Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peta Batimetri Perairan Situ Gede, Cilala dan Salabenda di Kabupaten Bogor Panggabean, Grin Tommy; Wulandari, Dwi Yuni Wulandari; Zulmi, Reza; Sulaiman, Goran
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5054

Abstract

Keberadaan situ memiliki peran ekologis dan hidrologis yang penting, di antaranya sebagai penyimpan air hujan, pengendali banjir lokal, sumber air untuk irigasi, habitat biota air tawar, serta penunjang keanekaragaman hayati. Batimetri merupakan ilmu yang mempelajari topografi dasar perairan, baik perairan laut maupun perairan darat seperti danau, waduk, dan sungai. Dalam konteks perairan darat di Indonesia terkhusus di perairan situ di Kabupaten Bogor belum banyak yang memuat informasi peta batimetri situ. Studi batimetri ini memiliki peran penting untuk memahami bentuk dasar perairan, volume air, serta distribusi kedalaman yang memengaruhi sirkulasi air, sebaran organisme, dan proses ekologis lainnya. Teknik interpolasi menggunakan metode Kriging pada ArcGIS 10.8, diperoleh gambaran kontur kedalaman yang jelas, dengan distribusi titik pengukuran yang berbeda pada tiap situ, yaitu 377 titik di Situ Cilala, 1032 titik di Situ Gede, dan 107 titik di Situ Salabenda. Situ Cilala memiliki luas perairan terbesar (108.697,56 m²) dengan kedalaman maksimum ±5 meter, terutama pada bagian utara dan tengah situ. Situ Gede, dengan luas 59.222,20 m², memiliki kedalaman maksimum ±2 meter yang terkonsentrasi di bagian tengah. Kedangkalan pada bagian selatan (kurang dari 1 meter). Sementara itu, Situ Salabenda memiliki luas terkecil (32.291,00 m²) dengan kedalaman maksimum ±4 meter di tengah danau. Secara umum, pola kedalaman ketiga situ memperlihatkan bahwa zona terdalam cenderung berada di tengah atau utara perairan, sedangkan zona dangkal berada di bagian selatan.
Estimation of phytoplankton carbon content in Jatigede Reservoir, Sumedang, West Java Panggabean, Grin Tommy; Pratiwi, Niken Tunjung Murti; Hariyadi, Sigid; Ayu, Inna Puspa; Iswantari, Aliati; Wulandari, Dwi Yuni; Zulmi, Reza
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.414-422

Abstract

Waduk Jatigede merupakan perairan daratan tergenang yang terbentuk dari pembendungan sungai Cimanuk. Waduk Jatigede, sebagaimana waduk umunnya, secara horizontal terbagi atas tiga wilayah, yaitu riverin, transisi, dan lakustrin. Perbedaan karakteristik setiap zona juga berdampak pada komposisi dan komunitas fitoplankton, status trofik, dan kandungan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengalkulasi seberapa besar kandungan karbon pada fitoplankton di perairan Waduk Jatigede pada setiap zona dengan komposisi dan komunitas fitoplankton pada status trofik tertentu. Stasiun penelitian dipilih menggunakan purposive sampling dengan pemilihan stasiun berdasarkan zona dalam waduk, yaitu riverin, transisi, dan lakustrin. Analisis status trofik dan kandungan karbon digunakan untuk mengetahui kondisi dan keberadaan karbon di Waduk Jatiged. Status trofik Waduk Jatigede berdasarkan Indeks Nygaard dan TSI (Tropic State Index) dikategorikan ke dalam tingkat kesuburan eutrofik. Jenis-jenis dari Kelas Cyanophyceae memiliki kelimpahan tertinggi, tetapi kandungan karbon tertinggi berada di kelas Dinophyceae. Zonasi riverin, transisi, dan lakustrin memiliki status kesuburan yang sama, tetapi memiliki komposisi dan komunitas fitoplankton yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kandungan karbon fitoplankton relatif tinggi di zona riverin dan lakustrin, dan rendah di zona transisi.