Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE FALSE NARRATIVE OF SETTLER COLONIALISM PORTRAYED IN ISRAEL’S CHILDREN BOOK Santhi, Indah Mustika
Journal of Language and Literature Vol 13, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jll.2025.v13i1.14371

Abstract

The false narrative of settler colonialism is a form of colonial narrative through literacy media carried out to be able to control an area and eliminate the identity of the indigenous population of a community. This study aims to dismantle the false narrative contained in one of the Israeli children's story books entitled "Alon and Lebanon". The theoretical basis used in this study is the Critical Discourse Analysis Theory by Teun A. Van Dijk (2001), this theory offers two concepts of analysis levels, namely microlevel analysis and macrolevel analysis. The supporting theories used in this study are Marcel Danesi's Narrative Theory (2004) and Evelyn Nakana Glenn's Settler Colonialism Theory (2014). The study was conducted using qualitative methods. The results of the study show that in the Israeli children's story book entitled "Alon and Lebanon" two types of false narratives were found, namely absurd narrative and deceptive narrative.
TINDAK PENGHINAAN TERHADAP KORBAN KEJAHATAN LINGKUNGAN DI GAZA DALAM IKLAN ZARA Santhi, Indah Mustika
Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/mkm.2024.v8i2.14282

Abstract

Tindak penghinaan merupakan salah satu bentuk kejahatan dalam kategori tindak pidana hukum berdasarkan subjek hukum dan objek hukum. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar tanda dan mitos yang tersembunyi di balik kontroversi kampanye iklan ZARA: Atelier. Iklan ZARA Atelier membuktikan bahwa komunikasi visual dalam iklan tidak pernah bersifat netral, melainkan sarat dengan potensi tafsir yang dipengaruhi konteks sosial, budaya, dan politik. Secara semiotik, tanda-tanda visual yang dimaksudkan sebagai ekspresi artistik justru dimaknai publik sebagai representasi penderitaan, kematian, dan kehancuran akibat konflik Gaza. Pergeseran makna ini memperlihatkan ketidakstabilan relasi penanda–petanda (Saussure), di mana interpretasi publik lebih dominan dibandingkan niat kreator. Dari perspektif etika komunikasi, iklan ini melanggar prinsip penghormatan terhadap martabat manusia dan tanggung jawab sosial karena menampilkan simbol-simbol yang menyinggung trauma kolektif suatu bangsa. Dari sisi hukum, iklan ini dapat dipersepsikan sebagai bentuk penghinaan terhadap objek nyawa, tubuh, kebebasan, dan perasaan manusia, yang berarti berimplikasi pada pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan universal. Bahkan, dari perspektif keadilan lingkungan dan ekologis, iklan tersebut menambah dimensi reviktimisasi simbolik, karena memanfaatkan representasi kehancuran ruang hidup dan penderitaan manusia sebagai komoditas estetika pemasaran. Hal ini artinya bahwa pentingnya kepekaan kultural, historis, dan etis dalam periklanan global. Kegagalan memahami sensitivitas audiens tidak hanya membuat sebuah iklan kontroversial, tetapi juga problematis secara moral, etis, dan hukum. Iklan semacam ini memperlihatkan bahwa praktik komunikasi visual yang mengabaikan konteks sosial-politik berisiko menimbulkan dampak ideologis, reviktimisasi, dan keretakan kepercayaan publik terhadap merek.