Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KINERJA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN MINAHASA DALAM PENERTIBAN PEDAGANG KAKI LIMA Runtu, Veronica A.
JURNAL POLITICO Vol 10, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKehadiran Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di tempat yang bukan peruntukannya, selalu menimbulkan permasalahan tata kota dan gangguan ketertiban umum. Oleh karena itu Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL PP) merupakan unsur pendukung tugas pemerintah kabupaten dalam mengamankan dan melaksanakan kebijakan pemerintah daerah yang bersifat khusus dibidang ketentraman dan ketertiban umum. Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Minahasa dalam melakukan penertiban PKL. Dengan menggunakan metode kualitatif, kinerja SATPOL PP akan dikaji dengan menggunakan beberapa teori kinerja dari Agus Dwiyanto (2008:45) yang mengatakan bahwa untuk mengukur kinerja dapat dilakukan dengan melihat bagaimana produktifitas kerja, daya tanggap (responsivitas), dan akuntabilitas publik. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Kemampuan aparat SATPOL PP dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya telah sesuai dengan standar operasional prosedur, meskipun ada beberapa yang mengatakan masih ada tebang pilih dalam penertiban PKL, hampir setiap hari ada petugas yang datang untuk memberikan peringatan dan penertiban bagi PKL yang melanggar aturan, akan tetapi setelah penertiban selesai dilakukan masih ada PKL yang kembali berjualan. SATPOL PP selalu siap menerima keluhan dan laporan dari masyarakat kemudian langsung menilai dan menindaki. Kata Kunci: Kinerja, Satuan Polisi Pamong Praja, Pedagang Kaki Lima  ABSTRACTThe presence of street vendors (PKL) in places that are not their designation, always creates urban planning problems and disturbances of public order. Therefore, the Civil Service Police Unit (SATPOL PP) is an element supporting the task of the district government in securing and implementing local government policies that are specific in the field of peace and public order. This research was conducted to find out how the performance of the Minahasa District Civil Service Police Unit in controlling street vendors. By using qualitative methods, the performance of SATPOL PP will be studied using several performance theories from Agus Dwiyanto (2008: 45) which states that to measure performance can be done by looking at how work productivity, responsiveness (responsiveness), and public accountability. From the results of the research it was found that the ability of the SATPOL PP apparatus in carrying out their main duties and functions was in accordance with standard operating procedures, although there were some who said there was still selective cutting in controlling street vendors, almost every day officers came to give warnings and control for street vendors who violated the rules, but after the control was completed there were still street vendors who returned to selling. SATPOL PP is always ready to receive complaints and reports from the public and then immediately assesses and takes action. Keywords: Performance, Civil Service Police Unit, Street Vendors
Peran Aparat Pengawas Internal Pemerintah Dalam Pelaksanaan Pengawasan Studi Kasus Di Inspektorat Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Runtu, Veronica A.; Mustafa, Delly; Juharni, Juharni
Paradigma Journal of Administration Vol. 3 No. 2 (2025): Paradigma Journal of Administration, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/pja.v3i2.7650

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dalam pelaksanaan pengawasan di Inspektorat Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas kinerja pengawasan. Permasalahan utama yang melatarbelakangi penelitian ini meliputi keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM), penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang belum optimal, serta lemahnya sinergi dan koordinasi antara APIP dan auditi dalam proses pemeriksaan maupun tindak lanjut temuan audit. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumentasi terhadap kebijakan, pedoman teknis, dan laporan pengawasan. Teknik analisis data mengikuti alur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa APIP memiliki kontribusi penting dalam meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta mendorong pelaksanaan program pengawasan berbasis risiko. Namun, efektivitas peran tersebut masih terkendala oleh rendahnya kompetensi SDM, minimnya pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem pelaporan dan monitoring, serta keterbatasan anggaran operasional. Selain itu, masih ditemukan resistensi dari pihak auditi terkait transparansi dan penerimaan rekomendasi audit. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa optimalisasi peran APIP memerlukan reformasi internal yang mencakup peningkatan kapasitas SDM berbasis kompetensi, penguatan kolaborasi dengan auditi, digitalisasi sistem pengawasan, serta dukungan anggaran yang memadai untuk menciptakan fungsi pengawasan yang lebih efektif, efisien, dan akuntabel. This study aims to examine the role of the Government Internal Supervisory Apparatus (APIP) in the monitoring process at the Regional Inspectorate of Bolaang Mongondow Regency, and to identify key factors influencing APIP performance. The study is motivated by persistent challenges, including limited human resource capacity, suboptimal implementation of the Government Internal Control System (SPIP), and insufficient collaboration and coordination between APIP and auditees during audit procedures and follow-up actions. A qualitative research approach with a descriptive design was employed. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document analysis involving policies, audit guidelines, and monitoring reports. Data analysis followed the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, using a systematic interpretive approach. The findings indicate that APIP plays a strategic role in enhancing accountability of regional financial management, strengthening governance practices, and promoting risk-based internal oversight. However, APIP's effectiveness remains constrained by limited staff competence, inadequate utilization of information technology, and insufficient operational budgeting. Moreover, auditees' resistance to transparency and audit recommendations continues to hinder oversight outcomes. The study concludes that strengthening APIP performance requires internal reforms, including competency-based human resource development, improved collaboration with auditees, digital integration into supervisory systems, and adequate funding. These efforts are essential to ensure a more effective, efficient, and accountable internal oversight mechanism within regional government institutions.