Jantung ialah organ tubuh yang sangat penting untuk dijaga kesehatannya, karena begitu penting fungsi jantung untuk tubuh manusia. Penyakit jantung sangat sulit untuk dideteksi, sehingga menyebabkan banyak orang yang meninggal dunia secara mendadak tanpa disadari jika seseorang mengidap penyakit jantung atau terkena serangan jantung. Penyakit jantung adalah penyebab kematian nomor satu di dunia.Menurut World Health Organization (2017) jumlah kematian diperkirakan sekitar 17,9 juta orang. Meningkatnya umur harapan hidup di Indonesia akan meningkatkan penyakit degeneratif termasuk penyakit jantung koroner. RSAU dr. M Salamun Bandung memiliki jumlah kunjungan pasien penyakit jantung koroner cukup tinggi dengan rata-rata kunjungan satu bulan 131 orang. Bandura (dalam Abdullah, 2003) menjelaskan aspek-aspek yang mempengaruhi self-efficacy ialah keyakinan menghadapi situasi yang tidak menentu, keyakinan terhadap kemampuan menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif, dan melakukan tindakan, keyakinan mencapai target yang telah ditetapkan keyakinan terhadap kemampuan mengatasi masalah yang mungkin muncul dibutuhkannya keyakinan yang kuat dari dalam diri seseorang untuk dapat sembuh dari penyakit jantung koroner, walaupun pada dasarnya penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Individu yang memiliki keyakinan kemampuan diri mampu menerima penyakit yang dideritanya sehingga dapat memaknai kehidupan. Keyakinan akan kemampuan diri ini membuat individu merasa nyaman menerima keadaan dirinya saat ini, sebaliknya jika individu memiliki keyakinan diri yang rendah akan merasa cemas dan tidak dapat memaknai hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi diri dalam pengelolaan faktor risiko dan pemeliharaan fungsi kesehatan pasien penyakit jantung koroner di RSAU dr. M Salamun Bandung. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian adalah pasien penyakit jantung koroner di klinik jantung dengan sampel 57 pasien menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan responden dengan jumlah efikasi diri tinggi terbanyak pada usia >65 tahun (45,2%) dan berjenis kelamin perempuan (58,1%). Sebagian besar responden yang memiliki efikasi diri rendah adalah responden tidak bekerja (61.5%). Hampir sebagian responden yang memiliki efikasi diri tinggi adalah Klien Stable Angina (38,7%). Responden yang terbanyak yang memiliki efikasi diri rendah berada dalam rentang lamanya menderita penyakit jantung koroner 1-5 tahun (53,8%).Institusi pendidikan perlu untuk menambahkan pembelajaran mengenai efikasi diri, pelaksana keperawatan harus memperhatikan efikasi diri klien. Bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian terkait efikasi diri menurut klasifikasi penyakit, dan bagi klien penyakit jantung koroner berusaha harus meningkatkan efikasi diri untuk menunjang pemeliharaan fungsi kesehatannya. Kata Kunci : Efikasi Diri, Penyakit Jantung koroner