Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Persepsi dan Adaptasi Petani Sayuran Terhadap Perubahan Iklim di Sulawesi Selatan (Vegetable Farmers’ Perception on Adaptation to Climate Change in Lowland and Highland Areas of South Sulawesi) Adiyoga, Witono; Lukman, Liferdi
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p279-296

Abstract

Perubahan iklim di Indonesia dalam jangka menengah ke depan akan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan. Penelitian survey dilaksanakan di ekosistem dataran tinggi dan rendah Sulawesi Selatan (mencakup tiga pola musim yaitu sektor barat, peralihan, dan timur) pada bulan Juni-Agustus 2012. Pada setiap ekosistem, 110 petani dipilih secara acak, sehingga total responden adalah 220 petani sayuran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Penelitian ini diarahkan untuk mempelajari adaptasi aktual yang dilakukan pada tingkat usahatani, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kendala adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 opsi adaptasi yang ditawarkan, mayoritas responden mempersepsi 30 opsi (misalnya, penghematan penggunaan air, penggunaan varietas tahan hama penyakit, dsb.) sebagai cara adaptasi yang potensial atau relevan untuk dilaksanakan di semua pola musim. Sementara itu, opsi-opsi yang dipersepsi beragam (relevan/tidak relevan) oleh responden di pola-pola musim yang berbeda di antaranya adalah penggunaan tanaman penutup, penggunaan varietas tanaman toleran salinitas, dsb. Opsi-opsi adaptasi (misalnya, penanaman pada awal musim hujan, penerapan rotasi tanaman, dsb.) diklaim telah dilaksanakan oleh proporsi responden yang lebih tinggi secara konsisten pada semua pola musim. Opsi-opsi lainnya (misalnya, penggunaan tanaman penutup, penggunaan varietas toleran salinitas, dsb.) dipersepsi secara beragam. Mayoritas petani responden mempersepsi perlunya dukungan teknologi untuk opsi-opsi, misalnya penerapan pengolahan tanah minimum, penggunaan pestisida hayati, dsb. Sementara itu, untuk opsi-opsi lain, misalnya mencari informasi lengkap tentang perubahan iklim dan lebih giat untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu di luar pertanian, dipersepsi beragam antarpola musim. Keberagaman persepsi antarpola musim pada dasarnya menunjukkan pengaruh spesifik lokasi usahatani. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa faktor pendidikan, usia, dan luas lahan garapan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani untuk melaksanakan/tidak melaksanakan opsi adaptasi. Sementara itu, tiga faktor sikap yang pengaruhnya paling dominan adalah sikap berkaitan dengan pengaruh terhadap penurunan kualitas hidup, sikap berkaitan dengan perlunya perhatian lebih terhadap perubahan iklim, dan sikap berkaitan dengan kapasitas adaptasi petani. Sebagian besar petani secara konsisten mempersepsi tiga hal yang berdasarkan urutan kepentingannya menjadi kendala utama adaptasi, yaitu perhatian dan kebijakan pemerintah yang masih lemah, harga sarana/input produksi yang mahal, dan tidak tersedia teknologi budidaya yang dirancang untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Upaya sosialisasi/kampanye yang bersifat informatif dan edukatif perlu terus dilakukan untuk mengembangkan strategi pengelolaan risiko iklim dan meningkatkan keterampilan serta pengetahuan petani agar dapat menghadapi variabilitas dan perubahan iklim secara lebih baik.KeywordsPersepsi; Opsi adaptasi; Perubahan iklim; Sayuran; Pola musimAbstractClimate change in Indonesia in the next medium-term will become a serious threat to food security. A survey was carried out in lowland and highland vegetable production centers of South Sulawesi (covering three season patterns: west, transition, and east) in June-August 2012. In each eco-system, 110 respondents were randomly selected and in total 220 respondents participated in the survey. Data were gathered through interviews by using a structured questionnaire. The study was aimed at assessing actual adaptation to climate change at the farmers’ level and identifying constraining factors to the adoption of adaptation options. Results shows that 30 out of 36 listed options, such as conserving the use of water, the use of pest/disease resistant varieties, etc., are potential/relevant adaptation options as perceived by most respondents. Meanwhile, in different season pattern, farmers’ perceptions vary regarding for instance the use of cover crop, the use of varieties tolerant to salinity, etc. Most farmers in all season patterns claim that they have implemented some adaptation options, such as planting early in the beginning of rainy season, the use of crop rotation system, etc. However, farmers’ perceptions vary regarding the use of cover crop, the use of varieties tolerant to salinity, etc. Majority of respondents perceive the need of technological supports for some options, such as the use of minimum tillage, the use of natural or biopesticide, etc. In the meantime, among different season patterns, farmers’ perceptions vary regarding the option of looking for complete climate change information, looking for off-farm part-time jobs, etc. Farmers’ perceptions that vary are actually reflecting their response to different farm location specifity. Further analysis suggests that respondents’ education, age, and land size significantly affect farmers’ decision whether implementing a particular adaptation option or not. Three attitude factors that also show significant influence are attitude towards impact on decreasing quality of life, attitude towards the need for more attention to climate change, and attitude towards farmers’ adaptive capacity. Based on rank of importance, the three main contraints of adaptation are low attention and weak government policies regarding climate change problems, expensive price of production inputs and unavailability of specific technologies designed to adapt to climate change. Informative and educational campaign should be continuously carried out to develop climate risk management strategy and improve farmers’ skill and knowledge to better coping with climate variability and climate change.
Bioaktivitas Enam Ekstrak Tumbuhan untuk Pengendalian Hama Tungau Kuning Cabai Polyphagotarsonemus latus Banks (Acari: Tarsonemidae) di Laboratorium Hasyim, Ahsol; Setiawati, Wiwin; Marhaeni, Luluk Sutji; Lukman, Liferdi; Hudayya, Abdi
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p217-230

Abstract

(Bioactivity From Six Plants Extract to Control Chili Pepper Yellow Mites Polyphagotarsonemus latus Banks Under Laboratory Condition)Pada 3 tahun terakhir ini serangan tungau Polyphagotarsonemus latus pada berbagai jenis Capsicum di berbagai sentra produksi semakin meningkat dengan intensitas serangan di atas 30%. Dalam bidang pertanian, sekitar 15.416 ton pestisida telah digunakan untuk tujuan proteksi tanaman, yang setiap tahunnya meningkat sekitar 7%. Tindakan ini dapat mengakibatkan inefisiensi produksi dan dampak negatif terhadap hama target, ekosistem, konsumen, serta risiko residu pestisida dalam produk ekspor. Pengendalian OPT ramah lingkungan akhir-akhir ini dikembangkan dalam usaha tani cabai untuk menekan penggunaan insektisida sintetis. Pemanfaatan pestisida nabati merupakan salah satu pilihan untuk menekan serangan tungau cabai P. latus yang ramah lingkungan. Sebanyak enam jenis tanaman yang berbeda diuji aktivitasnya untuk mengendalikan tungau P. latus . Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi bioaktivitas ekstrak tanaman untuk pengendalian hama tungau kuning cabai di laboratorium. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Oktober 2015 sampai Januari 2016. Metode yang digunakan adalah metode residu pada daun (leaf disc method) modifikasi IRAC no. 4 untuk tungau dan metode dry film atau film kering untuk predator M. sexmaculatus. Data mortalitas tungau diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50 dan LT50. Mortalitas tungau yang disebabkan oleh bioakarisida tanaman dihitung pada 1, 3, 6, 12, 24, dan 72 jam setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 bioakarisida yang berasal dari ekstrak akar tuba, huni, kirinyuh, widuri, ketapang dan gamal berturut-turut adalah 286,84; 370,57; 373,03; 477,92; 525,110; dan 650,44 ppm, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan 50% tungau dari ekstrak bioakasida tanaman berturut-turut adalah kirinyuh, akar tuba, huni, widuri, ketapang, dan gamal berturut-turut adalah 9,98; 9,99; 12,65; 20,01; 26,61; dan 42,77 jam. Hasil perhitungan nilai selectivity ratio (SR) menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak tumbuhan sebagai bioakarisida yang diuji selektif terhadap predator M. sexmaculatus, hal ini disebabkan karena nilai SR <1. Kombinasi ekstrak bioakarisida tanaman selektif tersebut dengan pelepasan predator M. sexmaculatus merupakan komponen teknologi PHT yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama tungau pada tanaman cabai. Untuk memantapkan hasil penelitian diperlukan uji lanjut di lapangan.KeywordsBioakarisida; Ekstrak; Pengendalian; Tungau; Musuh alamiAbstractIn the last 3 years P. latus severity on various types of Capsicum in some central production increased with the intensity above 30%. In agriculture, around 15,416 tonnes of pesticides have been used for plant protection purposes, which annually increased about 7%. This act can resulting inefficiency of production and the negative impact on the target pest, ecosystem, consumers, and the risk of pesticide residues in exported products . In the recent years, environmentally –friendly pest management is established to reduce the use of synthetic pesticides. Utilization of botanical pesticides is one option for environmentally friendly to suppress the attack of chili mite P. latus. Plants extracts of from six plant species were screened for contact toxicity and antifeedant activities against mite, P. latus. This study aims to determine the effectiveness of some plant extracts as bioacaricide for pest mite P. latus on chili plants. The experiments were conducted at the Laboratory of Pests and Diseases, Indonesian Vegetables Research, Lembang, West Java Province from October 2015 until January 2016. A modified leaf disc method describes by IRAC no. 4 was used for mites and for dry film method for or predators of M. sexmaculatus. Mite mortality was observed at 1, 3, 6, 12, 24, and 72 hour after treatment. The mortality of mite data was analyzed using probit to determine the LC50 and LT50 values. The result shows that LC50 obtained from plant bioacaricide of tuba root, kirinyuh, huni, widuri, ketapang, and gamal were 286.84, 370.57, 373.03, 477.92, 525.110 and 650.44 ppm respectively. Whereas LT50 obtained from plant bioacariside of kirinyuh, tuba root, huni, widuri, ketapang, and gamal were 9.98, 9.99, 12.65, 20.01, 26.61, and 42.77 hours respectively. The results of the calculation of the value of selectivity ratio (SR) shows that all plant extracts tested as bioacaricide were selective against predators M. sexmaculatus due to the value of SR <1. The combination of extract bioacaricide selective with inundative release of M. sexmaculatus adult to achieve sound of IPM mite in chili pepper. A field trial is still needed to confirm result of this study.