Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN POLA MAKAN TERHADAP KEJADIAN DISPEPSIA DI WILAYAH PUSKESMAS TUTAR Sukmawati, Sukmawati; Sri Nengsi, Sri Nengsi; Arma, Arma
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 4, No 2 (2022): Peqguruang, Volume 4, No.2, November 2022
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v4i2.3337

Abstract

Dispepsia berasal dari bahasa yunani, yaitu dys- (buruk) dan peptein (pencernaan) dispepsia didevinisikan sebagai keluhan atau kumpulan gelaja (sidroma) yang terdiri dari ngeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh,.Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi makan terhadap kejadian dispepsia Di Wilayah Puskesmas Tutar, mengetahui jenis makanan terhadap kejadian dispepsia Di Wilayah Puskesmas Tutar, mengetahui jadwal makan terhadap kejadian dispepsia Di Wilayah Puskesmas Tutar, mengetahui hubungan pola makan terhadap kejadian dispepsia Di Wilayah Puskesmas Tutar.Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian survey dengan menggunakan satu pendekatan yaitu, pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan populasi sebesar 40 responden yang diambil dari keseluruhan masyarakat Di Wilayah Puskesmas Tutar. Dengan waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Desember 2021, instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji Chi-square.hasil pada penelitian menunjukkan bahwa pola makan responden Di Wilayah Puskesmas Tutar 45,0% pada kategori teratur, 55,0% pada kategori tidak teratur. Dispepsia 55,0% pada kategori dispepsia, 45,0% pada kategori tidak dispepsia. Tidak ada hubungan signifikan antara hubungan pola makan terhadap kejadian dispepsia Di Wilayah Puskesmas Tutar p value=0,087.Kesimpulan : tidak ada hubungan anatar pola makan terhadap kejadian dispepsia di Wilayah Puskesmas Tutar (p=0,087) Saran : responden diharapkan dapat mengatur waktu makannya guna untuk menghindari dispepsia akibat makannya tidak teratur. Kata kunci: pola makan, dispepsia
STUDI LITERATUR: RANCANGAN MODEL PEMBELAJARAN SIGARUANG TELLI (STARTING, CLASS INTRODUCTIONING, RESEARCHING, WRITING, EXPLAINING, EVALUATIONING) PADA PRAKTIKUM BIOLOGI Arma, Arma
BIOLOVA Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Februari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/biolova.v6i1.5360

Abstract

Pendidikan nasional memiliki tujuan untuk meningkatkan keterampilan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan kemandirian, kreatif, memiliki kemampuan kritis dan mampu mengembangkan potensi moralnya sesuai dengan tujuan sistem pendidikan nasional. Salah satu cara untuk mengembangkan konsep sistem pendidikan nasional adalah pada pembelajaran praktikum biologi. Beberapa permasalahan sering terjadi dalam proses pembelajaran dan untuk mengatasi permasalahan dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran yang berbeda. Pengembangan model pembelajaran ini mengadopsi sistem pembelajaran pada Sigaruang Telli yang ada di Luwu. Sigaruang Telli adalah cara menyelesaikan perselisihan melalui adat istiadat masyarakat Luwu. Model pembelajaran Sigaruang Telli sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran praktikum biologi, dikarenakan memiliki prosedur kerja yang bertahap dengan tujuan memperoleh hasil dari permasalahan yang diteliti, seperti pada penyelesaian konflik dalam upacara Sigaruang Telli. Tujuan pengembangan model pembelajaran Sigaruang Telli pada pembelajaran praktikum biologi yaitu untuk merumuskan sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung serta dampak instruksional dan pengiring. Metodologi yang digunakan dalam penulisan artikel yaitu studi pustaka. Model pembelajaran Sigaruang Telli merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah berbasis praktikum, berpikir kritis, dan belajar kreatif melalui sintaks Starting, Class Introductioning, Researching, Writing, Explaining, Evaluationing.Kata kunci: Model Pembelajaran Sigaruang Telli, Praktikum Biologi
Local Language Vitality in Indonesian Tourism Destinations: Tourism-Driven Language Shift and Preservation Muin, Abdul; Arma, Arma; Afif, Muhamad; Pratiwi, Herlina; Hilmiyati, Fitri; Ansori, Aan
Khazanah Sosial Vol. 8 No. 1 (2026): Khazanah Sosial
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v8i1.51178

Abstract

This study examines the development and vitality of local languages in four major tourism destinations in Indonesia—Bali, Yogyakarta, West Java, and Banten by exploring how tourism-driven dynamics contribute to language shift and reshape cultural identity. The research is motivated by the growing dominance of Indonesian and English within tourism spaces, which progressively replaces the communicative functions of local languages and weakens intergenerational transmission, particularly among younger speakers. The primary aims of this study are to map the vitality levels of local languages, identify the key drivers of language shift, and analyze community-based preservation strategies that continue to operate in each region. Employing a qualitative multi-case study design, the research draws on direct observations and in-depth interviews with 32 informants, including local community members and tourism workers. Data were analyzed using thematic content analysis to identify patterns of language use, forms of tourism interaction, and community-led preservation efforts. The findings indicate a consistent pattern across all regions: local languages remain active in domestic and ritual contexts, shift into passive use among younger generations, and become endangered in high-intensity tourism zones such as Kuta–Seminyak, Malioboro, Lembang–Pangandaran, and Anyer–Tanjung Lesung. The shift is driven by tourism communication demands, youth linguistic preferences, industry service norms, and weakening intergenerational transmission. Despite these pressures, strong preservation strategies persist within customary communities, local educational initiatives, and cultural activities. The study highlights the need for a more integrated language preservation strategy involving government policy, the tourism sector, and local communities. The originality of this research lies in its cross-regional comparative analysis that explicitly links tourism activities to the vitality of local languages in Indonesia.