Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memahami Tafsir Nuzuli Al-Qur’an Al Zahrah, Fatimah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3075

Abstract

Tulisan ini terfokus pada metode tafsir nuzuli dalam penafsiran al-Qur’an yang digunakan oleh M. Quraish Shihab dalam memahami kandungan al-Qur’an yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Baginya memahami al-Qur’an yang menyesuaikan susunan kronologis merupakan sebuah pemahaman yang membuat pembaca dapat melihat proses turunnya ayat-ayat al-Qur’an sebagai petunjuk ilahi yang diberikan pada Nabi Saw. Selain itu, metode tafsir nuzuli merupakan pemahaman yang akan menyentuh aspek historis al-Qur’an dan memberikan makna yang objektif, yang tujuannya agar sesuai dengan zaman kekinian. Dalam pemilihan surat-surat al-Qur’an, buku ini terfokus pada surat-surat pendek, yang masuk dalam perioderisasi Makkah. Di sisi lain, pemilihan suratnya hanya pada surat-surat tertentu, yang berkaitan dengan persoalan hidup beragama, bermasyarakat, dan berbangsa. Sebagaimana motivasi dan visinya dalam menafsirkan al-Qur’an agar sesuai dengan kondisi dan zaman saat ini, serta dapat dipahami oleh kaum awam. Dari itu dapat terlihat tafsir nuzuli yang digunakannya juga bernuansa adab al-ijtima’i.
PEMAKNAAN SIMBOL-SIMBOL DALAM TAHLILAN PADA TRADISI SATU SURO DI MAKAM RAJA-RAJA MATARAM KOTAGEDE-YOGYAKARTA Fatimah al Zahrah
AL-TADABBUR Vol 6, No 2 (2020): Edisi Desember 2020
Publisher : IAIN TERNATE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui mengapa tahlilan dalam tradisi malam satu Suro memiliki makna yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya tradisi malam satu Suro di makam raja-raja Mataram Kotagede Yogyakarta. Selain itu, tahlilan yang biasa diadakan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Kotagede. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan yaitu teori simbol yang ditawarkan oleh Clifford Geertz. Pelaksanaan tradisi malam satu Suro di Kotagede diwarnai dengan beberapa simbol seperti tahlilan sebagai simbol utama, pembakaran dupa, tawasul dan jenang suran. Tahlilan yang dilakukan oleh masyarakat Kotegede pada tradisi malam satu Suro, masyarakat meyakini bahwa tahlilan sebagai sebuah proses dalam memperoleh keberkahan “ngalap berkah” bagi setiap pengunjung yang hadir. Hasil penelitian mengatakan bahwa tahlilan bertujuan bertujuan untuk mendoakan arwah para leluhur khusunya bagi para raja-raja Mataram, bagi masyarakat bermakna membawa keberkahan dan keberuntungan untuk menjalankan kehidupan selanjutnya. Selanjutnya, jenang suran melambangkan beban hidup yang di-panggul (dipikul) oleh manusia, hal ini maksud bahwa menjalani kehidupan harus penuh dengan tekad dan keberanian dalam menghadapi segala resikonya. 
Respon Islam terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Kasus Operasi Plastik Mitha Mahdalena Efendi; Muhammad Alwi HS; Fatimah Al-Zahrah
Matan : Journal of Islam and Muslim Society Vol 2 No 2 (2020): Matan: Journal of Islam and Muslim Society Vol 2 (No 2) 2020
Publisher : Assosiation of Islamic Education Lecturer of Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.matan.2020.2.2.2326

Abstract

This article discusses the Islamic response, especially qv. An-Nisa / 4: 119 and Al-Bukhari's hadith in the Sahih Al-Bukhari book number Hadith 5943, on plastic surgery as a result of the development of science. This departs from the fact that the development of science influences human lifestyles, one of which is plastic surgery. From here, plastic surgery is one of the modern-contemporary issues that is often done by humans, including Muslims, so it needs attention from religious aspects. This article is a literature study, namely describing as well as analyzing sources related to research, both commentaries, the book of hadith sharia, and other sources. The result of this article is that plastic surgery may be performed if it is needed to treat and repair parts of the human body. Conversely, plastic surgery is forbidden if done only for a moment of pleasure and damage to body parts. From here, there are theological and social aspects in the Islamic proposition for plastic surgery. From the theological aspect, plastic surgery based on momentary pleasure or beauty will be among those who follow the path of Satan so that he is cursed by Allah swt. While from the social aspect, plastic surgery is carried out for the benefit of repairing and treating body parts that are defective, then the act may be carried out.
Poligami Perspektif Hermeneutika Hadis: Analisis Sosiologi Fatimah al-Zahrah
Matan : Journal of Islam and Muslim Society Vol 2 No 2 (2020): Matan: Journal of Islam and Muslim Society Vol 2 (No 2) 2020
Publisher : Assosiation of Islamic Education Lecturer of Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.matan.2020.2.2.2314

Abstract

This paper tried to explore the sociological approach in the study of Hadith about polygamy. The discourse regarding the practice of polygamy until now continued to give rise to controversy among the people. The pros and cons of the issue of polygamy have been widely discussed both in literature and social media. In the marriage law in Indonesia which allows polygamy with a number of conditions, it should lead to a reduction in the practice of polygamy. However, the lack of legal firmness and sanctions on some of these conditions makes the community not fully comply with the terms and conditions in force. The author tried to critically review the traditions about polygamy which on the one hand allows and on the other hand also prohibits polygamy. With hermeneutics and social approaches both the pros and cons of polygamy, what will be seen is no longer about the issue of whether or not polygamy is possible, but rather looking for maqashid or moral ideals from the practice of polygamy which will see the implications at this time.
KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK PERSPEKTIF AL-QUR’AN Fatimah Al Zahrah; Ibrohim Muchlis; Subaidi
GAHWA Vol. 2 No. 1 (2023): JULY-DECEMBER
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/gahwa.v2i1.415

Abstract

Artikel ini membahas pentingnya pendidikan akhlak dalam konteks pendidikan Islam, yang kini cenderung terfokus pada pencapaian material dan kecerdasan intelektual. Penelitian ini berangkat dari analisis Surat Al-Furqan ayat 63-64, yang mengandung nilai-nilai etika fundamental dalam pembinaan akhlak seorang Muslim. Ayat ini menekankan sikap rendah hati dan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengajak kita untuk merenungkan kembali tujuan utama pendidikan: menghilangkan kebodohan dan mencapai ridho Ilahi. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks Al-Qur'an dan studi pustaka untuk mendalami nilai-nilai akhlak dalam ayat tersebut serta mengaitkannya dengan literatur pendidikan Islam. Selain itu, penelitian ini menyoroti tantangan zaman modern, di mana teknologi dan urusan duniawi sering kali mengaburkan akhlak dan jati diri manusia. Dengan mengacu pada Al-Qur'an dan Hadits sebagai pedoman utama, artikel ini bertujuan untuk merumuskan konsep pendidikan akhlak yang komprehensif, yang tidak hanya memperkuat karakter individu tetapi juga membangun masyarakat yang lebih baik. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana pendidikan akhlak dapat diintegrasikan secara efektif dalam sistem pendidikan untuk membentuk kepribadian Muslim yang unggul, baik dalam aspek moral, etika, maupun ibadah.