Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MENGEMBANGKAN KEATIVITAS ANAK USIA DINI Susanto, Abdi
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 18 No. 1 (2023): Tawshiyah Vol. 18, No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v15i1.1370

Abstract

Anak Usia Dini merupakan individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan cepat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, perlu mendapat perhatian serius dari orangtua, guru maupun pemerintah. Sehingga program pendidikan yang diselenggarakan bagi anak usia dini semestinya pendidikan yang mampu memfasilitasi, dan menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas) sehingga mampu memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan segala potensi yang ada pada diri anak agar berkembang secara optimal. oleh karena itu perlu untuk dijelaskan hal-hal yang semestinya dilakukan oleh seorang guru untuk mengembangkan kreativitas anak usia dini. Konsep hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengembangkan kecakapan kreatif anak dibutuhkan seorang guru yang memiliki karakteristik sebagai berikut: Kreatif dan menyukai tantangan, Menghargai karya anak, Menerima anak apa adanya, Motivator, Ekspresif, penuh penghayatan, dan peka pada perasaan, Pecinta seni dan keindahan, Memiliki kecintaan yang tulus terhadap anak, Memiliki ketertarikan terhadap perkembangan anak, Memiliki ketertarikan terhadap perkembangan anak, Bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki anak, Hangat dalam bersikap, Dinamis, Bersedia bermain dengan anak, Memberi kesempatan.
Lompatan Iman di Era Ketidakpastian: : Relevansi Eksistensialisme Kierkegaard terhadap Krisis Identitas di Dunia Digital Susanto, Abdi
Dekonstruksi Vol. 11 No. 04 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i04.345

Abstract

Era digital membawa perubahan besar dalam cara individu membangun dan memahami identitas mereka. Kemajuan teknologi, terutama media sosial, menciptakan krisis identitas akibat arus informasi yang berlebihan, tekanan sosial, dan kecenderungan untuk menampilkan citra ideal yang tidak selalu mencerminkan diri sejati. Søren Kierkegaard, seorang filsuf eksistensialis, menawarkan konsep "lompatan iman" sebagai solusi dalam menghadapi ketidakpastian dan keterasingan eksistensial. Artikel ini mengkaji relevansi pemikiran Kierkegaard dalam konteks krisis identitas digital, dengan menyoroti pentingnya refleksi diri, keberanian untuk mengambil keputusan tanpa jaminan kepastian, serta melepaskan ketergantungan pada validasi eksternal. Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan refleksi filosofis, tulisan ini menunjukkan bahwa lompatan iman dapat menjadi strategi bagi individu untuk menemukan otentisitas di tengah paradoks dunia digital, sehingga memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan autentik.
Philosophy of Communication in Reading Contemporary Digital Media:: Power, Post-Truth, and Ethical Challenges Susanto, Abdi
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.389

Abstract

The rapid expansion of digital media has profoundly transformed the ways human beings communicate, construct social relations, and understand reality. Media can no longer be understood merely as technical instruments for transmitting information; rather, they function as symbolic and political spaces in which meaning, power, and ideology are continuously produced and contested. This article examines contemporary digital media from the perspective of the philosophy of communication, focusing on the interrelation between media, power, and the phenomenon of post-truth in the modern public sphere. Employing a conceptual research method grounded in philosophical and critical analysis, this study engages key thinkers in communication philosophy and critical theory, including Marshall McLuhan, Jürgen Habermas, Jean Baudrillard, Michel Foucault, and Antonio Gramsci. The analysis demonstrates that digital media are fundamentally ambivalent: while they expand participation and democratize communicative practices, they simultaneously intensify algorithmic control, information fragmentation, and social polarization. The article argues that the philosophy of communication provides an indispensable normative and critical framework for developing media ethics and reimagining a more humanistic, dialogical, and just digital public sphere in the age of artificial intelligence and big data.