Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PENGEMBANGAN ‘KAWAH WURUNG’ SEBAGAI TAPAK DESA WISATA DI DESA KALIANYAR KABUPATEN BONDOWOSO J, Juhanda
Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata Vol 1, No 1 (2018): Sadar Wisata
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/sw.v1i1.1819

Abstract

Strategi pengembangan tapak desa wisata (village tourism site) berbasis masyarakat di Kawah Wurung, yang berlokasi di Dusun Curah Macan, Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol-Ijen, Kabupaten Bondowoso, dilakukan dengan menguatkan SDM pariwisata desa (POKDARWIS), penyediaan fasilitas dasar pariwisata, dan menejemen pengelolaannya.  Dengan kekhasan dan keunikan alam bekas kawah  yang eksotis, dari deretan pegunungan dan kawah Ijen,  desa wisata Kawah Wurung mempunyai daya tarik dan pesona yang sangat besar dan kuat bagi calon wisatawan untuk berkunjung. Sampai bulan Mei 2016, jumlah wisatawan yang berkunjung, baik domestik maupun manca negara, terus mengalami grafik peningkatan signifikan, terlebih setelah sejumlah iven-iven wisata digelar secara rutin oleh Pemerintah Kabupaten  Bondowoso.  Strategi  pengembangan  tapak  desa  wisata di  Kawah  Wurung ini, adalah: 1). Menguatkan potensi tapak wisata Kawah Wurung sebagai desa wisata, untuk selanjutnya dilakukan pembenahan seluruh peta potensi yang dimilikinya sebagai landasan atau acuan pengembangan tapak wisata Kawah Wurung secara utuh di masa mendatang; 2). Mensosialisasikan kepada POKDARWIS dan masyarakat desa tentang potensi kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan/ancaman pada tapak wisata Kawah Wurung, sehingga usaha pengembangan ke depan dapat dilakukan secara benar, menyeluruh dan berkesinambungan sesuai dengan panduan. Dengan demikian, data riil dan analisis lapang atas kebutuhan kebutuhan dasar pariwisata, khususnya untuk desa wisata, penulis jabarkan secara utuh, karena hal itu sebagai prasyarat awal untuk menjadikan tapak wisata desa Kawah Wurung sebagai salah satu icon pariwisata Kabupaten Bondowoso masa depan.
MENJAGA EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA J, Juhanda
Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata Vol 2, No 1 (2019): SADAR WISATA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/sw.v2i1.1825

Abstract

Sisi terang, samar-samar, dan gelap globalisme telah dan sedang membanjiri sudut-sudut bumi manusia, yang kemudian dilabeli dengan ‘desa buana’ (global village). Konsekwensi logisnya adalah semua manusia dalam lintas budaya, ideologi, dan agama, terus menerus melakukan komunikasi secara lintas budaya pula. Budaya lokal, sebagai topik bahasan ini, secara sadar maupun tidak akan terus mengalami perubahan, baik dan buruk, seiring dengan dinamika budaya globalisme yang nyaris netral etis. Bahasa komunikasi, baik verbal maupun non-verbal merupakan alat komunikasi lintas budaya. Tujuh unsur kebudayaan oleh Koentjaraningrat akan selalu digunakan secara dinamis oleh kebudayaan lintas suku, agama, etnik, dan kepercayaan di penjuru buana ini. Penguatan dan pendidikan budaya, yakni gerakan literasi budaya, adalah suatu proses penguatan budaya lokal dalam dinamikanya dengan masyarakat di lingkup domestik maupun internasional.