Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

COVID-19: Pespektive Kalam Dalam Takdir Antara Qadariyah Jabariyah dan Tawakal Harlis, Syukri Alfauzi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.038 KB) | DOI: 10.15548/ja.v12i1.1569

Abstract

Wabah Covid-19 berkembang begitu cepat ditengah-tengah kehidupan masyarakat dunia, kehadirannya membuat kepanikan yang begitu dahsyat, karena ancamannya yang tidak main-main, yang dapat berujung kepada kematian. Semua lini mengambil peran untuk dapat menghentikan laju perkembangan efek dari virus ini, hingga penghentian aktifitas keramaian, termasuk peribadatan di dalam rumah ibadah. Sebagian dari kalangan umat Islam,   dengan adanya kebijakan penghentian kegiatan peribadahan di rumah ibadah tersebut menganggap suatu hal yang sangat berlebihan dan menyalahi prisnsip keyakinan kepada Allah SWT, dan tidak percaya kepada takdir serta tidak mencerminkan ketwakalan sebagai seorang hamba, pada akhirnya melahirkan sikap pengabaian terhadap arahan-arahan umara dan ulil amri, dalam hal ini pemerintah dan ulama. Maka untuk memberikan titik terang dan mampu memahami perspektif ahlu sunnah wal jama’ah dalam persoalan takdir, maka keadaan ini perlu dideskripsikan, kemudian diberikan analisis konseptual terkait persoalan takdir dalam perspektif Qadariyah, Jabariyah dan konsep tawakal.Kata Kunci: Covid-19, Qadariyah, Jabariayah, Tawakal.
MEMPERKUAT PERAN MAHASISWA DALAM MENYEBARKAN MODERASI DI MEDIA SOSIAL Wijayanti, Tri Yuliana; Harlis, Syukri Alfauzi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 15, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/ja.v15i2.7453

Abstract

Along with the progress of increasingly sophisticated technological developments in the current era, social media occupies an important and vital position in conveying information to the wider community in all circles. Social media seems to have become an addiction in this era, especially for students. The openness of the younger generation, especially students, to various information on social media makes them occupy a strategic position in efforts to spread religious moderation. Using descriptive analysis research methods, researchers analyze and identify what strategies are appropriate and suitable for increasing and strengthening the role of students in spreading moderation on social media. Based on the research results, the author found that students need to receive training in analyzing hoaxes, strengthening peace building campaigns and increasing capacity.
Strengthening the Role of Youth in Promoting Religious Moderation through Social Media Wijayanti, Tri Yuliana; Harlis, Syukri Alfauzi
Mangabdi: Journal of Community Engagement in Religion, Social, and Humanities Vol 1, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/mangabdi.v1i1.13263

Abstract

With the rapid development of technology, social media has become a vital tool in disseminating information, particularly among youth. This study aims to analyze and identify effective strategies to strengthen the role of youth in spreading religious moderation through social media. Using a descriptive-analytical method, this research identifies various strategies that can be implemented by youth to become agents of religious moderation. Data were collected through interviews with youth involved in youth organizations and through content analysis of popular social media platforms such as TikTok and Instagram. The results show that youth hold a strategic role in promoting religious moderation amidst an information overload that often leads to the spread of misinformation and intolerance. Strengthening digital literacy skills, including training as gatekeepers and influencers on social media, is crucial to ensure that youth can differentiate between accurate information and misinformation while effectively promoting moderation. Additionally, peacebuilding campaigns on social media have proven to be a significant step in enhancing youth’s role. In conclusion, youth have great potential as agents of religious moderation if equipped with digital skills and a deep understanding of moderation, contributing to the reduction of conflict-inducing misinformation
Islamic Ecospirituality and Artificial Intelligence: Toward Ecodigital Awareness in Climate Change Communication Efendi, Efendi; Suratman, Junizar; Gazali, Gazali; Harlis, Syukri Alfauzi; Hadi, Rahmad Tri; Efendi, Salsa Hamidah; Muhammad Idris
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620131093

Abstract

The global environmental crisis reflects not only ecological degradation but also a moral and spiritual rupture in the human–nature relationship. While artificial intelligence (AI) enhances environmental monitoring, prediction, and communication, it remains largely technocratic and insufficient to foster transformative ecological consciousness. Conversely, eco-spirituality provides ethical depth and moral responsibility but lacks scalable mechanisms for broad societal impact. This study proposes eco-digital consciousness as an integrative framework that synthesizes AI-driven technological mediation with eco-spiritual ethical foundations. Using a conceptual qualitative design, the research combines critical discourse analysis with a multidisciplinary literature review across environmental philosophy, Islamic eco-theology, digital communication, and AI in climate governance. Findings show that AI improves cognitive accessibility and personalized engagement through real-time data and adaptive systems, while eco-spirituality enhances affective depth and ethical orientation. Their integration produces ecological narratives that are cognitively accessible, emotionally resonant, and ethically compelling, shifting environmental communication from information transmission to consciousness transformation. The study conceptualizes eco-digital consciousness across three dimensions: cognitive-digital awareness, affective-spiritual internalization, and ethical-behavioral transformation. It also identifies key shifts in green campaigns, from mass communication to personalization, from awareness to transformation, and from nudging to ethical commitment. Despite AI’s potential, its ethical limitations require eco-spirituality as normative guidance. This framework offers a holistic paradigm for advancing environmental communication and sustainability. [Krisis lingkungan global tidak hanya mencerminkan degradasi ekologis, tetapi juga menunjukkan keretakan moral dan spiritual dalam hubungan manusia dengan alam. Meskipun kecerdasan buatan (AI) meningkatkan pemantauan, prediksi, dan komunikasi lingkungan, pendekatannya masih bersifat teknokratis dan belum mampu mendorong kesadaran ekologis yang transformatif. Sebaliknya, ekospiritualitas memberikan kedalaman etis dan tanggung jawab moral, namun belum memiliki mekanisme yang skalabel untuk menjangkau masyarakat luas. Penelitian ini mengajukan eco-digital consciousness sebagai kerangka integratif yang mensintesis mediasi teknologi berbasis AI dengan fondasi etika ekospiritualitas. Dengan pendekatan kualitatif konseptual, penelitian ini menggabungkan analisis wacana kritis dan tinjauan pustaka multidisipliner yang mencakup filsafat lingkungan, ekoteologi Islam, komunikasi digital, serta AI dalam tata kelola iklim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI meningkatkan aksesibilitas kognitif dan keterlibatan personal melalui data real-time dan sistem adaptif, sementara ekospiritualitas memperkuat kedalaman afektif dan orientasi etis. Integrasi keduanya menghasilkan narasi ekologis yang mudah dipahami, beresonansi secara emosional, dan kuat secara etis, sehingga menggeser komunikasi lingkungan dari penyampaian informasi menuju transformasi kesadaran. Konsep ini mencakup tiga dimensi: kesadaran kognitif-digital, internalisasi afektif-spiritual, dan transformasi etis-perilaku. Meskipun AI memiliki keterbatasan etis, ekospiritualitas berperan sebagai panduan normatif. Kerangka ini menawarkan paradigma holistik bagi komunikasi lingkungan dan keberlanjutan.]