Penelitian ini menyoroti budaya konsumtif penggemar K-Pop, khususnya fandom Seventeen (Carat) di Indonesia. Praktik koleksi dan perdagangan photocard yang awalnya sekadar bonus album kini berkembang menjadi komoditas bernilai tinggi. Aktivitas ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga simbolik dan sosial, mencerminkan identitas serta loyalitas penggemar. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana budaya konsumtif dalam komunitas penggemar K-Pop, yaitu penggemar Seventeen (Carat) terhadap perdagangan Photocard diĀ Indonesia?. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Konsumerisme Simbolik yang dicetuskan oleh Baudrillard, yang menekankan bahwa konsumsi modern tidak lagi didorong oleh kebutuhan fungsional, melainkan oleh nilai simbolik dan makna tanda yang melekat pada objek. Barang dikonsumsi bukan karena kegunaannya, tetapi karena status, identitas, dan citra yang direpresentasikan. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, dianalisis secara tematik untuk memahami pola konsumsi dan makna simbolik photocard dalam komunitas Carat di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya konsumtif terhadap photocard tidak sekadar bersifat ekonomi, melainkan fenomena sosial-budaya yang kompleks. Photocard berfungsi sebagai artefak simbolik yang menegaskan identitas, status, dan loyalitas penggemar, sekaligus menjadi medium pertukaran sosial berbasis kepercayaan dan interaksi komunitas. Dengan demikian, perdagangan photocard memperlihatkan bagaimana konsumsi dalam fandom K-Pop telah bergeser menjadi praktik simbolik yang membentuk jaringan sosial, hierarki internal, serta solidaritas kolektif di era digital.