maupun regional. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang berfungsi menggambarkan suatu pola atau fenomena pada kajian keilmuan yang spesifik dengan teknik pengumpulan data berupa studi litelatur yang dianalisis secara deskriptif.Hasil studi litelatur mengidentifikasi setidaknya tiga tantangan, yakni: 1.) Tantangan teknis berupa keusangan teknologi (technological obselete) yang memperpendek usia pakai perangkat penyimpanan media digital; 2.) Tantangan organisasi berupa keterbatasan anggaran dan minimnya ketersediaan tenaga ahli dibidang pelestarian digital menyebabkan pelestarian digital bukanlah merupakan program prioritas bagi perpustakaan; 3.) Tantangan hukum berupa rumitnya penyelesaian hokum atas pelanggaran hak cipta atas konten digital berstatus orphan books disebabkan oleh kesulitan melacak keberadaan pemilik hak cipta atau pewaris orphan books. Simpulan utama dari studi ini adalah perpustakaan perlu mewaspadai keusangan teknologi sebagai tantangan utama dalam program pelestarian digital sebab keusangan perangkat lunak dan keras menyebabkan hilangnya akses atas konten digital koleksi perpustakaan. Namun tantangan teknis tersebut dapat diantisipasi dengan melakukan perawatan berkala melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: perumusan kebijakan pelestarian digita, prosedur dan standard mitigasi keusangan teknologi serta perawatan teknologi secara berkala melalui back up, migrasi, konversi format digital ke format analog secara berkala, dan melakukan digital arkeologi.  Kata Kunci: pelestarian digital, keusangan teknologi, keterbatasan dana dan tenaga, pelanggaran hak cipta