Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

GEOLOGI SITUS GUA BATU, DESA NAPAL LICIN, KECAMATAN ULU RAWAS, KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA, PROVINSI SUMATERA SELATAN Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.24

Abstract

Gua Batu merupakan gua tebing dengan dengan ketinggian 189 meter diatas permukaan air laut. Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum dan tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi geologi yang meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sumber bahan alat litik. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei lapangan, dan interpretasi data lapangan. Situs Gua Batu dan sekitarnya terbagi atas empat satuan morfologi yaitu satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, satuan morfologi karst. Batuan penyusun adalah aluvial berumur Holosen, serpih berumur Miosen Awal, batulanau berumur Oligosen-Miosen Awal, dan batugamping berumur JuraKapur. Alat litik di Situs Gua Batu berbahan batuan chert, rijang, andesit, jasper, dan fosil kayu, bahan bakunya diperoleh dari Sungai Air Rawas. Alat litik lain yang ditemukan melimpah adalah jenis obsidian yang berlokasi di Bukit Hulu Simpang dan Bukit Legal Tinggi.
BANYU BIRU: JEJAK SUNGAI LAMA DI LAHAN BASAH Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.59

Abstract

Air Sugihan merupakan daerah rawa pasang surut yang dalam arkeologi termasuk dalam kajian arkeologi lahan basah. Daerah ini adalah suatu wilayah permukiman sejak awal-awal masa sejarah hingga abad ke-11 Masehi. Lokasi penelitian difokuskan di wilayah Banyu Biru, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Tulisan ini membahas kondisi lingkungan geologi, yang mencakup bentuk dan pola aliran serta posisi dan hubungan antara sungai lama dengan Sungai Air Sugihan. Tujuan pemetaan jejak sungai lama adalah mencari hubungan antara sungai-sungai lama dengan beberapa sungai yang masih mengalir. Rangkaian metode penelitian yang digunakan antara lain studi pustaka, survei lapangan, analisis peta, dan pemetaan jejak sungai lama. Wilayah penelitian termasuk dalam satuan morfologi dataran, dengan ketinggian 5-15 meter di atas permukaan air laut. Stadia sungai tergolong dewasa-tua, dengan pola pengeringan deranged, dan sungai periodis. Banyu Biru tersusun oleh satuan aluvial dan endapan rawa yang umumnya bersifat tufan, serta tidak mengalami gangguan struktur geologi. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sungai lama terkoneksi dengan Sungai Air Sugihan.
GEOLOGI SITUS MUARA BETUNG KECAMATAN ULU MUSI, KABUPATEN LAHAT, PROVINSI SUMATERA SELATAN Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
AMERTA Vol. 23 No. 1 (2004)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
ANALISI TEKNOLOGI TEMUAN GERABAH KUNO SITUS LABO TUA S, Arfian; Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
AMERTA Vol. 23 No. 1 (2004)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
GEOLOGI SITUS PALEOLITIK PACITAN BAGIAN TIMUR, KABUPATEN PACITAN, PROVINSI JAWA TIMUR Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
AMERTA Vol. 26 No. 1 (2008)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Lokasi Situs Paleolitik Pacitan bagian Timur terletak di Km-10 hingga Km-18 sebelah timur Kota Pacitan ke arah Kabupaten Trenggalek. Situs Paleolitik ini meliputi wilayah Sungai Kedunggamping (Sungai Padi), Sungai Ngrendeng-Tulakan, dan Sungai Lorog. Bentang alam wilayah situs ini termasuk pada satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, dan satuan morfologi karst. Ketinggian situs berada pada O - 900 meter di atas permukaan air laut. Ketiga sungai itu termasuk pada sungai berstadia Tua (old river stadium) dan Dewasa Tua (old-mature), dengan kenampakan pola pengeringan Trellis dan Rectangular. Selain itu, termasuk pada Sungai Periodis, Sungai Konsekuen, dan Sungai Subsekuen. Batuan penyusun wilayah situs adalah breksi vulkanik, konglomerat, satuan batuan beku, batu pasir, tufa, batu lempung, batu lanau, satuan batu gamping, dan endapan aluvial. Kisaran umurnya ialah dari Oligosen hingga Holosen. Struktur geologi yang melewati wilayah situs adalah Lipatan (fold) dari jenis sinklin, dan Patahan (fault) dari jenis sesar geser. Undak-undak sungai yang teramati termasuk pada undak sungai pertama yang masih berhubungan langsung dengan muka air sungai. Gangguan struktur geologi ikut mempengaruhi keletakan dan ke• beradaan undak-undak sungai itu sendiri. Alat-alat litik terdiri dari batuan chert, andesit, jasper, batugamping kersikan, fosil kayu, kalsedon, .dan batugamping. Sumber bahan baku alat-alat litik tersebut umumnya berada di alur• alur sungai dalam bentuk kerikil, kerakal, dan boulder batuan. Kata kunci: Paleolitik, Lingkungan, Sumberdaya alam   ABSTRACT. The Geology of the Paleolithic Site of the Eastern Part of Pacitan, Pacitan Regency, East Java Province. The Paleolithic Site of the Eastern Part of Pacitan is located at Km-10 to Km-18 east of the city of Pacitan to the direction of Trenggalek regency. It covers three main rivers, namely Kedunggarnping (Padi) River, Ngreodeng-Tulakan River, and Lorog River. The site has lowland, weak wavy, strong wavy, and karst morphological units. It is situated at an elevation of O - 900 m above sea level. The three rivers that flow in this area are old and old• mature stadium ones, with observable trellis and rectangular desiccated patterns. They belong to periodic, consequent, and subsequent types. The rocks that compose the area are volcanic breccia, conglomerate, ingenous rock unit, sand stone, tuff, clay stone, silt, limestone unit, and alluvial sediment, with ages that range from Oligocene up to Holocene. The geological structures that are found in this place include sincline fold and strike slip. The river terraces belong to the first, which still directly connected to the river surface. Disturbance on geological structure is one of the factors that influence the position and existence of the river terraces. Lithic tools made of chert, andesite, jasper, silicified-limestone, wood fossil, chalcedony, and limestone are found at this site. The raw materials of those tools (granule, pebbles, and boulders) are usually available along the rivers. Keywords: Paleolithic, environment, natural sources
EKSPLORASI GEOARKEOLOGI GUA-GUA KARST AMAHAI, KABUPATEN MALUKU TENGAH, PROVINSI MALUKU Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian di wilayah Amahai bertujuan untuk mengeksplorasi gua-gua hunian prasejarah, serta menindaklanjuti hasil penelitian Balai Arkeogi Ambon di Gua Tanah Merah yang termasuk wilayah administratif Desa Tamilaow, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Seram), Provinsi Maluku. Eksplorasi ini dilaksanakan di Bukit Paliya, sebuah perbukitan batugamping yang memanjang sejajar mengikuti bentuk Pulau Seram. Bentang alamnya terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, dan satuan morfologi karst. Sungai yang mengalir berstadia Sungai Dewasa-Tua (old-mature river stadium), dan kenampakan pola pengeringan dendritik, dan termasuk pada Sungai Periodik/Permanen. Berdasarkan hasil analisis petrologi, maka batuan penyusun wilayah Amahai adalah batugamping, batugamping terumbu, sekis, batusabak, dan aluvial. Eksplorasi gua-gua karst di wilayah Amahai menghasilkan sepuluh buah gua, dengan Gua Tanah Merah sebagai lokasi ekskavasi dengan membuka tiga buak kotak tespit. Pada umumnya gua- gua yang ditemukan di wilayah ini merupakan gua lorong (berbentuk luweng) dan aliran sungai bawah tanah dengan luas ruang gua yang cukup memadai, dengan faktor kelembaban serta pH yang cukup baik, namun tidak ada tanda-tanda bekas hunian manusia. Dua di antaranya (Gua Akohi dan Gua Batu Meja) merupakan gua dengan ornamen yang sangat indah serta sangat prospek untuk pengembangan pariwisata di wilayah ini. Kata Kunci: Lingkungan, Gua karst, Sumberdaya arkeologi Abstract: Geoarchaeological Exploration of Amahai Karst Caves, Central Molucca Regency, Molucca Province. The purpose of exploration in Amahai area is to reveal possible caves prehistoric habitation, as well as to follow up the result of research carried out by the Archaeological Research Office of Ambon at Tanah Merah Cave. Administratively the Tanah Merah Cave is a part of Tamilaow Village, Amahai District, Central Maluku Regency (Seram Island), in the Province of Maluku. The exploration is conducted at Paliya Hill, a limestone hilly area that form elongated along the the Seram Island. The landscape consists of the following morphological units: lowland, weak wavy land, and karts. The rivers that flow in that area show old-mature river stadium, dendritic drying pattern, and periodic/permanent rivers. Based on petrological analysis, the rock found in Amahai are limestone (reef limestone), schist, slate, and alluvial. The exploration of karst caves in Amahai area reveals the occurrence of ten caves. Excavation was carried out at Tanah Merah Cave, opened three test pits. The caves in this area are generally in form of corridors with underground rivers and quite extensive space, as well as quite good humidity and pH. However, there are no trace of human habitations. Two of the caves, Akohi and Batu Meja, have very beautiful ornaments, are might have to be developed into tourism objects. Keywords: Environment, Karst Caves, Archaeological Resource