The COVID-19 pandemic that occurred in Indonesia has made the Government take the policy of implementing online learning from home to replace conventional learning that has been carried out face-to-face. This online learning policy certainly has an impact on the effectiveness of learning if it has not been followed by the readiness of schools, educators, and students to carry out online learning. This study aims to see how far the effectiveness of online learning is seen from the perceptions of students at the Tahasak Danum Pambelum Palangkaraya Pastoral High School, most of whom come from families with poor economic conditions and live far from the provincial capital. This study uses a quantitative descriptive method. The technique of collecting data is an online survey method using a questionnaire instrument via google form. The results of the study indicate that online learning that is carried out is sufficient to replace face-to-face learning, but when viewed from the effectiveness, online learning has not been able to achieve learning objectives. The unpreparedness of students and lecturers, both in terms of the ability to use technology and the availability of adequate learning facilities, poor internet network connections at home, costs, and the inability of students and lecturers to adapt to new learning methods to be able to provide virtual conducive classroom conditions. factors that make online learning has not been effectively implemented. This is the reason they prefer face-to-face learning to be applied again when the covid-19 pandemic ends Pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia telah membuat Pemerintah mengambil kebijakan menerapkan pembelajaran secara daring dari rumah untuk menggantikan pembelajaran konvensional yang selama ini dilakukan secara tatap muka. Kebijakan pembelajaran daring ini tentu berdampak pada efektivitas pembelajaran apabila belum diikuti oleh kesiapan sekolah, pendidik, dan peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana efektivitas pembelajaran daring dilihat dari persepsi mahasiswa pada Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Palangkaraya, yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu dan tinggal jauh dari ibukota Provinsi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan metode survei secara online menggunakan instrumen kuisioner melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran daring yang dilaksanakan memang cukup dapat menggantikan pembelajaran tatap muka, namun apabila dilihat dari efektivitas, pembelajaran daring belum mampu membuat tujuan pembelajaran tercapai. Ketidaksiapan mahasiswa dan dosen baik dari sisi kemampuan menggunakan teknologi maupun ketersediaan sarana pembelajaran yang memadai, koneksi jaringan internet yang buruk di tempat tinggal, biaya, dan belum mampunya mahasiswa serta dosen beradaptasi dengan metode pembelajaran yang baru untuk dapat meghadirkan kondisi kelas yang kondusif secara virtual menjadi faktor yang membuat pembelajaran daring belum efektif dilaksanakan. Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk lebih memilih pembelajaran tatap muka kembali diterapkan apabila pandemi covid-19 berakhir