Bangun, Josapat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pilatus Mencuci Tangan sebagai Tanda tidak Bersalah dalam Mengadili Yesus Berdasarkan Injil dan Kisah Para Rasul Bangun, Josapat
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 9, No 2 (2024): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2024
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v9i2.234

Abstract

Pilate, the Roman governor known for "washing his hands" in the trial of Jesus, is often perceived by Christians as the official who failed to free Jesus, yielding to the demands of the crowd and Jewish religious leaders. Pilate thus emerged as a symbol of a leader who evaded responsibility. This study aims to examine Pilate's role and accountability in Jesus’ trial through a textual analysis of the four Gospels and the Acts of the Apostles. Employing a historical-theological approach, this literature analysis reveals that Pilate, despite facing intense political pressure, did not actively pursue the crucifixion of Jesus. While Roman authorities commonly persecuted Christians, Pilate’s involvement in Jesus' death cannot be solely blamed on him; early Christians neither defied Roman authority nor viewed Pilate as the direct executioner of Christ. Rather than displaying negligence, Pilate showed significant effort to release Jesus. AbstrakPilatus, gubernur Romawi yang dikenal karena "mencuci tangan" dalam kasus Yesus, sering dipandang oleh umat Kristen sebagai sosok yang gagal membebaskan Yesus dari hukuman salib, tunduk pada tuntutan massa dan pemimpin agama Yahudi. Pilatus menjadi simbol pemimpin yang menghindari tanggung jawab. Studi ini bertujuan menelaah peran dan tanggung jawab Pilatus dalam pengadilan Yesus melalui analisis teks dari keempat Injil dan Kisah Para Rasul. Metode yang digunakan adalah analisis literatur dengan pendekatan historis-teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pilatus, meski berada di bawah tekanan politik yang kuat, tidak aktif berperan dalam penyaliban Yesus. Meskipun penganiayaan oleh Romawi terhadap orang Kristen sering terjadi, Pilatus tidak dapat sepenuhnya disalahkan dalam kasus ini; umat Kristen awal tidak menentang otoritas Romawi maupun menganggap Pilatus sebagai penyalib Kristus. Pilatus bukan pemimpin yang lalai, tetapi berupaya keras membebaskan Yesus.
Di Balik Gerbang Kekayaan: Penderitaan Orang Kaya yang Tidak Berbelas kasihan dan Kebahagiaan Abadi Lazarus yang Miskin dalam Lukas 16:19-31 Bangun, Josapat; Sitepu, Nathanail
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.355

Abstract

Jewish religious leaders, despite living within a deeply religious environment and actively engaging in ritual and institutional religious practices, were not always successful in applying the teachings of the Torah and the Prophets to their social and ethical lives. This study aims to examine the religious and socio-economic realities of these leaders during the time of Jesus, with particular attention to their lack of compassion toward the poor and suffering, even as they themselves lived in wealth and luxury, as illustrated in Jesus’ parable of the rich man and Lazarus (Luke 16:19–31). Employing a qualitative research approach, this article critically reviews, analyzes, and synthesizes relevant biblical texts, theological literature, and scholarly studies. The findings indicate that Jewish religious leaders, driven by an attachment to wealth, increasingly prioritized financial gain within their leadership practices. This ethical failure emerged from a mode of religious understanding that remained largely cognitive, without meaningful integration into the affective and practical dimensions of faith. As a result, inner spiritual transformation marked by divine virtues was absent, leading to an inability to embody love and compassion in concrete social relationships. This article contributes to contemporary theological discourse by arguing that authentic spiritual transformation requires an integrated formation of belief, moral sensibility, and social responsibility, particularly in addressing both personal and structural dimensions of poverty. AbstrakPara pemimpin agama Yahudi, meskipun hidup dalam lingkungan yang sangat religius dan aktif terlibat dalam ritual dan praktik keagamaan institusional, tidak selalu berhasil menerapkan ajaran Taurat dan para Nabi dalam kehidupan sosial dan etika mereka. Studi ini bertujuan untuk meneliti realitas keagamaan dan sosial-ekonomi para pemimpin ini pada zaman Yesus, dengan perhatian khusus pada kurangnya belas kasih mereka terhadap orang miskin dan yang menderita, bahkan ketika mereka sendiri hidup dalam kekayaan dan kemewahan, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19–31). Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, artikel ini secara kritis meninjau, menganalisis, dan mensintesis teks-teks Alkitab yang relevan, literatur teologis, dan studi ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa para pemimpin agama Yahudi, yang didorong oleh keterikatan pada kekayaan, semakin memprioritaskan keuntungan finansial dalam praktik kepemimpinan mereka. Kegagalan etika ini muncul dari cara pemahaman keagamaan yang sebagian besar tetap kognitif, tanpa integrasi yang bermakna ke dalam dimensi afektif dan praktis iman. Akibatnya, transformasi spiritual batin yang ditandai dengan kebajikan ilahi tidak ada, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mewujudkan kasih dan belas kasih dalam hubungan sosial yang konkret. Artikel ini berkontribusi pada wacana teologis kontemporer dengan berargumen bahwa transformasi spiritual yang autentik membutuhkan pembentukan keyakinan, kepekaan moral, dan tanggung jawab sosial yang terintegrasi, khususnya dalam menangani dimensi pribadi dan struktural kemiskinan.