Abstrak: Di Indonesia, kisah Sodom dalam Kejadian 19:1-19 selalu dijadikan legitimasi untuk menolak eksistensi homoseksual, yang berujung pada diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok homoseksual. Berbagai wacana tafsir yang dikembangkan oleh para ahli tafsir terbagi menjadi dua kelompok besar dalam melihat penghukuman kota Sodom: (1) kelompok yang kontra homoseksual melihatnya sebagai hukuman atas dosa homoseksualitas dan (2) kelompok yang pro-homoseksual mengatakan karena pelanggaran nilai hospitalitas. Tulisan ini mencoba untuk memperluas wacana tafsir yang sudah ada tanpa menafikan tafsiran-tafsiran terdahulu dengan melakukan penelitian menggunakan metode Intercultural Hermeneutics dari Hans de Wit. Penelitian kualitatif dilakukan dengan focus group discussion di beberapa kelompok pembaca awam, penelitian menemukan bahwa isu patriarki juga bermain dalam persoalan penghukuman kisah Sodom. Abstract: It is profoundly known that in Indonesia, Genesis 19:1-19 is used to legitimate the movement against homosexual, to discriminate and abuse them. For years, scholars have shaped two different major perspectives in interpreting the passage as a form of God's punishment towards Sodom. One take side against homosexuals and conclude that the passage speaks about God’s punishment of homosexuality since it is counted as sin while the others take side on homosexuals and agreed that the passage was merely a violation of hospitality. This article expands the aforementioned discourse and broaden the horizon by exploring a new thought based on qualitative research with an intercultural hermeneutics approach developed by Hans de Wit. Along with such an approach, the focus group discussion with ordinary readers resulted that the problem mentioned in Genesis 19 is a matter of patriarchy issues.