Ambarnuari, Mery
UHN I Gusti Bagus Sugriwa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Yoga Sebagai Sarana Menuju Tuhan Yang Advaita Ambarnuari, Mery; Widyawati, Anak Agung Ayu Alit
JURNAL YOGA DAN KESEHATAN Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/jyk.v4i1.2022

Abstract

Yoga is becoming an increasingly global activity. This worldwide yoga is only for hatha yoga, not accompanied by the well-known advanced stages of hatha yoga, namely Raja yoga. The actually, Yoga teach to connect ātman and paramātman . This goal can be achieved if humans undergo the stages of yoga as a whole so that the atman who is affected by virtual nature can be purified again.Maha Rsi Pātañjali was the first people to give an explanation of the yoga system in the Yoga Sutras and there are eight stages which are called astangga yoga. Furthermore, yoga teachings are also contained in tattwa texts, including: Lontar Text of Tattwa Jñāna (prayogasaṅdhi);The lontar text of Wrhaspati Tattwa (ṣaḍanga yoga); Lontar text of Jñānasiddhânta (ṣaḍ-aṅga-yoga). Tattwa texts contain teachings about yoga because in the tattwa teachings there are the concepts of cetana and acetana. Putting off acetana leads to cetana with yoga as the path. The teachings of yoga whose aim is to connect and purify the ātman to paramātman  are related to the advaita or monistic concept of divinity, because the paramātman  that the ātman  will aim at in yoga is of course the monistic paramātman  which believes that everything is God and all the differences that exist are mere delusion.
Advaita Vedanta dalam Teks Śvetāśvatara Upaniṣad Ambarnuari, Mery; Harsananda, Hari
Sanjiwani: Jurnal Filsafat Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I GUsti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/sjf.v12i2.2557

Abstract

Kitab suci merupakan jalan untuk mempelajari ajaran dari suatu agama. Agama Hindu memiliki kitab suci yang disebut dengan Veda, Veda disini bukan merujuk pada sebuah kitab, namun Veda terdiri dari banyak kitab yang sudah dikelompokkan atau sudah dikodifikasikan. Munculnya fenomena konflik masyarakat Hindu Bali dengan aliran sampradaya mewajibkan kita untuk menggali kembali sistem filsafat yang ada dalam agama Hindu. Istilah Dvaita, Visistadvaita,  dan Advaita, menjadi istilah-istilah yang dikaji lebih mendalam lagi untuk menganalisis aliran yang sesuai dengan filsafat-filsafat tersebut. Åšvetāśvatara Upaniá¹£ad merupakan salah satu kitab suci yang akan dibahas ajarannya dalam tulisan ini. Paham advaita Vedanta menjiwai Upaniá¹£ad ini, segala sesuatu yang ada merupakan Tuhan, sedangkan yang lainnya bersifat maya. Adapun paham panteisme dan monisme yang ada secara bersamaan dalam Åšvetāśvatara Upaniá¹£ad. Panteisme berkaitan dengan imanensi sedangkan monisme berkaitan dengan transendensi. Hal ini menunjukkan ajaran dalam Åšvetāśvatara Upaniá¹£ad erat kaitannya dengan ajaran-ajaran tattwa dalam teks lontar yang ada di Bali, salah satunya yaitu lontar Tattwa Jnana yang dimana memiliki konsep yang serupa dengan yang ada dalam Åšvetāśvatara Upaniá¹£ad. Yoga merupakan sarana untuk memurnikan sang atman agar dapat bersatu kembali dengan brahman.Â