Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : LIBRIA: Library of UIN Ar-Raniry

STUDI KOMPARATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI ELEKTRONIK PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI Handisa, Rattahpinnusa Haresariu
LIBRIA Vol 16, No 1 (2024): LIBRIA: LIBRARY OF UIN AR-RANIRY
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/24751

Abstract

Abstract Most university libraries do not yet have an electronic collection development policy document. Ideally, key aspects of collection development need to be included to ensure the effectiveness and efficiency of procurement of electronic information resources. The aim of this study is to compare the two electronic collection development policies of two leading university libraries in Australia, namely the University of Queensland Library (PUQ) and the University of Melbourne Library (PUM) in order to identify the key elements of these collection development policies. The research results show that PUM has a more comprehensive electronic collection development policy because the document includes fundamental elements, namely: objectives, policy rationale, scope, statements of authority, responsibilities and technical criteria. In contrast, the electronic collection development policy at PUQ excludes core elements, such as: mission statement, general statement, narrative statement and policy review. It is recommended that electronic collection development policies in university libraries should include fundamental elements, namely: introduction, general statement, mission statement, general statement, narrative statement and policy review. The existence of an electronic collection development policy document is a form of the library's commitment to adapting. with the digital ecosystem. Keywords: development policy, electronic collections, comparison, e- preferred policy, ebook, born digital, ejournal Abstrak Sebagian besar perpustakaan perguruan tinggi belum memiliki dokumen kebijakan pengembangan koleksi elektronik. Idealnya, aspek-aspek kunci dari pengembangan koleksi perlu dicantumkan guna menjamin efektivitas dan efisiensi pengadaan sumber informasi elektronik. Studi ini bertujuan adalah membandingkan dua kebijakan pengembangan koleksi elektronik dua perpustakaaan universitas terkemuka di Australia, yakni Perpustakaan Universitas Queensland (PUQ) dan Perpustakaan Universitas Melbourne (PUM) guna mengidentifikasi elemen kunci dari kebijakan pengembangan koleksi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUM memiliki kebijakan pengembangan koleksi elektronik yang lebih komprehensif karena dokumennya mencakup unsur-unsur fundamental, yaitu: tujuan, kebijakan dasar pemikiran, cakupan, pernyataan otoritas, tanggung jawab dan kriteria teknis. Sebaliknya, kebijakan pengembangan koleksi elektronik di PUQ mengecualikan unsur-unsur inti, seperti: pernyataan misi, pernyataan umum, pernyataan naratif dan review kebijakan. Direkomedasikan bahwa Kebijakan pengembangan koleksi elektronik pada perpustakaan perguruan tinggi seyogyanya mencakup unsur-unsur fundamental, yaitu: pendahuluan, pernyataan umum, pernyataan misi, pernyataan umum, pernyataan naratif dan review kebijakan.Keberadaan dokumen kebijakan pengembangan koleksi elektronik merupakan wujud komitmen perpustakaan perpustakaan perguruan tinggi beradaptasi dengan ekosistem digital. Kata kunci : kebijakan pengembangan, koleksi elektronik, komparasi, e-preferred policy, ebook, born digital,ejournal
Studi Litelatur Tantangan Perpustakaan dalam Pelestarian Koleksi Digitaldi Litelatur Tantangan Perpustakaan dalam Pelestarian Koleksi Digital Handisa, Rattahpinnusa Haresariu
LIBRIA Vol 12, No 1 (2020): LIBRIA: LIBRARY OF UIN AR-RANIRY
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/7682

Abstract

Perkembangan teknologi informasi yang pesat mendorong terjadinya ledakan informasi. Beragam jenis konten digital diproduksi dengan mudah berkat bantuan kecanggihan teknologi. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola informasi turut beradaptasi dengan fenomena disrupsi informasi tersebut dengan pengembangan koleksi digital dan pelestarian digital. Namun karakteristik konten digital yang unik memerlukan penangangan khusus dalam pelestariannya. Mempertimbangkan kompleksitas penanganan konten digital diperpustakan maka artikel ilmiah ini bertujuan mendiskusikan tantangan dalam pelestarian digital dan membahasnya secara terperinci berdasarkan sifat teknis, manajerial dan legal dalam perspektif global maupun regional. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang berfungsi menggambarkan suatu pola atau fenomena pada kajian keilmuan yang spesifik dengan teknik pengumpulan data berupa studi litelatur yang dianalisis secara deskriptif.Hasil studi litelatur mengidentifikasi setidaknya tiga tantangan, yakni: 1.) Tantangan teknis berupa keusangan teknologi (technological obselete) yang memperpendek usia pakai perangkat penyimpanan media digital; 2.) Tantangan organisasi berupa keterbatasan anggaran dan minimnya ketersediaan tenaga ahli dibidang pelestarian digital menyebabkan pelestarian digital bukanlah merupakan program prioritas bagi perpustakaan; 3.) Tantangan hukum berupa rumitnya penyelesaian hokum atas pelanggaran hak cipta atas konten digital berstatus orphan books disebabkan oleh kesulitan melacak keberadaan pemilik hak cipta atau pewaris orphan books. Simpulan utama dari studi ini adalah perpustakaan perlu mewaspadai keusangan teknologi sebagai tantangan utama dalam program pelestarian digital sebab keusangan perangkat lunak dan keras menyebabkan hilangnya akses atas konten digital koleksi perpustakaan. Namun tantangan teknis tersebut dapat diantisipasi dengan melakukan perawatan berkala melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: perumusan kebijakan pelestarian digita, prosedur dan standard mitigasi keusangan teknologi serta perawatan teknologi secara berkala melalui back up, migrasi, konversi format digital ke format analog secara berkala, dan melakukan digital arkeologi.  Kata Kunci: pelestarian digital, keusangan teknologi, keterbatasan dana dan tenaga, pelanggaran hak cipta