Tingginya angka kecelakan dan pelanggaran lalu lintas yang melibatkan masyarakat tidak terorganisir di kota Surakarta merupakan masalah lalu lintas yang harus ditangani oleh satuan lalu lintas Polresta Surakarta. Masalah lalu lintas tersebut terjadi karena rendahnya pengetahuan dan disiplin dalam berlalu lintas di jalan raya, sehingga satuan lalu lintas Polresta Surakarta selayaknya lebih mengedepankan aspek pendidikan kepada masyarakat dengan mengoptimalkan unit Dikyasa lantas Polresta Surakarta melalui Dikmas lantas terhadap masyarakat tidak terorganisir, mencakup masyarakat tidak terorganisir yaitu seseorang yang berprofesi sebagai sopir, pedagang, petani, buruh, dan karyawan swasta dengan harapkan dapat mengatasi masalah lalu lintas yang ada di kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode evaluasi program. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan pencermatan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah interactive analysis models. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan maret 2017 di Polresta Surakarta. Teori yang digunakan adalah teori manajemen dari G.R. Terry dan Petunjuk Pelaksanaan Kapolri No.Pol: Juklak/5/V/2003 tanggal 29 Mei 2003 tentang Dikmas Lantas. Hasil yang diperoleh, bahwa pelaksanaan dikmas lantas terhadap masyarakat tidak terorganisir yang dilakukan oleh unit Dikyasa lantas Polresta Surakarta dalam pelaksanaannya masih kurang optimal akibatnya masih banyak terjadi pelanggaran lalu lintas di kota Surakarta, kemudian terdapat faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhinya. Untuk itu, penulis menyarankan agar Satuan Lalu Lintas Polresta Surakarta melakukan perbaikan pada sistem manajemen, koordinasi dengan Bagsumda dalam hal penambahan personil, dan berkoordinasi dengan pihak lain untuk melakukan trobosan baru.