This Author published in this journals
All Journal BASASTRA
Sasmita, Aprillia Ratna
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN "PELAJARAN MENGARANG" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA MELALUI PENDEKATAN SEMIOTIKA PIERCE Sasmita, Aprillia Ratna
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 9, No 1 (2021): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v9i1.47282

Abstract

Sebagai sebuah respon yang menginterpretasikan kepekaan pengarang terhadap berbagai fenomena di sekitarnya, karya sastra hadir dengan berbagai muatan kritik, nilai, dan norma. Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma merupakan salah satu karya sastra yang hadir dengan muatan nilai-nilai dan kritik sosial untuk merespons realitas kehidupan lain masyarakat marjinal ibukota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kritik sosial pada Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma dengan menggunakan pendekatan semiotika tanda Pierce pada objek trikotomi relasi (makna) berupa ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi (studi pustaka). Metode pengumpulan data pada penelitian ini meliputi kegiatan membaca, mengidentifikasi, mencatat, dan menafsirkan data dengan teknik analisis data deskriptif kualitatif berupa studi pustaka (analisis isi). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kritik sosial yang dihadirkan pengarang melalui Cerpen Pelajaran Mengarang, ditinjau dari pendekatan semiotika Pierce mengenai tanda, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Kritik sosial yang ditemukan antara lain: (1) kesalahan paradigma masyarakat tentang perkotaan; (2) status sosial pada masyarakat yang termarjinalkan bukanlah menjadi prioritas penting; dan (3) lingkungan sosial memiliki berbagai dampak kehidupan individu tersebut melekat pada karakter, tingkah laku, konflik batin, bahkan satuan bahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen.